A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: file_get_contents(http://xml.kompas.com/data/banner_on_keyword/on_keyword.php) [function.file-get-contents]: failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found

Filename: controllers/read.php

Line Number: 346

Inilah Potret Keturunan Bonokeling - KOMPAS.com
Jumat, 25 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Juli 2014 | 11:58 WIB
Inilah Potret Keturunan Bonokeling
Rabu, 14 Maret 2012 | 22:28 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Dok. Atl Lisan
Ilustrasi

BONOKELING (Wadah Hitam)

Tradisi dari Panisepuh Banyumas

Pinisepuh kaum Bonokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) bagai kembali pada zaman Jawa kuno. Bentuk rumahnya masih seperti Joglo, meski atapnya telah digantikan seng. Sedangkan dindingnya masih tetap terbuat dari anyaman bambu. Begitu juga lantainya bukanlah dari keramik, masih tetap tanah.

Ada sejumlah bangunan tua yang sudah kelihatan tidak terlalu kokoh lagi. Misalnya saja bangunan Pasemuan yang biasanya digunakan sebagai tempat memuji dengan menembangkan lagu-lagu Jawa. Ada pula Balai Malang yang biasa digunakan untuk tempat makanan dan minuman pada saat ada ritual khusus. Ada pula enam bangunan rumah joglo yang digunakan sebagai rumah dinas juru kunci dan lima rumah untuk bedogol. Bedogol merupakan pembantu juru kunci atau pemimpin kelompok-kelompok dalam Bonokeling.

Dalam keseharian, masyarakat di tempat itu sama dengan warga kebanyakan. Terlihat anak-anak yang bermain dengan sepeda dan memakai baju zaman sekarang. Kontras dengan generasi tua yang masih memakai baju kejawen.

Yang perempuan memakai jarit (kain), sedangkan laki-laki menggunakan baju hitam dengan penutup kepala atau disebut iket. Kesemuanya menyatu dalam harmoni indah, meski rumah-rumah yang mereka tinggali terlihat amat sederhana.

Area tersebut merupakan wilayah para tokoh yang masih “trah” atau keturunan dari Bonokeling. Makam dari Bonokeling tidak jauh dari rumah dinas juru kunci dan bedogol hanya sekitar 200 meter. Bonokeling bisa disebut dengan tokoh misterius, karena Bonokeling sebetulnya merupakan nama alias, bukan nama sesungguhnya. Nama Bonokeling dapat diartikan sebagai “wadah hitam”. Bono berarti wadah dan keling artinya hitam.

Keturunan dari Bonokeling biasanya memakai pakaian serba hitam, terutama pada waktu-waktu ritual tertentu. Tidak ada sejarah yang mencatat, kapan tokoh Bonokeling berkiprah di tempat itu dan kapan meninggalnya. Juru kunci Makam Bonokeling Kartasari, 75, mengungkapkan bahwa tidak ada catatan secara persis kapan sebetulnya Bonokeling ada di desanya. Tetapi dari penuturan para sesepuh sebelumnya, Bonokeling ada jauh sebelum Islam masuk ke Banyumas. Kartasari mengatakan kalau dia baru menjabat sebagai juru kunci tiga bulan. Ada lima Bedogol yang membantu. Semua bedogol rumahnya di sini. “Selain itu ada juga Ketua Adat Bonokeling. Biasanya ketua adat ini yang berhubungan dengan masyarakat di luar Bonokeling dan pemerintah. Bahkan, Ketua Adat Bonokeling juga masuk struktur Badan Perwakilan Desa (BPD) dari unsur adat,”kata Kartasari yang tidak dapat berbahasa Indonesia.

Sebagai seorang juru kunci, ada sejumlah tugas yang diembannya. Diantaranya adalah membersihkan makam, biasanya pada hari Kamis. Selain itu, juru kunci juga memimpin ritual-ritual yang telah terjadwal maupun tidak.

Ritual yang terjadwal di antaranya adalah Unggah-unggahan, Sedekah Bumi, Kupatan Senin Paing, dan lainnya. Yang tidak terjadwal di antaranya adalah upacara melebuh.

Unggah-unggahan merupakan ritual paling besar. Karena ritual itu tidak hanya diikuti oleh kaum Bonokeling dari desa setempat melainkan dari pesisir Cilacap seperti Maos, Kroya, Adipala, Binangun hingga Nusawungu. Mereka datang dengan berjalan kaki menuju makam Bonokeling. Biasanya ritual itu berlangsung selama tiga hari. Intinya adalah berkumpul di Makam Bonokeling dan makan bersama.

