Severity: Notice
Message: Undefined variable: url_twitter
Filename: views/read_view.php
Line Number: 93
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Mengenalkan Budaya Betawi - Pengunjung melihat pentas lenong yang dimainkan kelompok seni Bina Irama di kawasan wisata Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Minggu (13/5/2012). Beragam kesenian khas Betawi ditampilkan selama bulan Mei untuk lebih mengenalkan budaya Betawai kepada masyarakat Jakarta.
Oleh Febriany Dian Aritya Putri
“Kalau nggak ade ini kampung, saya gak tau lagi bisa manggung di mana. Kalau di sini kan ade jadwalnye.”
Kalimat itu terucap dari Fatimah, salah satu pemimpin sanggar Betawi Bina Irama. Tempat yang dia maksud adalah Kampung Betawi Setu Babakan,
Kawasan Perkampungan Budaya Betawi itu terletak di perbatasan Jakarta dan Depok, tepatnya di Kelurahan Srengseng Bawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Setu Babakan mulai berstatus sebagai Cagar Budaya Betawi pada 2004, saat DKI Jakarta dipimpin Gubernur Sutiyoso.
Dalam kondisi semakin tergerusnya budaya Betawi di kota asalnya, Jakarta, Kampung Betawi Setu Babakan telah menjadi satu-satunya tempat di mana para seniman Betawi "berasa di rumah". Di sana ada sekitar 200 sanggar budaya dan seniman Betawi.
Setiap akhir pekan, pengelola Kampung Betawi ini telah membuat jadwal penampilan para seniman Betawi yang kebanyakan juga bertempat tinggal di sekitar kawasan ini.
Pada Minggu 13 Mei, Sanggar Bina Irama yang membawakan seni Gambang Kromong.setelah Fattan Voice yang membawakan Nasyid. Panggung akhir pekan ini dimulai tepat pukul 13.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB.
“Waktu belum ada Setu Babakan, (seni Betawi) sudah hampir hilang. Jarang yang manggil. Tarifnya mahal. Orangnya kan banyak,” tutur Fatimah. Dia mengaku sejak kecil sudah berkesenian Betawi seperti melenong dan menekuni gambang kromong.
Penampilan para seniman Betawi di kampung ini pun banyak menarik pengunjung, bahkan ada yang menunggu-nunggu penampilan mereka, sekadar melepas nostalgia. Yahya Samsul (46), warga Depok, mengaku hampir setiap akhir pekan selalu mengunjungi perkampungan Betawi ini.
“Udah jarang nonton yang beginian. Kalau di sini kan setiap minggu ada. Mau lenong, tanjidor, lengkap dah,” tutur Yahya.
Lain lagi dengan Saripah (35). Ia mengaku baru satu kali datang ke Kampung Betawi.“Kalau saya nemenin saudara aja. Baru kali ini. Ya lumayan, hiburan, gratis lagi,” tutur Saripah.
Setiap akhir pekan pula kampung ini selalu dipenuhi oleh warga baik mereka yang ingin menonton pertunjukan khas Betawi, maupun yang hanya ingin bersantai menikmati suasana danau Setu Babakan.
Di kampung ini juga ada pelatihan seni tari, musik, teater bagi anak-anak dan remaja. Ada pula latihan silat Betawi setiap Kamis malam.
“Kalau bukan kami, siapa yang meneruskan. Semuanya otodidak. Seni Betawi itu turun temurun. Sekarang seniman Betawi paling tua ya Mpok Nori,” jelas Fatimah.
Fatimah mengaku ia merasa tertolong dengan dibukanya kampung ini sebagai Cagar Budaya Betawi. Bagi Fatimah, berkesenian Betawi memang sudah mendarah daging, walaupun ia pernah meninggalkan dunia ini selama kurang lebih 25 tahun.
“Jujur, kalau hidup hanya sebagai seniman Betawi ya gak akan cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi dengan adanya kampung ini, saya rasa hampir semua seniman Betawi jadi punya panggung lagi buat nampil,” jelas Fatimah.
Tertarik menyaksikan pertunjukan seni Betawi di Setu Babakan? anda bisa datang setiap akhir pekan.
