Kompas/Iwan Setiyawan
Pengunjung melihat pameran foto "InAbsentia" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (29/5/2012).
JAKARTA, KOMPAS.com -- Ungkapan selembar foto lebih bermakna daripada berjuta kata terasa tepat menggambarkan potret hak asasi manusia (HAM) yang ditampilkan 26 fotografer muda dalam pameran bertajuk "InAbsentia" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran digelar 26-31 Mei 2012.
Pameran ini mengusung konsep esai foto yang mengangkat potret ketidakhadiran pemerintah dalam pemenuhan HAM warganya. Karya yang ditampilkan merupakan hasil akhir pelatihan fotografi dokumentasi sosial dan HAM di tiga kota: Kediri, Semarang, dan Jakarta.
Kegiatan ini digagas oleh komunitas Poros Photos yang bekerja sama dengan Komnas HAM dan Yayasan Tifa. Sebanyak 26 fotografer muda dengan rentang usia 18-25 tahun dari berbagai daerah terjaring sebagai peserta pelatihan.
Adhi Kusumo, aktivis Poros Photos menyatakan, tujuan pelatihan ini untuk memberi bekal bagi kaum muda yang tertarik pada fotografi agar dapat mengangkat isu sosial dan HAM ke publik.
Wakil Ketua Komnas HAM, Yosep Adi Prasetyo menilai, penegakan HAM kerap dilupakan negara dan fotografi bisa menjadi alat mengungkap kasus pelanggaran HAM. "Di Indonesia, fotografi memiliki catatan panjang sebagai bagian dari pengungkapan pelanggaran HAM yang pernah terjadi di negeri ini, baik di zaman revolusi, di zaman Orde Lama, ataupun Orde Baru," kata Yosep, Selasa (29/5/2012).
Pameran ini sekaligus menyosialisasikan hasil rekam visual peserta ke publik. Mereka menghadirkan potret masyarakat yang mencoba bertahan dan berjuang dengan caranya sendiri. Rekaman visual tentang kehidupan masyarakat yang termarjinalkan mendominasi karya yang dipamerkan.
Dengan konsep esai foto, cerita yang ditampilkan terasa lengkap dengan tampilnya beragam bukti faktual dari tema yang diangkat. Isu-isu terkini ataupun isu klasik tentang masalah sosial diangkat dengan semangat fotografer muda usia.
Gambaran tentang kehidupan pemulung, anak-anak putus sekolah, kehidupan pekerja seks komersial, warga eks tahanan politik, ataupun masyarakat miskin perkotaan diangkat dengan pendekatan manusiawi. Selain itu, isu sensitif tentang ancaman terhadap pluralisme beragama dan berbangsa juga berani ditampilkan oleh para peserta yang umumnya belum banyak pengalaman menangkap fenomena sosial. Semua karya yang ditampilkan sudah cukup menggambarkan permasalahan sosial yang dihadapi bangsa ini.
Menurut Adhi Kusumo, pameran ini rencananya akan dibawa keliling ke beberapa kota di Jawa. Melalui pameran ini diharapkan masyarakat bisa mengetahui, menyadari, dan memahami arti penting kehidupan sosial dan pemenuhan hak-hak asasi warga.
