Kamis, 20 Juni 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 20 Juni 2013 | 00:12 WIB
Puisi-puisi Mawardi Stiawan
Kamis, 7 Juni 2012 | 06:59 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
Detlev van Ravenswaay Ilustrasi Gerhana Bulan Sebagian

Silsilah Rindu Di Langit Banuaju

Di sini aku menatap rindu
Sambil membasuh kalbu dalam doa ibuku
Mendengkur dalam setiap dzikirku
Suaraku mengeram sunyi
Meneriakkan setiap desir angin yang berlalu di wajahmu
Lalu aku biarkan saja airmata langit
Mengalir mesra dalam perjumpaan yang kesekian kali
Biar raka’atku genap dalam hitungan purnama

Banuaju adalah rumahku
Banuaju adalah rinduku
Banuaju adalah kekasihku
Oh…Banuaju
Aku terkesipuh dalam tatapanmu
Hingga waktu mengalirkan rinduku
Dari setiap doa yang biasa aku panjatkan
Sehabis petang dan menjelang

Ya, inilah silsilah rindu di langit banuaju.

Layang-layang

Bumi kita melayang
Menerawang di langit lepas
Sambil mencumbui senja
Dari sisa-sisa angin yang mendesir
Atau kita mala kepanasan dalam temali melekat
Pekat di jantung

Ya, hidup kita seperti layang-layang
Selepas petang merantau
Kita senantiasa bercumbuh dengan awan
Mentasbihkan segela ritus yang masih tersisa
Dalam episode sepanjang ingatan

Sementara disisi yang lain
Mari sesekali kita turun ke bumi
Walau hanya sebatas bercumbuh ria
Lalu melepuhlah dalam keadaan telanjang
Tanpa airmata dan sejarah di dada
Sebelum kertas dalam tubuh ini
Warnanya mulai suram muram-muram
Lalu lenyaplah kita dalam tatap semesta

Dan awan itu
Angin berjumpalitan
Meriuhkan musim
Hingga rakaat rindu gagal dalam sujud diri

Malang, 4 Juni 2012
 
Kembang Kampung
- Perawan Desa

Subhanallah…

Lihatlah, Ma
Bulan itu sedang merindukan perjumpaan
Dari reranting waktu ke musim rindu
Dengan matahari
Cahayanya masih yang dahulu
melahirkan senyuman
Diantara para perindu

Lautnya masih ku hapal
Dari detak gelombang
Angin pengantar musim
Sementara harumnya
Selalu Menelisik hingga matahari cemburu
Dan aku masih tetap disini
Sambil menatap
Dari arah yang di curi
Dan sebuah jejak Yang tercuri

Ma,
Bagiku harga diri
Adalah harga mati

Malang, 2012

Bulan Jumat Yang Dikeramatkan

Malam itu
Suara langit semakin jelas
Laut membalut
Lalu akulah yang galau

Orang-orang tak lagi setia
sibuk mencari gubuk
Hingga keyakinan bisa saja tertukar

Malam itu
Wajah langit yang lain
Membuatku risau
Dari angin yang selalu mendesir
Diantara nisan-nisan batu
Yang kita sepakati
Menjadi benda keramat

Tubuhku gigil
Dari tahlil-tahli yang menjail
Ketika pertukaran itu
Menjadi separuh sukma

Dan kepercayaan itu tak ubahnya benda gadai
Yang sesekali bisa di tukar
Meski hati terasa sukar

Malang, 2012
 
Minggu Yang Melepuh

Ini adalah sajak rinduku, sayang
Sebuah sajak tentang minggu yang melepuh
Sebelum hari esok menjemput
Diantara kreta yang kian berlalu
Dalam sepasang rel kalender hariku

Dan bila suatu nanti sudah sampai, sayang
Kita akan memulainya dengan sebuah meditasi baru
Dalam pesta akhir pekan ini
Dengan sebuah tembang sajak introspeksi
Ya, sebuah introspeksi
Sebelum matahari benar-benar pergi
Dari jejak kita disini

Sementara disisi malam yang lain, sayang
Kita senantiasa akan selalu bertukar tanda
Dalam sebuah tatapan masa bersama purmana
Setelah itu, kupersiapkan saja sebuah ritual baru
Dari kesakralan ritus darah
Sebelum kita sah milik tuhan kembali
Ya, milik tuhan

Malang, 21 Mei 2012

Sore itu Di Unitri

Sore itu
Kulukiskan saja jejak-jejak
Yang gagal memeluk risalah senja
Dari sisa-sisa perjalanan buku dalam kelender hari ini
Selebihnya, kita sserupa wajah orang-orang yang kebingungan
Menapaki setiap gelombang yang menerpa
Sementara jejak dari para pencinta cita begitu saja berlalu
Seperti bus kota pengantar rindu

Sore itu
Hujan dari intrumen kerinduan ini
Tinggallah sebuah pesta

Malang, 15 Mei 2012
 
DI POJOK KELAS

Di sini, aku seperti berlayar dalam raut samudramu
Lepas menyelam
Lalu Memelihara mimpi
Dari segenap ikan-ikan mataku
Yang berkeliaran memetik bulan dalam otakku
Lalu kurengguh sampan cita-cita mama
Bersama desir angin pengantar rindu
Dan aku sama-sama dalam diam
Memandang rindu seorang ibu

Ya, disinilah
Kurangkum doa
Dari selembar senyum ibuku
Yang kusimpan dalam bender ingatanku
Hingga waktu berlalu
Dan aku melaju bersama doa ibuku

Malang, 16 Mei 2012

SEPERTI SEBUAH BUKU
Daun-daun itu mulai gugur
Melukis Guntur yang melebur
Dari sisa-sisa kalender yang kita tanggalkan dahulu, sayang
Jatuh seperti kelopak bunga
Merantau sampai pada pembatasan musim yang sungging

Dan semestinya setelah itu, sayang
Kita mulai mengakrapkan diri dalam setiap doa
Lalu menyatukan cita-cita  dalam setiap langkah
Lantaran kita selalu saja di kejar waktu
Seperti jarum jam yang berlalu
Di dingding rumah kita
Ya, kita serupa lembaran-lembaran buku
Jatuh melepuh
Lalu tinggallah kenangan

Malang, 12 Mei 2012

DI ANTARA LUKA SENJA

Pada wajah bulan tumbuh di langit
Sebab diantara tidur panjang adalah luka senja

Annuqayah, 19 april 2010

PARNITE

Seperti biasa aku meminum sepi disini
Diantara lorong panjang bersemedi
Sementara mangkok kecil diatasnya terus menari
Sambil lalu bernyanyi bersama gesekan lereng

Setelah berabad-abad dua tangan bertemu
Aku ingin sesekali mengajakmu kembali
Memandikan bulan dengan air rindumu
Yang masih utuh dengan persetubuhan tunggal
Seterusnya akan menjadi sungai
Mengalri usia tua yang kian rentah

Annuqayah, 23 april 2010

Mawardi Stiawan , Lahir di Sumenep Madura, karyanya pernah dimuat di Antologi TIRTA, Malang Melintang Antologi puisi bersamanya dengan Subaidi Pratama dan Antologi. saat ini sebagai Pimred Buletin Pena Kampus dan Pengasuh Komunitas Dialog Langit UNITRI Malang.

Editor :
Jodhi Yudono