Rabu, 19 Juni 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 19 Juni 2013 | 06:31 WIB
Didik Nini Thowok
Ketika Walang Kekek Belajar Topeng Cirebon
Penulis: Rini Kustiasih | Selasa, 1 Mei 2012 | 18:09 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
KOMPAS/RINI KUSTIASIH Penari Didik Nini Thowok (tengah) menari Tarian Komedi Walangkekek di Kampung Ciluwung, Desa Kedung Bunder, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Jumat (13/4/2012). Di kampung itulah Didik belajar tari Topeng Cirebon gaya Palimanan dari Mimi Sudji, sekitar tahun 1977.

Oleh: Rini Kustiasih   

Penghargaan kepada guru terkasih membuat Didik hampir setiap tahun berziarah ke makam Mimi Sudji.

Walang kekek menclok ning tembok
Mabur maneh menclok ning pari

Ojo ngenyek yo mas, karo wong wedok
Yen ditinggal lungo setengah mati  

KOMPAS.com- Rekaman lagu Walangkekek yang dinyanyikan pesinden Waljinah itu menggema diiringi gamelan Jawa yang mendayu. Di atas panggung, sosok tinggi putih, bermulut mencong, menyonyo, berpulas bibir warna merah, dengan dahi lebar, tampil luwes dengan tangan yang seolah tak bertulang. Penonton pun tergelak-gelak ketika dua lengan penari itu diangkat sejajar ke samping, sementara bagian bawah lengan tergantung. Persis seperti tangan tokoh wayang.

Akan tetapi, itu hanya topeng. Ketika topeng dilepas, penonton dibuat deg-degan. Kira-kira apa lagi wajah yang muncul dari balik selendang. Ladalah! kali ini wajah nenek tua yang tampil. Saat musik jaipong menghentak, nenek itu menari jaipong. Dan ketika kemudian musik berganti irama disko, kepala di nenek pun geleng-geleng. Tangan kirinya berkacak pinggang sambil telunjuk tangan kanannya diangkat ke atas. Tangan berputar, pantat pun mengikuti. Ah, mantap betul rupanya si nenek berdisko.

Panggung kayu dengan penerangan lampu neon seadanya itu menjadi saksi kebahagiaan warga Kampung Ciluwung, Desa Kedung Bunder, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Jumat (13/4/2012) malam lalu. Seniman tari Didik Nini Thowok berulah dengan menampilkan tarian komedi Walangkekek disaksikan ratusan warga kampung. Penampilan Didik itu seperti pesta kecil menyambut anak terkasih yang lama tak bertemu, seperti rindu yang terpenuhi.

Didik memang punya sejarah dengan Ciluwung. Di kampung yang berada sekitar 500 meter dari ruas Jalan Palimanan-Cirebon itulah, Didik belajar menari Topeng Cirebon gaya Palimanan di rumah Mimi (Ibu) Sudji (almarhumah), sekitar tahun 1977-1979.

"Sekitar tahun itulah, saya lupa pastinya. Saya tinggal di sini sebulan. Mimi Sudji mengajari saya menari sambil memarut kelapa di dapur. Sambil begini ini, ya, dia bilang bukan begitu tangannya. Nah begini ini harusnya tangannya digerakkan," ujar Didik sembari mempraktikkan jari tangannya yang gemulai menirukan ajaran gurunya. "Kalau sedang luang, Mimi Sudji mengawasi saya langsung belajar Topeng," lanjut Didik yang bernama asli Kwee Tjoen Lian itu.

Sebulan di bawah ampuan Mimi Sudji, jiwa Tari Topeng rupanya melekat dalam perjalanan karir Didik puluhan tahun kemudian. Tari Dwi Muka hasil kreasi Nini Thowok, misalnya, adalah kombinasi antara Tari Topeng Cirebon Palimanan dengan Tari Legong dari Bali.

Dalam tarian ini, Didik mengenakan dua topeng di depan maupun bagian belakang kepalanya. Kadang kala, topeng hanya dikenakan di satu sisi, yakni di kepala bagian belakang. Dengan keluwesan Didik, ia menarik terbalik. Seolah-olah ia menari dari depan, padahal, itu adalah penampakan bagian belakang badannya. Tangannya berputar, melintir, layaknya karet. Luwes sekali.

Yang tidak ketinggalan dari tari Dwi Muka adalah tekes atau sobra, yakni penutup kepala yang dihiasi rawis atau untaian tali panjang. Tekes atau sobra adalah ciri khas Tari Topeng Cirebon.

Sepanjang karir Didik sebagai penari, Tari Dwi Muka tampil di banyak negara, antara lain Jepang, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan negara-negara tetangga seperti Singapura. "Tari Topeng pun dengan demikian ikut mendunia," ungkap pria kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, 13 November 1954.

