Sabtu, 25 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 25 Mei 2013 | 18:07 WIB
Badriyanto
Penerus Seni Rakyat Wayang Suket
Selasa, 12 Juni 2012 | 00:50 WIB
|
Share:

KOMPAS/GREGORIUS MAGNUS FINESSO
Badriyanto

Gregorius Magnus Finesso

Kemasyhuran wayang rumput Mbah Gepuk dari pelosok Purbalingga, Jawa Tengah, lebih dari satu dasawarsa terakhir perlahan memudar seiring dengan mangkatnya sang maestro. Kini, di tangan Badriyanto, cucunya, anyaman klasik dari pedalaman itu kembali dijalin.

Wayang rumput, atau suket dalam bahasa Jawa, karya cipta Mbah Gepuk pada 1995 pernah kondang di Nusantara. Atas karyanya itu, Mbah Gepuk dianggap maestro asal Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Purbalingga. Ia lalu kerap diundang untuk tampil berpameran, termasuk di Bentara Budaya Yogyakarta dan Jakarta.

Sosok wayang itu dianyam dari rumput kasuran yang tumbuh menjadi gulma tanaman lain. Dalam perkembangannya, wayang suket pun menjadi koleksi pencinta seni Tanah Air. Namun, meninggalnya Mbah Gepuk yang bernama asli Kasanwitkrama Tunut pada tahun 1997 seolah menghapus kenangan orang pada wayang suket.

”Setelah Kakek meninggal, tak banyak lagi orang menyinggung wayang suket. Saya terpukul waktu itu karena kehilangan sosok kakek sekaligus guru,” tutur Badriyanto.

Dorongan untuk mewarisi keahlian membuat wayang suket dari sang kakek baru muncul ketika Badriyanto menginjak bangku kelas II madrasah tsanawiyah.

Ayahnya, Ali Sunarto, yang menjadi menantu Mbah Gepuk, berperan penting dalam menanamkan kecintaan Badriyanto pada wayang suket.

”Bapak waktu itu bilang, ’Eman- eman nek ara ana sing bisa gawe wayang suket. Apa maning kaki wis madan sepuh (Sayang sekali kalau tidak ada yang bisa membuat wayang suket. Apalagi Kakek sudah semakin tua)’,” tutur Badriyanto mengenang perkataan ayahnya ketika itu.

Sejak saat itulah Badriyanto mulai menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah sang kakek. Berbagai wejangan dan pelatihan yang cukup keras diterimanya dari Mbah Gepuk.

”Mbah Gepuk orangnya sangat disiplin. Saya ingat betul, sewaktu saya gagal membuat bentuk wayang tokoh Wisanggeni dengan sempurna, anyaman saya langsung dia potong. Dia marah sekali,” kenangnya.

Pengalaman itu nyaris membuat Badriyanto putus asa. Dia merasa tidak punya bakat membuat wayang suket seperti sang kakek. Akan tetapi, kekagumannya terhadap sosok Mbah Gepuk membuat semangatnya kembali menyala. Badriyanto kemudian merasa lebih tahan dengan gaya kedisiplinan Mbah Gepuk dalam membuat wayang suket.

Guru kehidupan

Seiring dengan berjalannya waktu, Badriyanto menjadi satu-satunya ahli waris ilmu membuat wayang suket dari Mbah Gepuk. Serupa dengan sang kakek, Badriyanto pun dianggap orang sekitarnya sebagai sosok bersahaja meski punya kemampuan yang relatif langka.

Badriyanto memilih berkarya dalam sunyi. Setelah menikahi Kadirah (25), dia tinggal bersama mertuanya di rumah sederhana di Desa Wlahar, Kecamatan Rembang. Lokasi rumah itu sekitar 5 kilometer dari rumah sang kakek.

Meski kakeknya sudah meninggal, filosofi wejangan Mbah Gepuk dipegangnya teguh. Wejangan itu antara lain agar Badriyanto menjadikan alam sebagai guru kehidupannya.

”Kita harus bisa bersikap seperti rumput, yang biasanya hanya dimakan binatang dan diinjak-injak manusia. Tetapi ternyata rumput pun dapat memberi napas hidup dalam sesosok wayang,” katanya.

Hingga kakeknya meninggal, Badriyanto mengaku dia merasa belum mampu membuat wayang suket secara sempurna. ”Saya baru bisa membuat wayang suket sendirian, betul-betul hasil karya sendiri secara utuh, tahun 2000-an,” ujarnya.

Walau tergolong berusia muda, Badriyanto tetap mempertahankan tata cara pembuatan wayang suket seperti yang diwariskan kakeknya. Rumput yang digunakan hanya bisa menggunakan jenis rumput kasuran yang konon cuma bisa dipanen saat bulan Sura.

Setelah dipanen, rumput dijemur hingga kering dan dibedakan berdasarkan ukuran. Rumput kemudian direndam setengah jam, lalu ditiriskan hingga sedikit kering. Hasilnya baru bisa digunakan untuk membuat anyaman wayang suket.

Sesuai kemampuan

Kendati sadar wayang suket buatannya termasuk langka dan bisa mendatangkan materi buat keluarga, Badriyanto memilih tidak rakus. Dia hanya mau menerima pesanan sesuai dengan kemampuannya mengerjakan wayang suket.

”Seniman dari Jerman yang memesan tokoh Petruk Jadi Ratu serta gunungan harus menunggu hingga 1,5 tahun. Padahal, kalau bisa lebih cepat, dia menjanjikan akan membayar wayang suket itu jauh lebih mahal. Tapi saya enggak mau. Kalau memang bahannya belum ada, saya enggak mau memaksakan diri,” katanya.

Hal itu pula yang membuat Badriyanto bisa tetap menjalani profesi sebagai tukang kayu guna mencukupi kebutuhan keluarga. Meski diburu kolektor, penghasilannya dari kerajinan wayang suket tak bisa dia andalkan untuk menghidupi keluarga.

Dalam sebulan rata-rata dia bisa membuat 10 tokoh wayang. Tetapi pesanan pun tak selalu ada. Kendala lain, sekali panen rumput di lahan tegalan yang digarapnya hanya bisa untuk membuat 50-70 wayang.

Satu wayang suket yang pengerjaannya memakan waktu empat malam dijual seharga Rp 250.000 hingga Rp 450.000. Ini lebih murah dibandingkan wayang kulit yang mencapai Rp 1,5 juta per lembar.

”Harga segitu saja masih banyak orang yang menawar. Saya kadang manut saja,” ujar Badriyanto sambil memperagakan teknik anyaman tikar dan sarang lebah.

Pembuatan wayang suket memang menuntut kreativitas pembuatnya. Ini berbeda dengan wayang kulit yang dibuat berdasarkan gambar, wayang suket dibuat lebih berdasarkan imajinasi pembuatnya.

Terlepas dari penghargaan yang belum sepenuhnya dirasakannya, wayang suket karya Badriyanto telah dipamerkan di sejumlah festival seni di Jakarta hingga Bali. Bahkan, beberapa seniman dari Jerman, Belanda, dan Perancis memamerkan wayang buatannya di negara mereka. Terakhir, wayang suket karyanya juga dipamerkan pada National Day of Puppetry di California, Amerika Serikat.

Bagi Badriyanto, setidaknya dia telah menjawab kegelisahan almarhum Mbah Gepuk yang resah karena khawatir warisan seni wayang suket bakal tenggelam ditelan zaman. Meski sesungguhnya tidak sekadar meneruskan warisan kakeknya, Badriyanto telah melestarikan salah satu karya tradisi bangsa ini.

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono