Oleh Nurul Hayat
Ketika melukis beras, ia harus menjadi petani. Ketika melukis danau, ia harus ke danau. Begitulah dia, "bersetubuh" dengan objek yang akan dilukisnya. Bersetubuh dalam pengertian, melakoni atau berperan dalam keberadaan objek lukis membuat seorang Zul merasa hidup, dan inspirasinya muncul.
Bermula dari goresan tinta china pada sebatang korek api, tangannya menari-nari di atas kertas gambar. "Seperti bernapas. Mengalir begitu saja," kata Alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 1998 tersebut.
Zul Muhammad Sani (40), pemilik dan pengelola Borneo Fine Art Gallery di Jalan Sultan Hamid, Pontianak. Bangunan rumah toko yang menjadi galeri tersebut sekaligus sebagai tempat tinggal lajang kelahiran Pontianak, 24 September 1972.
Sejak lama ia ingin memiliki galeri sendiri. Bermula dari sebuah rumah kontrakan di Jalan Camar beberapa tahun lalu. Dan sejak 2008, ia mendiami galeri yang lebih luas disertai kamar tamu di kawasan Pontianak Timur tersebut, dengan biaya sewa Rp15 juta setahun. "Ini impian saya. Tetapi sesungguhnya kini saya menyiapkan galeri lainnya di Pulau Kabung," kata dia saat ditemui di ruang pamer galeri tersebut.
Pulau Kabung berada di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang. Di sana, Zul memiliki sebidang tanah yang kini ditanami pohon cengkih. Alasannya untuk membuat galeri di sana, "view" (tampilan) yang ada sangat cocok untuk melukis dengan keindahan panorama alam yang memukau pandangan mata. "Suasana di sana cocok untuk tempat melukis," katanya lagi. Apalagi bagi dirinya yang menyenangi melukis "on the spot", langsung berada di lokasi objek.
Sementara galeri yang ada saat ini sudah dipenuhi puluhan karyanya. Kebanyakan berupa lukisan alam. Hasil eksplorasi berkeliling Kalimantan Barat, selepas studi di ISI Yogyakarta.
Suasana alam di Pulau Kabung, Taman Nasional Danau Sentarum dan Betung Kerihun. Ada beberapa lukisan anggrek khas Kalimantan Barat. Di antaranya anggrek hitam dan anggrek yang ditemukan pertama kali di Kota Singkawang, Dendrobium singkawangense. Semua lukisan itu dapat ditemui di lantai dasar galeri.
Sedangkan di lantai dua, berisi tumpukan peralatan gambar, dari bermacam alat lukis, crayon, spidol warna, akrilik (cat air), dan cat minyak. Juga terdapat beberapa lukisan yang baru rampung dikerjakan, semisal lukisan pohon cengkeh yang diambil dari atas pulau Kabung.
Kemudian tumpukan ribuan sketsa gambar dari tinta china dan sebatang korek api. Khusus sketsa tersebut, Zul mengerjakannya setiap kali berkunjung ke suatu lokasi dan untuk beberapa hari lamanya hingga dalam hitungan bulanan.
Dan sekali bepergian tersebut, putra bungsu pasangan M Sani (77) dan Dahniar (77) itu akan menghasilkan lebih dari seratus sketsa gambar.
Galeri tersebut juga selalu menjadi tempat persinggahan bagi "bagpacker", turis berkantung cekak. Ia mengakui, untuk wilayah Kalbar jarang ada kegiatan pameran para pelukis. Makanya ia merasa perlu memiliki galeri sendiri sehingga selalu ada pameran, walau pun datang atau tidak datang orang ke tempatnya.
Menurut dia, di Pontianak ada sekitar 30 pelukis, tetapi yang aktif hanya separuhnya. Ruang dan kesempatan untuk para pelukis muncul sangat terbatas. Itu bisa terjadi baik dari pelakunya sendiri, maupun iklim berkesenian yang ada. "Kita sendiri kurang aktif dan proaktif memunculkan karya," katanya lagi. Yang diperlukan saat ini niatan dari pelaku seni itu sendiri, apakah ingin tetap eksis atau hilang begitu saja..
Obsesi museum
Zul MS memiliki ribuan sketsa dari pengelanaannya sebagai pelukis selama ini. Sketsa baginya seperti tarikan napas. Membikin sketsa seperti bernapas saja, terkadang tidak sadar dan mengalir saja. "Untuk menghasilkan satu sketsa, hitungannya dari detik ke menit," kata pria berambut ikal sebahu itu.
