JAKARTA, KOMPAS.com- Festival tari berskala internasional, Indonesian Dance Festival, dibuka Jumat malam kemarin. Pembukaan diwarnai pertunjukan tari luar ruang dan pertunjukan tari Bedhaya Diradameto.
Bedhaya Diradameto merupakan tari bedhaya Puri Mangkoenegaran yang diciptakan Pangeran Sambernyawa atau Mangkunegara IV. Tarian ini mengisahkan pertempuran Pangeran Sambernyawa di Sitakepyak, selatan Rembang.
Selain itu, koreografer Belanda Gerard Mosterd ikut mementaskan karyanya berjudul L'Historie du Soldat yang melibatkan penari Eko Supriyanto, Martinus Miroto, Sri Qadariatin, dan narator Jamaluddin Latif.
Tahun ini IDF mengusung tema "Indonesia Menari" yang puncak kegiatannya berlangsung pada 1-9 Juni. Selama sembilan hari IDF akan mementaskan karya-karya para penata tari dari Indonesia, Jepang, Korea, Jerman, Aljazair, Taiwan, Finlandia, Inggris, Perancis, Tunisia, Belgia, dan Kamboja.
Pentas digelar setiap hari di berbagai tempat yang berbeda, yakni Taman Ismail Marzuki, Gedung Kesenian Jakarta, dan Institut Kesenian Jakarta.
Sebelumnya, serangkaian acara dalam rangka IDF telah diselenggarakan sejak bulan Februari lalu, seperti seminar tari, lomba tari, bengkel kerja koreografi, dan seminar.
Karya penata tari yang ditampilkan merupakan hasil seleksi Kompetisi Tari yang diadakan bulan April lalu. Panitia menyeleksi 33 karya tari dari 300 proposal karya yang masuk. Dari 33 karya tersebut kemudian terpilih enam karya dan karya itulah yang dipentaskan bersama dengan penata tari internasional.
"IDF menjadi ajang bagi penari muda untuk menampilkan karyanya. Di Indonesia banyak penata tari yang sebenarnya memiliki karya, namun karya mereka tidak dikenal masyarakat karena kurangnya ajang festival tari di Indonesia," kata Nungki Kusumastuti, Ketua IDF.
Juara I Kompetisi Tari IDF 2012 diraih Galih Safitri, koreografer muda asal Bandung yang menciptakan karya Sang Penunggu.
Galih mengangkat fenomena desa-desa yang kosong ditinggalkan warga berurbanisasi. Suci Priwasa, juga dari Bandung, mencipta karya "1 > Satu". Suci mengangkat konflik antara ibu dan anak gadisnya yang modern dan tomboi sehingga dianggap tidak lagi seperti layaknya seorang perempuan. Karya Suci ini meraih juara II.
Juara III diraih koreografer asal Tabanan, Bali, I Gusti Agus Adi Yustika, dengan karya Kama. Juara harapan I dan II berturut-turut diraih koreografer Pontianak, Ulan, lewat karya Ito'lah Kame dan koreografer Jakarta, Elgandiva Astrilia, lewat Frenemies.
Koreografer Jakarta asal Papua, Serramere Boogie Yason Koirewoa, meraih gelar juara favorit lewat karya Suara Rakyat.
IDF tahun ini menginjak tahun penyelenggaraan ke-11 sejak festival ini digagas pertama kali tahun 1992. Kegiatan dua tahunan ini memberikan wadah bagi para koreografer dan penari Indonesia yang selama ini kekurangan wadah untuk menampilkan karya-karyanya.
IDF yang menjadi bagian dari program kegiatan berkala IKJ merupakan satu-satunya festival tari yang mampu bertahan selama 20 tahun. Rektor IKJ Wagyono Sunarto mengatakan, IDF menjadi bagian dari pendidikan tari IKJ yang diselenggarakan di luar bangku kuliah.
Melalui IDF, siswa IKJ atau seniman tari di luar IKJ bisa menggali ilmu dari para praktisi tari.
