Oleh Natisha Andarningtyas
Mungkin tidak berlebihan menyebut Bang Andi, begitu panggilan akrabnya, dengan kalimat di atas. Seni tidak pernah lepas dari kehidupannya.
Lahir 52 tahun silam dari keluarga seniman, Andi kecil tertarik mempelajari tari, khususnya tari topeng. Wajar saja ia tertarik belajar tari.
Andi adalah generasi ketiga pendiri Topeng Betawi, teater rakyat Betawi yang berbasis tari dan musik.“Dari kecil, aku memang dididik untuk berkesenian,” tuturnya.
Bakatnya terus terasah dari pertunjukan ke pertunjukan, dari kampung ke kampung membawakan tari-tari Betawi.
Selanjutnya, Andi mulai tertarik belajar musik tradisional dan berlanjut denga olah vokal hingga menjadi seniman serba bisa.
Setiap kali tampil, dia terlihat nyaman memainkan tehyan. Ia luwes menari dan menyanyi bersama biduanita teman duetnya.
Ia mengenang puluhan tahun lalu ketika ia masih menari dari panggung kecil ke panggung kecil lainnya, “Dulu sehabis nari, imbalannya kadang dicicil, bahkan ngutang. Kadang-kadang dibayar setengah duit, setengah beras,” kenangnya.
Jam terbang Andi tidak perlu diragukan. Seni Betawi yang dia kuasai memberinya kesempatan melawat ke mancanegara. Bersama seniman tradisional lainnya, khususnya musik dan tari, ia menyambangi negara-negara di Asia, Eropa, bahkan Afrika, dalam misi kebudayaan.
“Mereka (orang asing) sangat antusias melihat tarian-tarian kita. Kagum, kok tariannya banyak banget, gerakannya variatif. Musiknya juga beragam,” katanya.
Kekaguman orang asing justru membuat dia khawatir.Generasi muda sekarang dia anggap belum peduli terhadap kesenian tradisional.
Di sisi lain, hal itu membuatnya tertantang untuk terus menyemangati anak-anak didiknya yang tergabung dalam Orkes Gambang Kromong Kinang Putra.
“Lu gara-gara main kecrekan bisa ngerasain naik pesawat! Bisa keluar negeri pula,” katanya.
Ia pun merasa keahlian para seniman belum sepenuhnya dihargai. Meski begitu, ia telah memutuskan untuk hidup dalam seni, mendedikasikan hidupnya untuk seni Betawi.
“Buat aku, yang penting kepuasan batin. Rezeki bisa dicari di mana saja,”.
Dua kali dalam seminggu, ia membagi keahliannya kepada generasi penerus kesenian Betawi yang berasal dari berbagai usia itu.
Menjadi kebanggaan tersendiri baginya, melihat perkembangan anak didiknya dari nol hingga menguasai suatu bidang kesenian Betawi.
“Senang banget bisa ngasih pengalaman berkesenian kepada anak-anak muda,” katanya.
Soal undangan pentas, Andi boleh sedikit berlega hati.Ia berkata dua tahun belakangan semakin sering mendapat undangan untuk menampilkan kesenian Betawi.
"Khususnya mall dan hotel. Apalagi menjelang ulang tahun Jakarta, bisa tampil hingga tiga kali dalam seminggu," kata Andi.
