KOMPAS/THOMAS PUDJO WIDIJANTO
Inilah bangunan Gereja St Yakobus di Bantul yang merupakan salah satu karya aritek E Pradipto. Sayang, bangunan ini akhirnya dirobohkan ketika pihak gereja ingin mendirikan bangunan permanen. E Pradipto menggelar pameran foto karya-karyanya di Bentara Budaya Yogya, 12-15 Mei 2012.
KOMPAS.com — Dunia arsitektur memang dunia keindahan dalam sebuah rancang bangun. Entah itu dalam bangunan rumah, gedung bertingkat, hotel, atau bangunan apa pun.
Namun, tidak selalu benar bahwa dalam pameran arsitektur, keindahan itu selalu berorientasi pada elitisme sebuah rancang bangun. Kalau pandangan itu mengakar kuat di kalangan arsitek, sesungguhnya tidak ada keindahan dalam dunia arsitektur di kalangan masyarakat bawah.
Pameran karya arsitektur Eugenius Pradipto, dosen arsitektur Universitas Gadjah Mada di Bentara Budaya Yogyakara, Sabtu-Selasa (12-15/5/2012), misalnya, justru ingin berbicara lain tentang keindahan sebuah arsitektur.
Pameran itu seperti ingin menunjukkan bahwa tak perlu menjadi kaum elit yang berduit ketika akan menggapai keindahan arsitektur yang spektakuler. Namun, kaum masyarakat bawah juga punya hak keindahan dalam dunia arsitektur dengan segala keterbatasan dana.
Hal itu tecermin dalam karya-karya arsitektur Pradipto yang dipamerkan dalam bentuk foto. Lebih dari 50 foto karya arsitektur Pradipto dipamerkan. Hampir semuanya menggunakan bambu sebagai bahan konstruksi dan ornamen.
Berbagai bentuk rancang bangun, mulai dari yang mirip limasan Jawa, arsitektur Bali, atau campuran ada di antara model itu. Karya arsitektur yang dipamerkan mulai dari bangunan untuk masyarakat (bawah) sampai karya hotel berbintang.
Khusus rancang bangun Hotel Tembi yang terletak di Jalan Parangtritis, Bantul, Yogyakarta, yang ikut dipamerkan, terkesan bangunan itu sangat mengakrabi lingkungan. Meskipun tidak seluruh konstruksi berasal dari bambu, hotel yang tergolong berbintang itu tetap terkesan membumi. Artinya, tetap berada dalam suasana sama rasa dengan lingkungan sekitarnya yang memang masih di alam desa.
Bangunan hunian sementara (huntara) bagi para korban letusan Gunung Merapi, akhir 2010 lalu, terkesan tidak dibuat dengan tata arsitektur serampangan. Meskipun seluruh konstruksinya dari bambu, huntara tetap terkesan artististik, unik, dan eksotis.
Huntara itu oleh Pradipta dibuat dalam arsitektur rumah panggung. Ini bukan saja untuk kenyamanan penghuninya, melainkan juga ada faktor penghematan.
Kalau lantai langsung di tanah, jelas dibutuhkan pengerasan dengan semen atau bahkan mungkin keramik. Dengan bentuk panggung, tidak diperlukan tempat tidur. Dengan lantai panggung yang terbuat dari bambu, penghuni cukup meletakkan kasur di atasnya.
Untuk menghubungkan rumah panggung satu dengan yang lain, Pradipto membangun jembatan bambu ke berbagai arah sehingga jalur komunikasi antarwarga bisa berlangsung.
Karya arsitektur bambu yang terlihat lebih besar dan spekatuler adalah bangunan Gereja St Yakobus di Bantul. Mulai dari tempat duduk jemaat sampai dinding dan altar, semua konstruksi dan ornamennya terbuat dari bambu. Namun, sayang, karena keterbatasan dana, bangunan artistik ini harus dirobohkan ketika pihak gereja ingin membuat bangunan permanen.
"Menyesal ya menyesal, kecewa, sedih memang, tetapi itu kenyataan," kata Pradipto dalam tulisan yang tertempel di sebelah foto karya arstiektur gereja itu.
Kolega Pradipto sesama dosen arsitektur UGM yang tergabung dalam komunitas Jaran Goyang sebagai penyelenggara pameran itu memang sangat apresiatif terhadap karya Pradipto. Aki Adishakti, Sita Adishakti, Puguh Harijono, dan Fadjar Prabowo, misalnya, angkat jempol atas karya-karya Pradipto.
"Sebuah karya tidak memerlukan penilaian, melainkan pengakuan jujur atas nilai-nilai yang muncul darinya. Itu pula yang telah nyata dilakukan oleh Pradipto, seorang arsitek yang karya-karyanya walau tak bersuara telah berbicara banyak tentang sebuah kesederhanaan. Berdialog dengan alam dan lingkungannya," begitu tulis mereka dalam katalog pengantar pameran.
