Severity: Notice
Message: Undefined variable: url_twitter
Filename: views/read_view.php
Line Number: 93
KOMPAS/Didit Putra Erlangga Rahardjo
57 Tahun Konferensi Asia Afrika diperingati di Bandung
Oleh Diah Novianti
Seorang pria berjas warna gelap menunjukkan sebuah foto buram kecoklatan. Telunjuknya mengarah gambar seorang bocah berkemeja putih yang sedang mengalungkan bunga ke leher seorang lelaki dewasa.
"Itu saya," kata pria yang kemudian diketahui bernama Jackson Leung dan berusia 72 tahun itu.
Jackson Leung masih berumur 14 tahun ketika Konferensi Asia Afrika (KAA) yang bersejarah itu diselenggarakan di Bandung pada 18-24 April 1955.
Sebagai pelajar berprestasi di SMAN 2 Bandung, Jackson mendapat kehormatan bertugas sebagai pengalung bunga kepada pemimpin delegasi negara yang hadir dalam KAA.
"Tapi dirahasiakan benar. Saat itu orang tua saya pun tidak tahu kalau saya mendapat tugas penting seperti itu. Saya harus berjanji kepada panitia agar tugas saya itu tidak bocor kepada siapa pun," kenangnya.
Saat itu negara-negara blok Barat tidak menyukai penyelenggaraan KAA dan hendak menggagalkan pelaksanaan konferensi tingkat dunia yang pertama kali diselenggarakan negara-negara Asia Afrika yang sedang dibakar semangat memerdekakan diri dari kolonialisme.
Demi keselamatan para anggota delegasi dan lancarnya acara, semua yang terlibat dalam penyelenggaraan KAA harus merahasiakan tugas mereka. Bahkan, kata Jackson, kaum muda yang mengurusi keamanan acara sedia mengorbankan diri dengan menggunakan badannya sebagai tameng apabila terjadi aksi-aksi teror seperti pelemparan granat dari pengacau.
Jackson yang telah dikaruniai empat cucu itu masih jernih mengingat tugas yang harus dijalankannya pada 1955. Oleh panitia, ia disuruh menunggu di sebuah sekolah di Kebon Jati. Dari sana, ia diantar ke Bandar Udara Hussein Sastranegara untuk menanti turunnya seseorang dari tangga pesawat yang baru mendarat.
Jackson sungguh tak tahu tugasnya bakal mengalungkan bunga kepada salah seorang pemimpin delegasi penting, yaitu Perdana Menteri pertama China, Chou En-Lai. Ia juga tidak tahu identitas orang yang akan dikalungi bunga itu. Barulah, setelah tugasnya berakhir, dia tahu orang itu adalah Chou En-Lai.
"Setelah itu ada sekitar 800 orang yang bersalaman dengan saya agar tertular jabatan tangan Chou En-lai dari tangan saya," ujarnya.
Banyak kalangan Tionghoa percaya bahwa jabatan tangan Chou En-Lai membawa berkah sehingga Jackson dinasehati untuk tidak mencuci tangannya selama sehari.
"Jabat tangan dengan Chou En-Lai itu memang membawa berkah pada hidup saya, sehingga sejak itu saya berpikir bagaimana caranya mengabdi kepada negara, dan ternyata pemikiran saya itu selalu membawa keberkahan pada hidup saya sekarang," tutur Jackson.
Dia sendiri mengingat Chou En-Lai sebagai sosok berwibawa, berkulit tangan halus, dan berkepribadian hangat.
Kangen Bandung
Kemudian, setiap tahun Jakscon menjadi sosok yang pasti hadir pada peringatan KAA di Bandung. Ia juga memberikan dukungan materi bagi penyelenggaraan peringatan KAA yang digelar Museum KAA setiap tahun.
"Ini sudah menjadi kewajiban buat saya, peran sejarah yang pernah saya lakoni membuat saya wajib hadir di sini setiap tahun," ujarnya.
