Severity: Notice
Message: Undefined variable: url_twitter
Filename: views/read_view.php
Line Number: 93
Api
Api yang kukalungkan
di pergelangan kaki
sudah tak panas lagi
Asapnya membubung
entah kemana
tak lagi beraroma
Harusnya ini api
tetap menyala
Mengantar mimpi
menuju syurga
nyalaapi, d10m3y12
Bumi
Beginilah malam
Selalu dihujani kegelapan
Berpijak pun jadi sungkan
Sementara bumi mengemis-ngemis
minta pelukan
Ia ketakutan
Mimpi kejatuhan bulan
Kejatuhan harapan
rutemalam, d13m3y12
Gagak Hitam
Malam, gagak hitam mengumandangkan azan
Bersahut-sahutan mengundang kematian
Sedang persiapanku belum mapan
Masih banyak sajak belum kubajak
Masih banyak tanah belum kupijak
Bantulah aku dulu, tuan
Mewarnai malam agar tak melulu berwarna hitam
Merah barangkali akan terlihat lebih bergairah
Seperti darah yang tumpah di pagi-pagi amarah
Di teras-teras gundah
rutemalam, d13m3y12
Bimbang
Ah, kopi ini semakin hambar rasanya
Lidah matirasa atau hati matibaca?
Hingga yang mana gula yang mana nyawa
tak mampu kucerna
Padahal keduanya jauh berbeda
Satu di dunia
Satu lagi entah dimana
Memaksa mencarinya
Aku gila
rutemalam, d13m3y12
Perjalanan Pulang
“Menyerahlah!, jalanan sudah basah oleh darah,
nanti kau terperosok ke barzah,” kata seseorang
yang mengaku dirinya adalah aku
“Benar, berhenti saja melangkah
atau arimatamu akan tumpah,” sambung seseorang
yang mengaku sebagai aku yang lain
“Setelah berpeluh-gerah,
kau akan bersumpah-serapah,” kecam seseorang
yang juga mengaku sebagai aku yang ke sekian entah
Lalu aku yang benar-benar aku
Tetap berjalan pulang
ke pemakaman
rutemalam, d13m3y12
Waktu
Jam sudah muak berdetik-detak meyanyikan waktu
Berputar menurun-meninggi di wajahku
Menghitung kerut satu demi satu
Malu demi malu
jalawaktu, d13m3y12
Makmur HM adalah pria kelahiran 2 Mei 1990 yang sedang 'jungkir balik' menekuni sastra, terutama puisi selain masih tercatat sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Abdurrab Pekanbaru-Riau ia juga beraktifitas sebagai Designer Tata Letak di Harian Metro Riau.
