Kamis, 20 Juni 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 20 Juni 2013 | 14:35 WIB
"...Gimana Gak Mau Mati Budaya Betawi Ini.."
Sabtu, 26 Mei 2012 | 22:00 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
KOMPAS/LASTI KURNIA Kesenian ondel-ondel, kembang goyang, silat, hingga pengantin sunat ikut meramaikan Kirab Budaya Betawi di Monumen Nasional, Jakarta Minggu (19/6/2011). Kirab budaya yang mengambil rute Monas-Bundaran Hotel Indonesia ini diselenggarakan untuk merayakan HUT ke-484 Kota Jakarta.

Oleh Tria Dianti

Pemerhati budaya Betawi, Ridwan Saidi, prihatin dengan nasib kesenian kaum tersebut. Menurut dia, seniman dan budaya Betawi kian tersingkirkan karena lahannya juga tergusur.

“Gedung pertunjukan saja tidak punya yang di tengah kota, hanya di Setu Babakan. Miss Tjitjih saja ada gedungnya padahal itu untuk suku Sunda,” kata dia.

Ia menceritakan, zaman dulu di Taman Ismail Marzuki  dan Gedung Kesenian Jakarta setiap malam rutin digelar  kesenian Betawi dengan ribuan penonton.

Kini kesenian Betawi seolah "tergusur" ke Setu Babakan yang berada di perbatasan Depok, tepatnya di Kelurahan Srengseng Bawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

"Jauh dari tengah kota sehingga penonton yang melihatpun sedikit dan hanya lingkup orang setempat saja.Maunya kami itu di Jakarta Pusat,” katanya.

Nada prihatin juga dikemukakan Ketua Pembina Sanggar Bina Irama, Marta. Dia mengatakan kesenian Betawi sulit menyaingi budaya lain dalam menggelar pertunjukan.

Ia juga mengeluhkan kaum muda yang enggan menonton kesenian tradisional Betawi dan lebih senang menonton bioskop atau konser.

"Jangankan ditarik bayaran, ini tidak dipungut biaya saja tidak mau nonton, gimana gak mau mati budaya Betawi ini," kata dia.

Hilangnya penonton juga mengakibatkan seniman Betawi tidak mau menurunkan bakatnya ke generasi penerus. Menurut Marta, banyak seniman Betawi  menganggap seni mereka sudah mau punah.

"Kami ini otodidak belajarnya, tidak ada sekolahnya, tidak ada yang mengajari sehingga tersingkir oleh budaya yang baru," kata Marta.

Sanggar Bina Irama ia dirikan bersama istri untuk mengembangkan gambang kromong, lenong dan lawak.

Ia berharap, pemerintah lebih memperhatikan seniman betawi."Ini lho Betawi. kalau ada panggilan pentas di manapun kami ikuti," kata dia.

Di lain pihak, pemerintah provinsi DKI Jakarta mengatakan telah memberi perhatian cukup kepada kesenian Betawi.

Kepala Balai Latihan Kesenian (BLK) Jakarta Barat Ruswa Sudisman mengatakan pihaknya juga melestarikan kesenian Betawi. "60 persen kami fokus ke seni Betawi. Sisanya, kami memberi pelatihan kesenian daerah lain," kata dia.

Ia mengatakan BLK Jakarta Barat  bisa mendatangkan pelatih dari perguruan tinggi seni yang ada di Jakarta seperti Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono