BBC Indonesia
Ilustrasi
SLEMAN, KOMPAS.com--Pembantu Rektor IV Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Dr Siswanto Masruri MA menilai ajaran Islam yang diturunkan di semenanjung Arabia melalui Rosul Muhammad SAW, disebarkan melalui hikmah dan nasihat yang baik.
"Bukan dengan cara kekerasan, dan paksaan, karena sesungguhnya Islam adalah agama yang toleran, menawarkan cinta dan kedamaian," katanya ketika membuka Seminar Internasional bertema ’The Relevance of Sheria Whit Conteporary Humanitarian Law: Avoiding Apologenic Intellectual Orientations’, di kampus setempat, Selasa.
Ia mengatakan doktrin-doktrin Islam dan fakta sejarah yang dipraktikkan kaum Muslim dalam peperangan semasa hidup Rosul Muhammad SAW, dan pada masa sahabat Rosul, juga sangat menjunjung tinggi kemanusiaan.
Menurut dia, Rosul Muhmmad SAW berkali-kali mengalami masa peperangan, juga pada masa kepemimpinan Abu Bakar (sahabat Nabi), selalu menekankan untuk tidak sekali-kali membunuh wanita, anak-anak, orang tua renta, tidak menebangi pepohonan, tidak melakukan pembakaran, menghancurkan tempat tinggal, dan membunuh sapi maupun kambing, kecuali hanya sekadar menyembelih untuk dimakan.
"Melalui forum yang merupakan kolaborasi antara Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga, Komite Palang Merah Internasional (ICRC), dan Penerbit Mizan Bandung ini, diharapkan akan terungkap titik temu antara prinsip-prinsip Islam yang telah terkompilasi dalam Hukum Islam dengan Hukum Humaniter Internasional, dari perspektif akademik yang ilmiah dan objektif," katanya.
Ia mengatakan Hukum Humaniter Internasional (HHI) atau biasa disebut Hukum Perang dan Hukum Konflik bersenjata, pada dasarnya terinspirasi prinsip-prinsip Islam tersebut. "Jadi, Henry Dunant, Bapak Palang Merah Dunia yang menjadi cikal bakal modern tentang HHI, bukanlah penemu prinsip-prinsip yang menjadi akar HHI," katanya.
Kepala Delegasi "International Commite Cross Red" (ICRC) atau Komite Internasional Palang Merah Frederic Fournier mengatakan prinsip-prinsip Islam saat menghadapi peperangan diungkap kembali secara gamlang dalam buku berjudul "Islam dan Hukum Humaniter Internasional" karya Dr Ameur Zemali (Pakar Hukum Islam dan Penasihat Hukum ICRC di Aman), yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Mizan Bandung.
"Buku ini juga mengungkap doktrin-doktrin Islam dan fakta sejarah yang dipraktikkan kaum Muslim dalam peperangan yang disajikan dalam bingkai kemanusiaan, dan membandingkan dengan HHI. Semua penulis dalam buku ini sepakat bahwa Islam dan HHI, sesungguhnya bertemu dalam spirit yang sama, yakni menjaga martabat manusia dan menghindari perusakan," katanya.
Sementara itu, Dr Ameur Zemmali yang hadir menjadi pembicara dalam buku ini menyampaikan bahwa karyanya ini merupakan kumpulan karya para sarjana Muslim yang ahli di bidangnya, selain ada tulisan dua orang ahli hukum Barat.
"Buku ini berisi pandangan-pandangan dari sudut ahli syari'ah, dari sudut pandangan ahli hukum internasional modern serta pakar hukum militer. Buku ini berisi karya karya ilmiah yang memberikan pandangan kepada pembaca perhatian terhadap masalah perlindungan korban perang/konflik/kekerasan," katanya.
Menurut dia, buku ini bisa dijadikan referensi menarik untuk membuat studi dan penelitian tentang tema yang akan tetap selalu muncul selama masih ada benturan antar bangsa atau internal suatu bangsa.
"Di era konsumerisme atau jaringan informasi internasional (internet) dengan persaingan yang sangat ketat ini misalnya, buku ini menjadi penting, untuk menemukan afirmasi wacana, ketika menemukan benturan peradaban dan sejumlah efek yang telah memperlebar jarak antara Islam dengan Dunia Barat. Bagi masyarakat muslim, buku ini juga menjadi afirmasi terhadap komitmen mereka, terhadap nilai-nilai universal kemanusiaan dalam akidah, pemikiran dan sikap," katanya.
Ia mengatakan, melalui buku ini, ICRC akan memperluas dan mematangkan dialog dengan berbagai pihak terkait dan mereka yang memiliki perhatian terhadap kerja kemanusiaan, asas-asas fikih dan pijakan-pijakan pemikiran dan budayanya.
"Dalam hal ini, karya-karya ilmiah bermutu dari para akademisi Muslim yang mengimplementasikan doktrin-doktrin dan prinsip-prinsip Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, cinta kasih dan perdamaian dalam tema kekinian sangat diharapkan untuk meluruskan jalannya perjuangan ICRC," katanya.