Kini, ribuan sketsa bertumpuk dalam map-map plastik hitam di lantai dua galerinya. Sebagian sketsa terlihat masih dibiarkan tertumpuk di sudut ruangan. "Terlalu banyak sketsa, sehingga saya belum sempat memindahkannya," kata pelukis tersebut.
Sekali turun ke suatu lokasi, Zul biasa membawa 100 kerta A3 atau HVS. Sketsa merupakan pengetahuan dasar seorang pelukis. Sketsa adalah referensi eksplorasi pelukis pada suatu daerah, begitu katanya.
Ada sketsa yang sudah dibuat dalam bentuk lukisan ukuran 30x30 sentimeter. Lukisan itu bercerita tentang pemukiman Dayak Bukat di TNBK saat dijumpainya tahun 2009.
Pemukiman itu ia temui saat melakukan perjalanan dari Putussibau, ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu ke Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) menumpang "longboat".
Di tengah jalan saat siang hari, ia tanpa sengaja melihat bangunan pemukiman yang tidak berbentuk rumah betang (panjang).
Setelah ia bercerita kepada teman satu tim, semua teman mengatakan tak melihat bangunan tersebut. Sebagian dari mereka yang selalu bolak-balik ke lokasi yang sama juga tidak pernah menemukan perkampungan itu sebelumnya.
Ternyata, apa yang dilihat Zul tersebut adalah pemukiman Dayak Bukat. Suku Dayak itu memiliki bangunan rumah tunggal. Mereka hidup berpindah karena mata pencaharian sebagai peladang. Pemukiman yang dilihat Zul itu sesungguhnya kini sudah menjadi lokasi kuburan suku tersebut. "Jadi untuk bercerita ke teman-teman, saya buat lukisan perkampungan itu," katanya.
Selama 2001-2011, pelukis alumni kursus lukis Taman Budaya Pontianak itu acap kali mengunjungi Kapuas Hulu. Karena ketika itu aktivitasnya (pekerjaan) banyak di kabupaten itu. Dan sejak 2012, pekerjaannya di kabupaten ujung timur Kalbar itu sudah berakhir.
Kini ia banyak melukis di pulau. Di antaranya Kabung dan Lemukutan. Di Kabung ia sudah membangun pondok yang disiapkan untuk menjadi galeri, di antara pantai dan perkebunan cengkih.
Selain itu, Zul juga sering berada di Punggur, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Di sana ia memiliki sebidang tanah yang ditanami padi. Sekali waktu dalam sebulan ia menyambangi daerah itu. Tanaman padi menjadi salah satu objek lukisnya.
Tanaman itu tumbuh subur karena selain dipelihara dengan baik, Zul selalu menghiburnya dengan gesekan dawai biola dan membacakan puisi. "Sama seperti makhluk lainnya, tanaman padi juga perlu dihibur dan dimanja," katanya.
Para petani pemilik sawah di sana, juga mengakui tanaman padi yang tumbuh di tanah milik Zul, lebih subur dari milik mereka. Kini, selain berada di galeri, mengunjungi pulau, dan bertanam padi, Zul mempunyai obsesi lain, yakni memiliki museum. "Museum untuk memajang lukisan saya," katanya. Museum itu layak dibangun di tengah kota, seperti di Pontianak.
Baginya itu impian para pelukis. Kalau sudah punya pondok dan galeri, maka obsesi berikutnya adalah museum. Ia ingin memamerkan karya lukisnya dalam ruang lebih luas dari bangunan galeri yang sudah ia miliki saat ini. Maka museum tempatnya.
Sejumlah pelukis yang dianggapnya "dosen" bagi dirinya, di antaranya, Nyoman Gunarsa, Fajar Sidik, Amri Yahya, Aming Prayitno, Sudarso, dan Prof Dwi Marianto. Zul menyukai karya lukis bergaya Impres ekspresionis. Artinya lukisan dari objek hanya kesan saja dan dikerjakan dalam waktu singkat. Untuk menggambarkan keramaian atau massa orang, tidak perlu digambarkan secara detail, cukup digambarkan berupa bagian kepala, kaki dan tangan. Dan dimensinya (fisual) dimunculkan dari "tone" warna dari objek tersebut. Misalnya dari hijau tua, sedang dan muda.
Namun khusus pada lukisan padi yang kini penyelesaiannya mendekati akhir, ia kerjakan secara realis dengan impasto. Ini juga salah satu teknik dalam melukis, dengan melewati tahapan pewarnaan mulai dari warna gelap ke warna terang.
Gaya lukisan impres ekspresionis dan impasto, menghiasi setiap sudut ruang "Borneo Fine Art Gallery", sembari menunggu terbangunnya museum impian seorang Zul MS.
