Oleh Junaidi Abdul Munif
• Judul: Bayang-bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi
• Penulis: Yasraf Amir Piliang
• Penerbit: Mizan Publika
• Cetakan: I, 2011
• Tebal: liv + 372 halaman
• ISBN : 978-602-96864-8-7
Membaca agama dalam kacamata kajian budaya ibarat memasuki hutan rimba yang penuh labirin. Di situ, ketegangan-ketegangan dan paradoks agama tampak begitu nyata.
Menganggap agama dan kebudayaan sebagai dua entitas yang integratif, harus bersiap menerima konsekuensi dinamikanya yang tak terelakkan. Kebudayaan yang bersifat imanen telah merasuki ”dunia Tuhan” yang transenden, dan ini menimbulkan konflik penafsiran (hal 9). Yang terjadi kemudian, sebuah enigma dan situasi kaotis (hiruk-pikuk) pemikiran serta laku keagamaan umat. Ini yang didapati dari kehidupan keberagamaan manusia yang merentang sejak berabad lalu.
Itulah yang bisa ditangkap dari buku Yasraf Amir Piliang, yang membuka selubung posmodernisme, tempat segala ketakberaturan muncul. Yasraf mengurai panjang lebar bagaimana konsekuensi posmodernisme membawa dampak yang tak bisa dianggap remeh dalam konteks keberagamaan umat manusia. Kapitalisme dan konsumerisme, yang berbalut dunia cyber, menyatu untuk menampakkan wajah agama yang sama sekali baru. Kendati jejak-jejak kebaruan tersebut masih bisa dirunut ke dalam teks-teks klasik, problem instansiasi teks-teks keagamaan datang dengan segala keniscayaannya.
Posmodernisme adalah zaman citra dan pencitraan (hal xxxiii). Keberagamaan di zaman ini tak ubahnya pengukuhan terhadap pencitraan religiositas seseorang. Simbol-simbol agama dijadikan standar untuk mengukur keberagamaan seseorang. Substansi (profetisitas) dari agama itu sendiri justru terdistorsi. Agama menjadi simbolik-binerik. Yang satu dipahami sebagai negasi atau antitesis bagi yang lain (the others).
Agama kapitalisme
Umat beragama yang mencari Tuhan seperti dibutakan oleh kenyataan. Apa saja akan dilakukan demi hasrat (desire) untuk memperoleh inti dari agama. Pemenuhan hasrat itu menjadikan tubuh sebagai area bungkus simbolis yang dimanfaatkan kapitalisme. Mode busana islami, makanan menyehatkan saat puasa, paket wisata-ziarah, sufisme di hotel, dan konversi ajaran agama ke buku, VCD, atau lainnya, menyimpan ideologi kapitalisme yang bervariasi.
Agama menjadi alat bagi kapitalisme untuk mencengkeramkan konsumerisme. Keberagamaan menjadi produksi dan manusia menjadi konsumennya dalam merayakan populerisme agama. Terjadi hibriditas, yakni perkawinan silang antara kesucian dan keduniaan, serta sifat-sifat kontradiktif lainnya (hal xl). Situasi demikian melahirkan tipologi umat beragama yang terjangkit paradigma ambiguitik. Agama yang diterima bersifat reduktif dengan dalih menghindari ”nihilisme”-nya sendiri.
Agama sejak mula adalah wilayah-wilayah transendental-profetik yang diagungkan sebagai jalan pencapaian tertinggi eksistensi manusia. Agama membatasi sekaligus membebaskan manusia dengan imajinasinya untuk melunaskan hasrat akan Tuhan. Meskipun demikian, yang sering terjadi adalah manusia dengan bantuan teknologi berhasrat untuk memiliki kehendak Tuhan (hal 53).
Hal ini memunculkan Net religionist, yakni orang-orang yang terobsesi menjadi Tuhan. Mereka percaya bahwa dunia pikiran dapat dimuat dalam komputer dan menyadari bahwa cyberspace menjadi ruang yang lebih tinggi dari spiritualitas (hal 266). Masyarakat (ter)komputerisasi, sebagaimana ditahbiskan Jean-Francois Lyotard, rentan menjadikan agama sebagai kepungan informasi dan tanda yang serentak serta tumpang tindih.
Pembacaan ketuhanan dengan cultural studies juga melibatkan kesenian sebagai cara untuk membaca tanda-tanda ketuhanan. Semiotika digunakan untuk mengakses zat yang transenden. Pendekatan keagamaan tidak melulu melalui media ibadah, melainkan melintasi ekspresi ”profan”. Yasraf mencontohkan beberapa lukisan Roedjito yang menjadi cara bagi pelukisnya untuk melaksanakan ajaran tauhid (hal 217). Pelibatan kesenian dan entitas di luar mainstream keagamaan sebagai cara menemukan Tuhan berhasil dimanfaatkan kapitalisme demi menangguk untung.
”Puzzle cyberspace”
Cyberspace memberi gambaran layaknya puzzle perihal imajinasi manusia yang tak terbatas untuk mencari Tuhan dan mengekspresikan agamanya. Perayaan agama riuh dalam ruang virtual dan seremoni keagamaan yang massal. Di situ berjalin kelindan profanitas dan profetisitas. Jalan keberagamaan dunia cyberspace menawarkan hasrat-hasrat sekaligus kepalsuan beragama (pseudo religiositas).
Masa depan agama di era cyberspace menghadirkan ketidakpastian dan mungkin akan menjatuhkan agama sebagai banalisme. Yasraf memprediksikan sebuah gambaran masa depan agama ketika cyberspace telah memasuki era tiga dimensi. Di situ, ibadah virtual akan menggantikan ibadah konvensional (hal 301). Konsekuensinya, Tuhan akan mengalami penafsiran ulang dan redefinisi. Apakah Dia ada di sana, tak terjangkau, atau Dia adalah sugesti-proyeksi yang muncul dari dalam diri, seperti diamini penganut Freudian?
Tetapi, tidak perlu takut dengan ”prediksi” Yasraf tentang berkembangnya ibadah virtual di masa mendatang. Selama masih ada kelompok masyarakat—terutama di pesantren—dengan segala keunikan kultural dan patronase kiai yang tampil untuk ngemong umat, rasanya agama tidak akan sampai terperosok dalam tragedi ibadah virtual.
Uraian Yasraf ini memberi pernyataan bahwa agama tidak pernah ditinggalkan umat manusia kendati dinamika kebudayaan dan teknologi berkembang pesat. Manusia diajak ”bertamasya” mencari Tuhan di abad postmodernitas, tentang ”ramalan” bagaimana bentuk ritual keagamaan ketika cyberspace telah begitu canggih dan mampu menghadirkan simulasi tiga dimensi. Akhirnya, Tuhan dalam kajian cultural studies menjadi Tuhan yang ”akrab” dengan manusia, Tuhan yang bebas didekati dan disapa dengan berbagai cara.
Fenomena ini yang membuat manusia hidup dalam sebuah ketegangan dilematis-ambiguitik antara menampakkan simbol keagamaan yang ”lebih diterima” sebagai sebuah ”realitas agama” di masyarakat, atau menyembunyikan iman, religiositas dalam ruang sunyi bernama kalbu. Dimensi sosial agama sebagai solusi menuntaskan masalah-masalah kemanusiaan, kabur, dan digantikan hasrat individualistis untuk menemukan Tuhan.
Kritik bagi buku ini, lebih karena Yasraf hanya meneropong perilaku keberagamaan di masyarakat yang dijejali benda-benda teknologi. Apakah pada situasi masyarakat ”tanpa teknologi”—di luar pesantren, keberagamaan masih jernih tanpa residu kapitalistis? Mereka juga masyarakat yang sah untuk menemukan dan menafsirkan Tuhan sesuai kapasitasnya.