Penghargaan kepada guru terkasih membuat Didik hampir setiap tahun berziarah ke makam Mimi Sudji. Kedatangan Didik pada Jumat sore hingga tampil di pentas malam harinya juga adalah bentuk kerinduan dan penghargaannya kepada Sang Guru. Mimi Sudji berpulang pada tahun 1982.

"Di belakang rumah ini (rumah Mimi Sudji) dulu ada sumur yang bening sekali. Di belakangnya juga ada rumah Mimi Dasih. Lalu ada sungai di sana. Saya biasa mandi di sana, dan ada Mbak Eri (cucu Mimi Sudji) yang mengambilkan air di ember. Itu dulu sekali waktu saya masih perawan," ungkap Didik berkelakar.  

Mimi Tursini   

Kini, rumah yang dinamai Sanggar Sudji Mekar Harum itu dikelola oleh anak Mimi Sudji yang juga guru Tari Topeng, Mimi Tursini (74). Pada Jumat malam itu, Mimi Tursini ikut menarikan Topeng Panji. Sekalipun gerakannya seperti lebih banyak diam, namun ini adalah urutan tarian Topeng yang paling sukar ditarikan. Gerakan menyangga badan dengan kedua kaki yang melebar dengan bertumpu pada lutut memerlukan latihan terus-menerus.

Seniman tari Topeng lainnya dari Indramayu, Wangi Indriya (51), pernah mengatakan, untuk bisa menjaga keseimbangan badan pada posisi itu adalah ekstrasulit. Tidak banyak penari menguasai Topeng Panji.

Saat Mimi Tursini mengenakan kedoknya dan memeragakan gerakan ugel, obah bahu, dan seblak di atas panggung, Didik Nini Thowok di depan panggung yang jaraknya sekitar tujuh meter, tiba-tiba ikut terbawa. Tangannya ikut melintir, bahunya naik tur un, jari-jarinya meliuk di depan dada, dan matanya lurus menatap ke arah Mimi Tursini di panggung. Pada sebuah jarak yang anonim, seperti ada jalinan energi tak terlihat, keduanya bergerak seirama.

Semangat menari Mimi Tursini itu seperti mengalihkan kegundahannya. Keluarga Mimi Tursini agak bertanya-tanya lantaran pemerintah kian kurang peduli pada sanggar mereka. Pada sebuah acara anugerah budaya beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan bantuan kepada sanggar lain. Sanggar itu dikelola oleh salah satu murid Mimi Sudji, masih di daerah Palimanan.

"Bagus sekali ada pemberian bantuan kepada seniman. Namun, ada sedikit pertanyaan di hati kami, kenapa justru Sanggar Mimi Sudji yang agak tak terperhatikan," ungkap Titi Maryati (26), salah satu murid Mimi Tursini yang juga penanggung jawab pentas dadakan Didik Nini Thowok di Ciluwung. Kendati demikian, itu tak jadi soal.  

Walangkekek Nopeng

Setiap hari, puluhan siswa berlatih menari di rumah Mimi Sudji yang kini diteruskan Mimi Tursini. Banyak di antara mereka yang tak dipungut biaya. Bagi yang sedikit mampu dan berkerelaan, mereka boleh menyumbang berapa pun untuk berlatih menari. Yuni (48), warga Palimanan, misalnya, menyumbang Rp 500.000 untuk satu paket tarian yang dipelajari anaknya Annisah (7). Anak saya sudah bisa menari tiga macam tarian topeng, yakni Kelana, Samba, dan Rumyang, katanya berbinar.

Di balai-balai rumah, anak-anak yang hendak tampil bersama Didik Nini Thowok pun terlihat gugup. Keringat membasahi riasan mereka. Namun, anak-anak yang umurnya paling tua 15 tahun itu tampak antusias menunggu Nini Thowok. Mereka bahkan sudah berdandan sejak pagi. Padahal, Didik baru tampil seusai Maghrib. Kegiatan itu terlambat dari jadwal, yakni yang semestinya dimulai pukul 13.00 molor hing ga pukul 16.00.

Seusai menarikan Walangkekek, Didik pun didaulat oleh Mimi Tursini untuk menari Topeng Kelana. Dengan jujur, Didik mengakui dirinya sudah banyak lupa gerakan Kelana. "Tidak apa-apa ya Mimi, kalau saya lupa. Nanti biar saya mengikuti gerakan adik-adik," kata Didik merendah.

Dan, benarlah. Di atas panggung, dua remaja cilik bernama Febri dan Amel seperti menjadi guru bagi Didik yang malam itu, walau sedikit lupa, tetap menawan, enerjik, dan luwes menarikan Kelana. Belajar dari kerendahan hati gurunya, Mimi Sudji, rupanya Didik Nini Thowok di atas panggung menjelma murid dan guru sekaligus...

 

 

Editor :
Marcus Suprihadi