Penuh semangat dan tanpa bosan, ia selalu bersedia mengulang kisahnya sebagai saksi sejarah KAA 1955 dan makna keterlibatan dirinya dalam momen bersejarah itu.
Tidak hanya kepada kalangan dalam negeri, ia juga aktif mempromosikan Museum KAA ke mancanegara. Jackson membuat sendiri brosur Museum KAA dengan aksara cina yang disebarkannya secara gratis ke seluruh jaringan museum di China.
"Dulu baru ada 300 ribu pengunjung dari China ke Museum KAA, tapi sekarang sudah mencapai satu juta orang per tahun," ujarnya setengah mempromosikan brosur itu.
Berbicara tentang negara, bagi Jackson, mendatangkan dua makna. Yang pertama Indonesia sebagai tanah kelahirannya dan China yang menjadi muasal nenek moyangnya.
Kakek Jackson merantau ke Indonesia pada akhir abad 19 untuk mendapatkan kehidupan lebih baik. Jackson pun dilahirkan di Bandung pada 1940. Demi pendidikan yang lebih baik, pada 1962, Jackson kemudian merantau ke Peking (kini Beijing) untuk kuliah jurusan filsafat.
Lulus kuliah, ia pindah ke Hongkong dan memulai peruntungannya sebagai wiraswastawan di pulau yang pernah diperintah Inggris itu.
"Kuliah filsafat mengajarkan saya banyak hal, termasuk bagaimana membuat keputusan dalam berbisnis. Saya sarankan kaum muda untuk belajar filsafat karena bisa membuka pandangan kita lebih lebar," tuturnya.
Filosofi bisnis yang dijalankan Jackson tidak melulu soal untung dan rugi.
Usahanya diawali dengan menjual obat nyamuk dan berbagai produk Tiongkok, termasuk ritsleting, ke Indonesia. Perusahaan dagang Chun Lung yang didirikannya lekas maju dan menjadi perusahaan ekspor-impor yang melintasi beberapa negara mulai Indonesia, China, Korea, sampai Jepang.
Tidak hanya berjualan, ia aktif membantu meningkatkan volume perdagangan China dengan beberapa negara.
Pengabdiannya terhadap tanah kelahirannya diwujudkan pada era 70-an ketika menjadi pebisnis yang sukses di negeri orang. Zaman itu era sulit bagi Indonesia setelah pembantaian kaum komunis pada 1965.
Saat itu, menurut Jackson, Indonesia sulit mendapatkan kantor konsulat di Hongkong karena tidak ada warga Hongkong yang ingin menyewakan bangunan kepada pemerintah Indonesia.
Jackson yang telah berhasil dengan usahanya kemudian menjual gedung 20 lantai miliknya kepada pemerintah Indonesia dengan skema cicilan lunak selama 20 tahun.
"Padahal saat itu belum ada transaksi dengan skema cicilan, tapi pemerintah Indonesia boleh mencicil sedikit demi sedikit kepada saya," ujarnya.
Ia kembali mewujudkan kecintaannya kepada tanah air dengan membangun kompleks persahabatan Indonesia-Tiongkok yang merupakan perumahan berluas 22,4 hektare bagi korban bencana tsunami di Aceh pada 2004.
Jackson yang kini berdomisili di Hongkong tergolong warga kehormatan yang dipandang pemerintah China telah menyumbangkan pemikiran bagi kemajuan ekonomi negara itu. Ia dianugerahi gelar "seorang luar biasa" karena sumbangannya yang sangat menonjol dalam mempromosikan Beijing sebagai tuan rumah Olimpiade 2008.
Namun, Jakcson tetap memendam keinginan untuk pulang ke tanah kelahirannya, Bandung, suatu hari nanti untuk melewatkan masa tua.
"Saya lahir di tanah Bandung, waktu kecil makan beras Cianjur, dan suatu saat nanti akan pulang lagi ke Bandung," ujar pria yang masih fasih berbahasa Sunda itu.
