Rabu, 19 Juni 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 19 Juni 2013 | 23:58 WIB
MUI Babel: Suara Ulama Tidak Didengar
Jumat, 11 Mei 2012 | 23:14 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
SHUTTERSTOCK Ilustrasi gadis malam

PANGKAL PINANG, KOMPAS.com Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) KH Usman Fathan menyatakan, suara ulama sudah tidak lagi didengar umat sehingga penyakit masyarakat (pekat) berupa pelacuran, narkoba, asusila, dan lainnya kian memprihatinkan.

"Para ulama selalu menyampaikan syiar Islam di berbagai masjid mengajak umat melaksanakan kebaikan sesuai nilai-nilai kitab suci Al Quran, tetapi tidak lagi didengar masyarakat," ujarnya di Pangkal Pinang, Jumat (11/5/2012), menanggapi maraknya penyakit masyarakat di daerah itu.

Ia menjelaskan, setiap waktu kami keliling menyampaikan pesan-pesan Islam ke berbagai masjid dengan mengajak umat supaya menjauhi perilaku yang menyimpang dengan nilai Islam, tetapi yang datang ke masjid tidak seberapa dan orangnya itu-itu saja.

Namun, masyarakat terutama kalangan generasi muda lebih memilih keluar malam atau menonton tayangan-tayangan asusila di media massa elektronik berupa film porno, sadis, kekerasan, eksploitasi, dan yang sejenisnya.

"Akhirnya masyarakat terpengaruh tayangan media elektronik televisi yang selalu menampilkan adegan dan pakaian porno tidak menutup aurat atau hanya memakai celana minim hingga di atas lutut dan aksesori yang vulgar tanpa menutupi aurat," ujarnya.

Selain itu, katanya, tayangan sadistis dan kekerasan di televisi memengaruhi perilaku masyarakat dengan tidak berpikir banyak yang tega melakukan berbagai tindakan kekerasan yang tidak menusiawi dan melukai orang lain.

Ketua MUI itu menegaskan, media massa, terutama televisi, sebagai penyebab kehancuran moral generasi muda di Bangka Belitung sehingga banyak kasus pelacuran anak-anak di bawah umur, bahkan sejumlah anak sekolah di SMP dan SMA atau SMK serta mahasiswa terlibat seks bebas.

"Kalau ingin ada perbaikan moral generasi muda, pemerintah harus mengontrol ketat siaran media massa yang sadistis, pornografi, dan pornoaksi tersebut. Kalau diharapkan orang tua atau para guru, jangan berharap bisa diatasi karena media lebih mempengaruhi jalan pikiran mereka," ujarnya.

Menurut dia, sejak lama para ulama selalu menentang tayangan pornografi di televisi atau media massa lainnya. Namun, kenyataannya tidak pernah berhenti, bahkan intensitas tayangannya semakin meningkat.

Bahkan, katanya, institusi yang dibentuk pemerintah untuk mengawasi siaran televisi dan media elektronik lainnya dalam kenyataannya tidak berjalan dengan semestinya sehingga gaya hidup modern yang serba instan para generasi muda sekarang ini sudah kian memprihatinkan.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono