Rabu, 19 Juni 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 19 Juni 2013 | 04:37 WIB
Dokumentasi Film
Pusat Dokumentasi Film Koleksi Sinematek Nyaris Hancur
Penulis: Lusiana Indriasari | Senin, 7 Mei 2012 | 18:06 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Pekerja memeriksa poster film-film lama yang disimpan di ruangan milik Sinematek Indonesia di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Jumat (4/5/2012). Sinematek Indonesia menjadi pusat dokumentasi dan informasi tentang perkembangan perfilman di Indonesia.
Foto:

JAKARTA, KOMPAS.com — Pusat Dokumentasi dan Informasi Perfilman Indonesia (Sinematek Indonesia) menyimpan ribuan koleksi film Indonesia sejak film kali pertama diproduksi di negeri ini pada tahun 1926. Namun, karya-karya yang menjadi bagian dari sejarah perfilman nasional tersebut nyaris hancur karena Sinematek kekurangan dana.

Di tengah ketidakpedulian pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya, pengelola Sinematek berusaha menyelamatkan koleksi yang mereka miliki. Setiap hari mereka merawat film-film tersebut agar tidak berkarat dan mengandung tingkat keasaman tinggi.

Dari sekitar 2.000 film, mereka hanya bisa merawat 20 film per hari secara berkala. Siklus perawatan satu film hanya bisa dilakukan setiap enam bulan sekali. Padahal, idealnya satu film harus dirawat setiap empat bulan sekali agar tidak "dimakan" asam dan karat.

"Kadar asam yang tinggi akan menghancurkan film dalam waktu 5-6 bulan," kata Berthy Ibrahim, Direktur Sinematek Indonesia, Senin (7/5/2012).

Ada sekitar 500 film yang perlu segera diselamatkan dari kehancuran. Selain dibersihkan, film-film tersebut harus segera direstorasi agar bisa diputar kembali. Karena rusak, pihak Sinematek menetapkan sebagian besar film tidak akan diputar lagi mengingat media filmnya sudah sangat tipis.

Sinematek Indonesia adalah lembaga swasta nirlaba yang didirikan pada tahun 1972 oleh almarhum sutradara Asrul Sani dan Misbach Yusa Biran (almarhum). Keduanya bercita-cita memiliki pusat dokumentasi film terlengkap yang bisa merekam jejak sejarah perfilman nasional.

Pusat dokumentasi ini mengumpulkan berbagai jenis film, sejak film kali pertama diproduksi di Indonesia pada tahun 1926 hingga film-film produksi terkini. Selain film, Sinematek juga menyimpan ratusan naskah film yang ditulis sutradara berkualitas, seperti Asrul Sani, Usmar Ismail, Wim Umboh, dan Wahyu Sihombing.

Jumlah koleksinya saat ini tercatat 187 judul film cerita dalam bentuk film positif (film yang suara dan gambarnya sudah digabungkan) dan 548 judul negatif film (gambar dan suara masih terpisah).

Berthy menunjukkan beberapa film yang warnanya sudah berubah menjadi merah karena asam. Ketika plastik tempat penyimpanan film dibuka, bau asam sangat menyengat nyaris membuat orang tersedak.

Firdaus, petugas perawatan film Sinematek, mengatakan, banyak film yang putus ketika sedang dibersihkan karena kondisinya sudah rapuh. Film-film tersebut terpaksa ia sambung agar bisa utuh kembali.

Editor :
Marcus Suprihadi