Severity: Notice
Message: Undefined variable: url_twitter
Filename: views/read_view.php
Line Number: 93
JAKARTA, KOMPAS.com- Kebudayaan diyakini memiliki peran sangat signifikan dalam memajukan atau menurunkan kualitas hidup suatu bangsa. Namun, Indonesia nampaknya belum mengoptimalkan peranan kebudayaan dalam memajukan kehidupan bangsa dan negara.
Meski Indonesia memiliki kebudayaan yang beraneka ragam, kebudayaan khusus tersebut belum benar-benar menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang tangguh dengan segenap pencapaian dan prestasi yang membanggakan.
Mengapa Indonesia yang memiliki kebudayaan khusus, seperti Ignas Kleden katakan, tidak mendorong kemajuan bangsa Indonesia sendiri? Bagaimana sesungguhnya kebudayaan Indonesia?
Sampai sejauh mana sebenarnya faktor-faktor budaya membentuk perkembangan ekonomi dan politik Indonesia? Jika budaya memang memiliki andil, lantas bagaimana hambatan budaya terhadap perkembangan ekonomi dan politik dapat dihilangkan atau diubah guna memfasilitasi kemajuan?
Untuk mewujudkan harapan tersebut, Nabil Society, satu unit organisasi yang berada di bawah naungan Yayasan Nabil, bekerjasama dengan Jurusan Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan dan Harian Kompas akan mengadakan seminar publik bertajuk "Peran Kebudayaan untuk Kemajuan Bangsa" pada Selasa, 8 Mei 2012, pukul 09.30 12.30 di Ruang Mgr Geise Lecturer FISIP Universitas Parahyangan, Ciumbuleuit, Bandung.
Pembicara yang hadir adalah Yudi Latif (Reform Institute) yang membahas Cross Cultural Fertilization Untuk Kemajuan Bangsa, Yasraf Amir Pilliang (Institute Teknologi Bandung) membahas Cross Cultural Fertilization Sebagai Titik-Temu Kebudayaan Indonesia, serta Arie Indra Chandra (FISIP Universitas Katolik Parahyangan) yang membahas Peran Kebudayaan untuk Kemajuan Bangsa.
Aan Rukmana, Ketua Harian Nabil Society di Jakarta, Jumat (4/5/2012), mengatakan, seminar ini menawarkan cross cultural fertilization sebagai suatu strategi kebudayaan yang diharapkan mampu memfasilitasi kemajuan bangsa Indonesia. Bangsa ini dengan kebudayaannya yang ebsar semestinya dapat tampil dan bersaing di tantangan global.
Aan menjelaskan, Yayasan Nabil yang dimotori Eddie Lembong mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut dengan berusaha memopulerkan istilah Cross Cultural Fertilization yang artinya bahwa untuk memajukan Indonesia kita harus dapat melakukan penyerbukan silang antar budaya yang ada di Indonesia sendiri. Jadi saripati-saripati budaya yang berkualitas dan memiliki nilai dorong kemajuan dapat diserbukkan dengan nilai-nilai budaya lain yang terdapat di bumi Indonesia ini. Diharapkan dengan penyerbukan silang antar budaya tersebut, Indonesia akan tampil menjadi bangsa besar yang disegani oleh bangsa-bangsa lainnya.
Untuk informasi lebih lanjut terkait seminar inidi dapat menghubungi email: yayasan_nabil@yahoo.co.id.
