KOMPAS/AYU SULISTYOWATI
Inilah okokan atau alat musik tradisional dari kayu di Bali. Okokan akan dipakai saat pawai kesenian menjelang pembukaan Pesta Kesenian Bali, Minggu (10/6/2012).
Oleh I Ketut Sutika
Pesta Kesenian Bali (PKB), tradisi tahunan yang menampilkan keragaman dan ekspresi keindahan manusia Bali yang dikonsep budayawan Prof Dr Ida Bagus Mantra (almarhum) 34 tahun silam kini menjadi salah satu ikon seni budaya Bali.
Dari tahun ke tahun PKB semakin semarak dan berkualitas, sehingga seni dapat berfungsi dan tetap hidup dalam masyarakat di tengah-tengah pergaulan era global.
PKB XXXIV tahun 2012 akan dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada hari Minggu 10 Juni 2012 dihadiri sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Bersatu dan duta besar negara-negara sahabat.
PKB yang berlangsung sebulan penuh 10 Juni-9 Juli 2012 tersebut mengusung tema "Paras-Paros Dinamika Dalam Kebersamaan" dengan lebih menekankan pada penataan dan kemasan yang unik dan menarik.
Selain untuk menggali, melestarikan dan mengembangkan seni budaya, PKB kali ini didisain untuk mengangkat citra Bali sebagai daerah tujuan wisata di dunia internasional yang aman dan nyaman.
PKB ke-34 itu semakin istimewa karena festival seni tahunan tersebut akan melibatkan enam tim kesenian dari Jepang, Amerika Serikat dan Inggris, disamping 18 grup kesenian dari sejumlah provinsi, kabupaten dan kota di Indonesia.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Ketut Suastika menjelaskan, grup kesenian dalam dan luar negeri akan tampil bersama duta seni dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali selama sebulan PKB berlangsung.
Selama sebulan PKB menampilkan ratusan sekaa kesenian melibatkan puluhan ribu seniman, Atraksi budaya dan pementasan diseleksi yang betul-betul bermutu dan menyuguhkan kemurniaan seni budaya.
"Tim kesenian tuan rumah harus mampu tampil yang terbaik, jangan sampai kurang mendapat perhatian karena tim tamu dari sejumlah daerah di Indonesia maupun luar negeri juga tampil menarik," harap Gubernur Bali Made Mangku Pastika.
Oleh sebab itu penampilan tim kesenian dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali dirancang khusus dan sungguh-sungguh, agar mampu tampil meriah dan menarik dengan mengedepankan penampilan mutu seni budaya.
Kegiatan itu tetap menekankan upaya penggalian, pelestarian dan pengembangan seni tradisi yang telah tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Bali. Hal itu sangat strategis untuk merevitalisasi seni agar dapat berfungsi dan hidup dalam masyarakat di era persaingan global.
Seni budaya Bali menitikberatkan pada pengembangan kehidupan seni budaya tradisi yang mampu berintegrasi, beradaptasi dan menyelaraskan diri dengan dinamika zaman.
Oleh sebab itu masyarakat Bali berusaha meningkatkan kualitas kehidupan berkesenian dengan memberikan bobot pada pelestarian dan pengembangannya, salah satu di antaranya melalui PKB, aktivitas seni tahunan secara berkesinambungan, ujar Gubernur Pastika.
Tiga garapan
Pembantu Rektor II Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Gede Arya Sugiartha mengatakan, pihaknya tiga jenis tarian untuk memeriahkan pelaksanaan PKB kali ini.
Ketiga garapan tabuh dan tari itu meliputi Bali Dwipa Jaya, tari maskot Pemerintah Provinsi Bali yang diluncurkan pada pembukaan PKB, Adi Merdangga, tari "Siwa Nataraja", dan pementasan klosal oratorium Purusada Santha.
Ketiga jenis garapan itu akan dipentaskan di hadapan Presiden SBY, sejumlah undangan tingkat nasional maupun yang datang dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali serta masyarakat umum.
Tari Bali Dwipa Jaya, tari kebesaran Pemprov Bali itu akan diluncurkan pada pembukaan PKB, yang dibawakan 13 penari terdiri atas seorang pria dan 12 penari wanita.
Tari maskot Bali itu digarap oleh tim ISI Denpasar atas permintaan Gubernur Bali Made Mangku Pastika, baru pertama kali dipentaskan di hadapan masyarakat umum.
Sekitar 125 mahasiswa lembaga pendidikan tinggi seni itu dilibatkan dalam permainan drumband tradisional "Adi Merdangga¿ dan tari "Siwa Nataraja" pada pawai budaya sebelum pembukaan PKB di depan Monumen Bajra Sandhi kawasan Niti Mandala Renon Denpasar.
Selain itu sekitar 250 mahasiswa dan dosen ISI Denpasar dilibatkan dalam pementasan klosal "oratorium Purusada Santha" di panggung terbuka Ardha Candra Taman Budaya Denpasar.
Pementasan berdurasi 60 menit itu dipersiapkan sekitar satu bulan dan sudah pula dilakukan gladi bersih, tutur Arya Sugiartha yang juga ketua seksi pawai budaya PKB.
Sendratari "Purusada Santha" diangkat dari Kekawin Sutasoma itu, menyebutkan Bhinneka Tunggal Ika adalah sasanti Negara Indonesia yang telah menyalakan api kesadaran masyarakat sebagai sebuah bangsa yang dirajut dari keberagaman.
Sejak cikal bakal negeri yang disatukan dalam bentangan zamrud khatulistiwa tumbuh benih-benih perbedaan dan dikelola secara bijaksana. Perbedaan bukan dipandang dan ditakuti akan melahirkan perpecahan, namun sebaliknya menjadi dorongan yang bertenaga untuk bertemu, mengenal dan saling menerima.
Pementasan selama satu jam itu dibagi dalam tiga babak, yakni babak pertama mengisahkan puncak kejayaan zaman Majapahit pada pemerintahan maharaja Rajasanegara atau Hayam Wuruk yang mendapat dukungan penuh dedikasi oleh mahapatih Amangkubumi Gajah Mada.
Babak kedua mengisahkan seorang pangeran Hastina yang bernama Sutasoma, putra raja Sri Mahaketu itu tidak mau hidup dalam gemilang kemewahan keraton melainkan memilih menjadi pertapa di hutan untuk mencari kehidupan sejati.
Babak ketiga kisah Sutasoma yang digubah menjadi kakawin oleh Mpu Tantular itu, inti sarinya kemudian dipakai lambang persatuan Negara Indonesia. Sasanti Bhinneka Tunggal Ika yang terbentang di kaki Burung Garuda dipetik dari Kakawin Sutasoma pupuh 139, bait kelima.
Kisah penuh kasih Sutasoma dan kandungan rasa toleransi keberagaman Bhinneka Tunggal Ika itu, dalam masyarakat Indonesia yang berbangsa, berbahasa, dan bertanah air satu, diimplementasikan dalam ekspresi budaya dan ungkapan damai jagat seni, tutur Arya Sugiartha.