Selain itu, ada juga Sedekah Bumi yang dilaksanakan pada bulan Jawa Apit. Pada ritual itu, warga khususnya Bonokeling berkumpul untuk mengumpulkan hasil bumi sebagai ucapan terima kasih kepada Yang Maha Pencipta. Ada lagi ritual Kupatan Senin Paing. Kalau ritual itu berisi puji-pujian kepada Penguasa Alam melalui tembang-tembang Jawa. Dalam ritual tersebut dilengkapi dengan kupat yang berarti Laku Papat, sebuah laku untuk menuju keselamatan.

Prosesi yang tidak terjadwal adalah Mlebu. Mlebu merupakan prosesi di mana seseorang yang telah dewasa mau masuk ke dalam Kaum Bonokeling. Biasanya untuk kaum perempuan usianya menginjak 17 tahun dan laki-laki 12 tahun.

Dalam ritual Mlebu, mereka yang akan masuk harus menguasai pranata Bonokeling sebagai syaratnya. Jika laki-laki, akan dikukuhkan oleh Bedogol, sedangkan kalau perempuan dikukuhkan oleh istri Bedogol.

Ketua Adat Bonokeling Sumitro mengatakan bahwa mereka tetap beragama Islam, namun budaya Bonokeling tetap dipegang teguh. “Misalnya saja, budaya Unggah-unggahan. Budaya itu sebetulnya merupakan prosesi awal musim tanam. Tetapi ketika Islam sudah masuk dan waktunya menjelang Ramadan, prosesi Unggah-unggahan disamakan dengan ritual Sadranan. Sadranan biasa dilakukan menengok dan membersihkan makam leluhur sebelum masuk bulan puasa,”jelas Sumitro.

Dijelaskan oleh Sumitro, Bonokeling sampai sekarang memang masih misterius. Meski demikian, sebetulnya para tetua adat tahu siapa sebetulnya Bonokeling, namun tidak boleh memberikan keterangan kepada khalayak. “Ya Bonokeling saja, walaupun itu sebenarnya hanyalah nama samaran. Ia adalah tokoh yang berasal dari Pasir Luhur. Pasir Luhur merupakan kadipaten di bawah Kerajaan Padjajaran atau Galuh-Kawali,” katanya.

Setelah masuknya Islam, berbagai budaya ala Bonokeling tetap dipertahankan tetapi mengalami akulturasi. Sehingga ada percampuran yang unik antara tradisi Islam dengan Bonokeling.

Peneliti dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto Ridwan yang melakukan riset etnografi terhadap kaum Bonokeling mengatakan bahwa di kalangan kaum Bonokeling terjadi akulturasi budaya antara budaya lokal dengan Islam. “Ada local wisdom yang sebetulnya sangat erat dan melekat dalam kaum Bonokeling yakni “guyub rukun” atau persaudarannya. Mereka akan menjadi anak cucu Bonokeling melalui prosesi “mlebu” yang dilakukan oleh Bedogol kalau laki-laki dan perempuan dengan istri Bedogol,”jelas Doktor lulusan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

Ridwan mengaku cukup heran karena di saat gempuran budaya globalisasi seperti sekarang masih ada yang memegang teguh pranata dan budaya lokal yang mereka miliki. “Kuncinya adalah kekerabatan yang begitu kuat diataranya kaum Bonokeling. Padahal, mereka sangat terbuka, baik dalam komunikasi maupun secara geografis. Apalagi, kaum Bonokeling juga tersebar di Banyumas dan Cilacap. Saya masih yakin sampai 10 tahun mendatang, kaum Bonokeling masih tetap eksis. Meski sebenarnya tetap ada perubahan-perubahan yang terjadi apalagi kalau anak-anak keturunan “trah” Bonokeling tersebut bersekolah atau merantau ke luar daerah,”kata Ridwan yang juga dosen STAIN Purwokerto tersebut.

Bagi Ridwan, local wisdom yang masih dimiliki oleh kaum Bonokeling harus mendapat perhatian dari pemerintah daerah khusus budaya yang mereka miliki. Meski sebetulnya masih ada persoalan dalam perspektif teologis Islam. (Laporan : Liliek Dharmawan)

Sumber :
Atl Lisan
Editor :
Jodhi Yudono