Junaidi Abdul Munif Peneliti el-Wahid Center Universitas Wahid Hasyim Semarang
***
• Judul: Childhood Under Siege: How Big Business Targets Children • Penulis: Joel Balkan • Penerbit: Free Press, 2011 • Tebal: x + 277 halaman • ISBN: 978-1-4391-2120-7
Dunia bisnis memiliki target baru untuk memasarkan produk. Anak-anak menjadi tambang emas untuk meraup keuntungan. Kerentanan anak-anak dan ketakutan orangtua dieksploitasi dan dimanipulasi demi profit bisnis.
Buku ini merinci berbagai produk industri yang secara gencar menjadikan anak-anak sebagai konsumen mereka. Semisal, video games, yang beberapa di antaranya memiliki catatan perilaku brutal dan kekerasan. Lalu, virtual pet websites, yang dengan sukses memanipulasi perasaan kedekatan anak dengan hewan virtual peliharaan mereka. Bahkan juga, situs jejaring sosial yang membuat anak merasa menjadi bintang, sekaligus penutur kisah hidup mereka sendiri.
Tak hanya itu, industri makanan dan minuman juga dianggap aktif menjejali anak dengan berbagai produk yang kurang sehat. Lebih dari tiga dekade terakhir, iklan dan pemasaran produk-produk ini marak ditemui di sekolah-sekolah. Masalah kesehatan anak juga tidak luput dari incaran bisnis, terutama industri farmasi. Terkait hal ini, penulis menyinggung sejumlah penyakit yang secara teratur meningkat seiring membanjirnya ribuan bahan kimia ke dalam tubuh.
Persoalan lain yang disoroti adalah lemahnya kapasitas orangtua dalam memberikan perlindungan bagi anak-anak dari ancaman aktivitas ekonomi yang dapat melukai mereka. Melalui buku ini, penulis mencoba mempersenjatai orangtua dan pihak terkait untuk bahu-membahu memerangi bahaya konsumerisme industri terhadap anak. (TSD/Litbang Kompas)
***
• Judul: Unlocking the Hidden Talent • Penulis: Herry Gendut Janarto • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2012 • Tebal: xxiii+453 halaman • ISBN: 978-979-22-8188-0
Lebih dari 10 tahun FX Sri Martono menggeluti pengembangan sumber daya manusia (HRD) di lingkungan Astra Group. Saat ini, memasuki usia pensiun, Sri Martono memegang posisi sebagai chief corporate organization and human capital development. Dengan lebih dari 145.000 karyawan yang tersebar di 145 anak perusahaan, tugas dan tanggung jawabnya boleh dibilang strategis, seperti menjadi mitra presiden direktur maupun CEO dalam mengawal kesinambungan estafet kepemimpinan. Di tangannya, proses pencetakan para pemimpin dan sinergi antarperusahaan di grup ini berjalan dengan sukses. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengakui keahlian dan pengalaman Sri Martono dalam bidang ke-HRD-an sehingga memberinya kepercayaan untuk menangani Apindo Training Centre.
Bagi Sri Martono, biografi ini bak kisah tentang cinta. Cinta kepada keluarga, pekerjaan, teman, dan kepada negaranya. Totalitas dan integritasnya melahirkan respek dan keyakinan bahwa dirinya dapat diandalkan. Perjalanan hidup dan karier yang dibagikan melalui buku ini menggambarkannya sebagai sosok yang rendah hati dan sederhana. Theodore P Rachmat, mantan Presdir PT Astra International, menyebutnya ”kurang Batak sedikit”. Namun, di balik pembawaannya yang kalem itu, Sri Martono adalah orang yang cepat belajar. Ini dibuktikan dengan pencapaiannya. Meski ”hanya” berbekal ijazah pendidikan teknik permesinan dari ATMI, Surakarta, ia mampu menangani pemasaran dan sangat profesional mengurus sumber daya manusia. (THA/Litbang Kompas)
