Rabu, 19 Juni 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 19 Juni 2013 | 12:55 WIB
Pelukis Banyumas Dinilai Miliki Potensi Luar Biasa
Sabtu, 19 Mei 2012 | 00:34 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

BANYUMAS, KOMPAS.com--Pelukis asal Yogyakarta Yuswantoro Adi menilai, para pelukis di eks Keresidenan Banyumas, Jawa Tengah, memiliki potensi luar biasa. "Tetapi menurut saya, mereka agak kurang keras terhadap dirinya sendiri," katanya di Banyumas, Rabu siang.

Yuswantoro mengatakan hal itu di sela-sela kegiatan "Galnas Goes to Art Community: Workshop, Melukis Bersama, Pajang Karya" yang diselenggarakan oleh Galeri Nasional Indonesia bersama Komunitas Gendu-Gendu Rasa Perupa Banyumas Raya di "Mercusii Cafe and Resto", Rawalo, Banyumas.

Lebih lanjut dia mengatakan, kemungkinan hal itu karena melukis bukan menjadi profesi utama sehingga para pelukis di Banyumas ini kurang keras dalam menempa dirinya.

"Padahal potensi dan bakat mereka luar biasa bagus. Mereka masih ’gelem, gelem, ora, ora’ (mau, mau, tidak, tidak, red.), masih tanggung," kata dia menegaskan.

Menurut dia, iklim kompetisi perlu dibangun di antara para pelukis Banyumas dengan membuat semacam pameran berkala atau kegiatan lainnya.

"Oleh karena tidak ada itu (iklim kompetisi, red.) sehingga bagi mereka, melukis sekadar melukis, belum menjadi sesuatu yang serius. Saya melihat keseri’kurang sak umoban maneh’ (kurang mendidih lagi, red.)," katanya.

Secara terpisah, Kepala Galeri Nasional Indonesia Tubagus Andre Sukmana mengatakan, melukis sebenarnya harus menyenangkan karena merupakan satu proses yang mendasarkan jiwa.

"Kalau Sujoyono dulu menjargonkan melukis itu ’jiwa ketok’, artinya bagian dari ekspresi jiwa dia dalam kondisi apa pun," katanya.

Menurut dia, lukisan karya pelukis Banyumas harus ada pengembangan dengan cara mengundang pengamat atau seniman profesional sehingga ilmunya bisa saling tertularkan karena dalam lukisan-lukisan yang dipamerkan masih banyak menunjukkan sifat individual.

Dalam hal ini, dia mencontohkan ada lukisan yang telah memasuki wilayah-wilayah alam supranatural yang dimodifikasi dengan alam nyata, ada yang membidik tradisi atau budaya lokal, dan ada pula yang membidik pada persoalan politik, lingkungan, maupun kekagumannya kepada tokoh-tokoh.

Selain workshop dan melukis bersama, dalam kegiatan ini juga dipajang sejumlah lukisan karya pelukis Banyumas, antara lain lukisan berjudul "Cowongan" karya Hadi Wijaya yang menggambarkan sebuah ritual masyarakat Banyumas serta lukisan tentang legenda Curug Cipendok yang merupakan hasil kolaborasi antara Hadi Wijaya dan Titut Edy Purwanto.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono