Rabu, 19 Juni 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 19 Juni 2013 | 09:09 WIB
TEATER
Silang Budaya Sie Jin Kwie
Minggu, 4 Maret 2012 | 03:19 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Putu Fajar Arcana & Aryo Wisanggeni

Sampai juga Teater Koma pada bagian akhir dari trilogi Sie Jin Kwie lewat lakon ”Sie Jin Kwie di Negeri Sihir”. Sutradara dan penulis naskah N Riantiarno telah memulai pengembaraan ini tiga tahun lalu, berturut-turut lewat ”Sie Jin Kwie” (2010), ”Sie Jin Kwie Kena Fitnah” (2011), dan akhirnya ”Sie Jin Kwie di Negeri Sihir” (2012). Pencapaian yang tak main-main….

Pada lakon yang dipentaskan 1-31 Maret 2012 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, ini Nano, panggilan Riantiarno, lebih ingin merasuk ke dalam citraan kultur peranakan yang pernah berjaya sebelum masa Orde Baru. Selain menyandarkan diri pada beberapa teks Sie Jin Kwie yang pernah diterbitkan di Indonesia, ia juga merasa perlu memahami persilangan budaya yang terdapat pada wayang kulit Gan Thwan Sing. Nano bahkan membawa awak Teater Koma untuk mengunjungi pusat-pusat pertumbuhan kultur peranakan di Trumi (Cirebon), Pekalongan, Semarang, Jepara, Rembang, Lasem, Solo, dan Yogyakarta.

Perjalanan itu, kata Nano, menjadi penting untuk melihat kenyataan betapa silang budaya antara China dan Jawa itu sudah terjadi pada kisaran tahun 1885 pada masa Gan Thwan Sing hidup dan menjadi dalang. Sebagian wayang karyanya yang kini tersimpan di Museum Wayang Yogyakarta menunjukkan penggunaan batik peranakan. ”Artinya, batik menjadi tanda dari pembauran kebudayaan China-Jawa sejak lama,” kata Nano.

Itulah yang kemudian menjadi dasar penggarapan kostum pentas Sie Jin Kwie di Negeri Sihir yang didesain oleh Rima Ananda. Terbukti kemudian episode terakhir dari trilogi Sie Jin Kwie termasuk paling segar dari sisi kostum. Meski menggunakan tata rias dengan mengacu pada seni opera China, aksen batik pada sekitar 350 busana yang dikenakan dalam pentas ini membuat kita tidak merasa asing pada sosok-sosok tokohnya. Sebenarnya, selain menemukan kisah klasik China yang pernah disadur oleh para pujangga Indonesia, di sini juga kita bertemu dengan beragam motif batik peranakan yang pernah diciptakan para perajin dahulu. Itulah ”penemuan” paling berharga dari saat-saat Nano menggarap trilogi Sie Jin Kwie.

Artefak silang budaya, seperti Wayang Tavip, yang boleh dikata menjadi penerus Wayang Gan Thwan Sing, secara sadar sejak penggarapan awal trilogi ini telah digunakan oleh Nano. Wayang Tavip tidak sekadar berfungsi memadatkan alur kisah, yang kata Nano bisa mencapai 7-8 jam, tetapi juga menjadi artefak kultural yang penting untuk menunjukkan satu fase pembauran di negeri ini. Sayangnya, pencapaian peradaban kebudayaan seperti wayang kulit Gan Thwan Sing tidak pernah dicatat dalam Ensiklopedi Wayang Indonesia 1999. ”Artinya dalam sejarah wayang Indonesia, wayang kulit China-Jawa dianggap tidak pernah ada,” kata Nano.

Pencapaian

Pencapaian terpenting dalam trilogi Sie Jin Kwie adalah upaya melakukan penggalian terhadap tinggalan kultural yang pernah dicapai bangsa Indonesia: silang budaya China-Jawa. Pencapaian ini secara politis berkali-kali diingkari untuk mendiskreditkan salah satu anasir dari penyusun silang budaya itu. Setidaknya, Sie Jin Kwie di Negeri Sihir, telah hadir sebagai puncak pernyataan dari Teater Koma bahwa kebudayaan Indonesia terbentuk dari berbagai persilangan kebudayaan yang tidak bisa diingkari. Pengingkaran secara politis hanya akan menghasilkan kemunafikan, penindasan, dan bahkan pembunuhan secara keji terhadap kebudayaan.

Nano sadar benar bahwa Teater Koma mesti melakukan pengkajian yang lebih mendalam terhadap pencapaian kebudayaan masa lalu, untuk kemudian berefleksi dalam melihat realitas kehidupan pada masa kini. Jika dulu refleksi itu dilakukan Koma dengan sindiran-sindiran politik terhadap penguasa, kini ia lebih mengajukan sebuah permenungan tentang kemegahan masa lalu dengan kisah-kisah kepahlawanan, yang nyatanya sulit ditemukan pada masa kini. Ia tidak harus mengatakan bahwa di masa kini tidak ada lagi sosok teladan, tetapi memberi cermin kepada setiap penontonnya untuk mencoba melihat wajah diri sendiri. Syukur-syukur refleksi-cermin itu mengundang pertanyaan tentang jati diri kita sebagai bagian dari bangsa yang konon besar ini.

Jika, toh, ada hal yang pantas disayangkan, pencapaian pesan moral lewat tataan artistik, itu tidak dibarengi oleh pembenahan durasi kisahan serta adegan-adegan yang menyusunnya. Harap diketahui, durasi pentas Sie Jin Kwie di Negeri Sihir mencapai 4,5 jam, dan itu pun sudah hasil maksimal dari pemadatan durasi sesungguhnya yang mencapai 8 jam. Nano memang berapologi dengan memaklumkan agar penonton menyimaknya seperti menonton wayang kulit, santai saja malah boleh sambil tiduran. Sebuah ”pemaksaan” yang terlalu percaya diri, mungkin.

Harus diakui, Koma memang sudah memiliki komunitas penonton yang mencapai tiga generasi. Namun, rasanya selera dan cara publik menyimak sebuah tontonan turut berubah seiring berbagai kemajuan yang dicapai oleh teknologi. Pentas terakhir dari trilogi Sie Jin Kwie ini mungkin bisa dimasukkan sebagai pertunjukan yang ”keras-kepala”, tetap bergeming pada sesuatu yang ”manual”, pada saat teknologi digital mempermudah segalanya….

Editor :