SEMARANG, KOMPAS.com — Pendiri Teater Koma, Nano Riantiarno, menilai bahwa kehidupan manusia sebenarnya tidak terlepas dari teater karena kehidupan yang tengah dijalani ini adalah panggung teater yang sangat besar.
"Terkadang, kita terlalu sempit dalam memandang teater bahwa teater adalah sesuatu yang seolah-olah terpisah dari kehidupan kita," katanya seusai lokakarya "Keaktoran dan Penyutradaraan" di Semarang, Kamis.
Menurut pemilik nama asli Norbertus Riantiarno itu, perabadan manusia di masa lalu sangat dekat dan hampir selalu bersentuhan dengan teater, sebagai wujud terima kasih terhadap alam atau Yang Maha Kuasa.
Oleh karena itu, kata dia, keberadaan teater muncul dalam kehidupan sehari-hari, mulai ritual pemujaan, ritual kerja, hingga ritual kematian sehingga teater sebenarnya tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Ia mengakui, teater di masa sekarang justru kerap dipisahkan dari kehidupan manusia sehingga membuatnya sebagai sesuatu yang berjarak, dan teater akhirnya mulai dilupakan sebagai bagian dari kehidupan.
"Padahal, dalam kenyataannya, setiap manusia selalu membutuhkan keahlian layaknya aktor dalam menyikapi hidup, seperti halnya yang dilakukan dalam teater," kata suami artis Ratna Riantiarno tersebut.
Bahkan, kata Nano, teater modern mulai dipetakan dalam tiga sudut pandang yang tegas, yakni teater sebagai sarana hiburan, alat politik dan pendidikan, serta teater sebagai dokumentasi sejarah.
Pada lokakarya yang diprakarsai Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Semarang itu, hadir pula pegiat teater dari Yogyakarta, Afrizal Malna dan Apito Lahire (Tegal).
Afrizal Malna mengungkapkan, teater merupakan seni yang paling berisiko karena hubungan antara seniman dan penonton terjadi secara langsung, terutama risiko menghadapi justifikasi penonton saat di panggung.
"Kalau seni musik perantaranya sudah tentu irama musik, atau seni lukis yang memiliki perantara karya lukis. Namun, dalam teater, seniman sendirilah yang berhadapan langsung dengan para penonton," katanya.
Ia menjelaskan, teater sebenarnya berbeda dengan drama karena teater bertumpu pada kesetiaan terhadap naskah dan bahasa tubuh sehingga setiap gerak tubuh memiliki pertanggungjawaban. Kalau drama, tidak seberat itu.
Sementara itu, pegiat teater dari Tegal, Apito Lahire, mengatakan bahwa seniman teater harus bisa belajar dari segala sesuatu di lingkungan sekitar, sebab gerak-gerak dalam kehidupan sebenarnya merupakan gerak teater.
"Lingkungan sekitar bisa dimanfaatkan untuk melatih kemampuan teater, misalnya saat melihat penjual jamu. Mimik dan gerak tubuh bisa dipelajari. Yang jelas, semua bisa dipelajari dari lingkungan sendiri," katanya.
