Senin, 20 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 20 Oktober 2014 | 18:19 WIB
"Sayyang Pattuddu" Pemersatu Warga Polewali Mandar
Penulis: Junaedi | Selasa, 21 Februari 2012 | 05:20 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
Junaedi Puluhan kuda terlatih yang pandai mengikuti irama musik rebana ini menjadi bagian dalam karnaval kuda menari yang dipusatkan di kelurahan Lantora, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Senin (20/2/2012).

KOMPAS.com - Karnaval kuda menari atau disebut sayyang pattuddu yang telah menjadi salah satu ikon wisata budaya tahunan di Polewali Mandar, Sulawesi Barat tak hanya menjadi hiburan yang selalu mengundang perhatian publik. Tapi, juga menjadi ajang silaturahmi dan pemersatu antarwarga di Polewali Mandar.

Tak heran jika warga Polewali Mandar yang berada di perantauan pun kerap sengaja pulang kampung hanya untuk menyaksikan karnaval kuda menari yang selalu menyedot perhatian warga setiap tahun. Perpaduan budaya dan siar Islam membuat sayyang pattuddu menjadi tradisi yang tetap tumbuh dan lestari di tengah masyarakat Suku Mandar sepanjang masa.

Puluhan kuda terlatih yang pandai menari mengikuti irama musik rebana ini menjadi bagian dalam karnaval kuda menari yang dipusatkan di kelurahan Lantora, Polewali Mandar, Senin (20/2/2012). Karnaval budaya yang sudah berlangsung ratusan tahun di tanah Mandar, sejak jaman kerajaan ini, tidak hanya menjadi tontonan menarik bagi warga setempat, tapi juga menjadi ajang memupuk persaudaraan. Hampir semua rumah penduduk di sepanjang rute jalan yang akan dilalui peserta karnaval dipadati warga yang akan menyaksikan karnaval.

Karnaval tahunan ini tak hanya diminati warga lokal tapi juga menarik perhatian wistawan asing. Karnaval kuda yang digelar hampir setiap hari di berbagai desa dan kecamatan di Polewali Mandar, selama bulan Maulid setiap tahun selalu ditonton wisataean asing. Salah seorang turis asang asal Jepang yang jatuh hati dengan tradisi ini misalnya setiap tahun sengaja datang ke Polewali mMndar hanya ingin menyaksikan dan mengabadikan karnaval sayyang pattuddu yang selalu menyedot perhatian warga.

Ketua panitia karnaval, Muhammad, menyatakan karnaval kuda menari punya makna budaya yang dalam. Anak-anak yang sukses menyelesaikan bacaan Alquran dalam kurung waktu tertentu dengan lancar dan benar, menjadi simbol kebanggaan bagi anak-anak, orang tua dan masyarakat Polewali yang tetap kukuh memegang tradisinya.

"Karnaval kuda menari menjadi motivator bagi anak-anak lain di Polewali untuk memacu semangat belajar membaca Alquran dengan baik dan lancar. Sementara para orang tua yang menyaksikan anak-anak warga lainnya diarak bagai raja dan ratu sehari akan termotivasi untuk mendorong anak-anak mereka belajar lebih giat. Para orang tua pun bangga karena anaknya sukses dan bisa membaca Alquran dengan baik," ujar Muhammad.

Uniknya, karnaval budaya yang selalu menyedot perhatian pengunjung ini tidak didanai sepersen pun dari pemerintah atau lembaga tertentu. Warga dengan sukarela menguras kocek mereka demi menyewa kuda dan pakaian pengantin hingga jutaan rupiah demi anak-anak mereka yang telah sukses menyelesaikan bacaan Alquran mereka atau khatam.

Para orangtua dan anak-anak bangga karena telah menamatkan bacaan Alquran mereka dengan benar dan lancar. Warga yang tumpah di sepanjang jalur jalan yang dilalui peserta karnaval, membuat suasana kekerabatan dan kebersamaan antar warga makin kukuh. Warga tak hanya merasa terhibur tapi juga bangga karena ikatan persaudraan antarwarga makin erat.

Editor :
Tri Wahono