KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ
Gerhana bulan yang mulai pulih terlihat dari Medan, Sabtu (10/12/2011) malam.
MEI
Tak terasa, saat ini kita telah mendarat di pelataran Mei sayang, tepatnya beberapa jam yang lalu, setelah kau semakin menjadi merpati, terbang sayup-sayup, menuju mimpi. Ah ... sialnya, lagi-lagi aku tak bisa tidur malam ini, jadi kumohon, tunggu aku di jendela yang telah kuberi tirai bunga-bunga, tenanglah, mereka tak terlalu wangi sepertimu, dan duduklah, biar kupandangi saja kau; hingga fajar.
Memang, seperti sudah seharusnya, sangat kucintai nama bulan ini, Mei; dia terlahir di Gunung Killene - Arkadia. Sebuah tempat yang suci, keramat, tak terjamah, dan harmonis, seperti juga alasan; betapa kumengagumimu ... Manis.
Sayang, jika Tuhan berkehendak, kelak, kuingin kau yang menuliskan nama bulan ini di nisanku nanti, setelah kupasrahkan diri dalam sebuah pagi yang hangat, di pangkuanmu, kan kuucapkan beberapa kalimat:
"Jika saja kumampu, akan kubawakan hujan sekarang ini, dalam derasnya kita akan berlarian, tetap bergandengan tangan, berpesta bebasahan, kuyup-kuyup dengan satu tujuan; agar mereka tak tahu bahwa sebenarnya kita sedang menangis".
Menangisi sebuah pertemuan dan perpisahan tentu tak sama, begitu juga kematian, di masa itu, aku hanya bertugas lebih dulu, membangun istana ternyaman, menunggumu pulang.
Sayang, rayakanlah, bulan baru-harapan baru, dengan Mei-kita abadi.
Cirebon, 1 Mei 2012 | 03 : 45 WIB
PEREMPUAN ITU
[Ke pangkuan: Buya KH. Husein Muhammad dan Mbak Lies Marcoes Natsir]
Kali ini Shubuh datang dengan sangat sederhana, sisa-sisa bintang sekedarnya, atau, membanggakan cecahya surya-pun akan sangat di nilai terlalu belia.
- Saat itu, aku ingat ... embun-pun masih sangat nampak kedinginan -
Tapi, ini pembicaraan kilau-kilau hijau, di tengahnya mengalir sebuah pematang, dan ... perempuan yang kata mereka: “tak pernah anggun” - berjalan penuh suci niat-niat. Menuju cecita yang terbungkus tunas-tunas.
Lalu,
“Untuk apa pagi-pagi, kepada siapa padi-padi?”
Senyumnya menyapa: “untuk seluruh Indonesia”.
Cirebon, Juli 2010
KEMPEK
Purnama telah tumpah,
Menjadi sebaris kaligrafi keramat, di hatiku.
Malam itu.
Siangnya, aku menghadapmu lagi, mengaji kembali.
Pantas saja,
Kangkung, ilalang, semanggen sekalipun, mereka akan berdzikir, jika di tanahmu.
“Alaa laa tanaalul ‘ilma illa bisittatin # Saun biika anmajmuu ihaa bibayaani.
Dzukaaun wa hirsun washthibarun wa bulghatun # Wa irsyaadu ustaadzin wa’thuulu zamaani”.*
Inilah sepenggal nadzom yang pernah kucuri, dengan sangat hati-hati, dari dadamu.
Kemudian dengan sangat gugup kuberi sebuah judul
; rindu.
Cirebon, 19 April 2012
* Dikutip dari nadzom kitab Ala Laa Tanalul ‘Ilma karya Muhammad bin Ahmad Nabhan.
HARI-HARI LANGIT
[Sebaris puisi yang sangat membenci kekerasan atas nama kitab dan hadits-hadits Nabi]
Tuhan, akhir-akhir ini kami merasa sangat dekat sekali denganMu, meski mungkin Kau tak begitu suka.
kami tak dulu mandi, apalagi gosok gigi.
Kau pernah berkata melalui ayat-ayat, surat-surat, dan kitab-kitab bukan? Tanpa seizinMu telah kami jual per-kilo gram, ternyata dengan pengatas-namaanMu, di pasar lebih laku.
Di negeri ini, kami sangat dekat denganMu,
setiap menulis nama atau apapun yang merujukMu pasti menggunakan huruf-huruf kapital, meski kami juga berpikir ulang untuk mencetak tebal, bukankah dalam etika ekonomi terdapat bab-bab tentang modal?
Tuhan,
kami tahu Kau marah, maka kutuklah kami, dengan menurunkan ayat-ayat kembali, dan bisa kami jual untuk kebutuhan besok pagi.
Jakarta, 3 Maret 2011
Mbem
Selalu kusebut namamu Mbem.
Meski selama ini tak pernah lagi kutemukan hari ulang tahunmu.
Kalenderku semuanya telah memerah, terbakar.
Hariku sudah terlibur, hancur.
Namun, ku tetap berdiri di sini, pada tanggal-tanggal yang pernah kau lingkari, semacam terjebak, hanya saja kutak mampu tuk membahasakannya.
Selalu kusebut namamu Mbem.
Di warung tikungan sebelum kampus itu, kau ingat? Rindu-rindu kita sudah mulai dipasang dengan harga mahal. Sedangkan aku, hanya bersama beberapa batang rokok menunggunya; untuk turun.
Selalu kusebut namamu Mbem.
Terlebih, pada saat-saat seperti ini,
waktu tersulit untuk menuntaskan puisi-puisi.
Cirebon, 10 April 2012
Sobih Adnan (Obic Adnanie) adalah alumni Pondok Pesantren Kempek-Cirebon dan mahasiswa Pemikiran Islam (Ushuluddin) di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon. Pemimpin Redaksi majalah LATAR, dan aktif di Lembaga Kebudayaan Mahasiswa (LKM) RUMBA GRAGE Cirebon. Buku yang pernah ia terbitkan adalah Antologi Sastra “Nyanian Gagang Telepon”. PT. Wedyatama Widya Sastra (WWS) : 2009.
