Rabu, 19 Juni 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 19 Juni 2013 | 20:06 WIB
Stasiun Bogor Budayakan Penggunaan "Totopong"
Jumat, 25 Mei 2012 | 03:41 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

google.com
Totopong

BOGOR, KOMPAS.com — Memeriahkan Hari Jadi ke-530 Bogor, Stasiun Besar Kereta Api Bogor membudayakan penggunaan totopong, ikat kepala khas Sunda, kepada para masinis dan pegawai PT KAI.

"Di sini ada 50 pegawai, semuanya disarankan menggunakan ikat totopong sebagai bentuk dukungan Stasiun Besar Bogor menyambut HJB (Hari Jadi Bogor) ke-530," kata Kepala Stasiun Besar Kereta Api Bogor Eman Sulaiman, Rabu (23/5/2012).

Eman mengatakan, pegawai Stasiun Bogor berasal dari berbagai ragam suku budaya. Namun dalam menyambut HJB tersebut, semua pegawai dan marsinis akan menggunakan totopong hingga puncak peringatan HJB tanggal 3 Juni.

"Walaupun karyawan di sini tidak semua orang Sunda, kami ingin HJB dirasakan oleh semua masyarakat yang ada di Bogor," katanya.

Pencanangan penggunaan totopong di lingkungan Stasiun Bogor dilakukan langsung oleh Eman Sulaeman yang ditandai dengan penyerahan ikat kepala kepada salah satu masinis KRL jurusan Bogor-Jakarta.

Pengikatan totopong atau ikat kepala dengan kain batik tersebut langsung dilakukan oleh salah satu budayawan dan seniman Bogor, Dadang HP, kepada salah satu masinis.

Kegiatan tersebut secara serentak diikuti oleh puluhan karyawan PT KAI yang bertugas di Stasiun Besar Kereta Api Bogor.

Pelopor penggunaan totopong, Dadang HP, menjelaskan fungsi totopong sebagai simbol identitas diri, dilihat dari ragam pola mengikatnya. "Bentuk ikatan totopong menunjukkan status sosial seseorang di masyarakat," katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, cara mengikat totopong antara bangsawan dan rakyat berbeda.

Terdapat dua puluh dua ragam cara mengikat totopong di kepala. Meski tampak sedikit rumit, secara filosofis terdapat makna di balik semua ragam ikat.

"Penggunaan totopong di atas kepala bermakna sebagai upaya seseorang mengikat hal-hal baik dalam dirinya," katanya.

"Dalam budaya Sunda, dari semua anggota tubuh yang ada, kepala merupakan bagian terpenting. Tak ayal, kepala kerap diidentikkan dengan kemuliaan yang difitrahkan," katanya.

Dadang menambahkan, alasan penerapan tradisi ini dengan HJB bahwa peringatan HJB kurang dirasakan masyarakat Bogor, dan hanya sebatas diperingati di lingkungan Pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor.

Menurutnya, setiap peringatan HJB, peserta sidang paripurna secara khusus sudah rutin mengenakan pakaian adat sunda. Namun, hal itu hanya di lingkungan pejabat dan anggota DPRD, belum menyentuh lebih luas ke lapisan masyarakat.

"Kami telah mengusulkan kepada panitia HJB ke-530 agar penggunaan pakaian adat sunda diperluas lagi. Kita mengusulkan seminggu sebelum HJB bisa mengenakan pakaian adat Sunda, minimal mengenakan totopong," katanya.

Ia menambahkan, penggunaan totopong tersebut menjadikan kegiatan HJB punya arti khusus bahwa masyarakat Bogor sedang memperingati hari jadinya.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono