Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Senin, 21 Mei 2012 | 22:07 WIB
Cap Go Meh, Kombinasi Dua Budaya
P. Raditya Mahendra Yasa | Robert Adhi Ksp | Senin, 6 Februari 2012 | 15:33 WIB
|
Share:
Raditya Mahendra Yasa/KOMPAS Warga Tionghoa menyiapkan lontong Cap Go Meh di Yayasan Kong Kauw Hwee di Kawasan Pecinan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (6/2). Tradisi makan lontong Cap Go Meh yang terdiri dari opor ayam, telur dan bubuk ketan ini dilakukan 15 hari setelah Imlek.WEN

SEMARANG, KOMPAS.com — Sejumlah warga Tionghoa menyiapkan piring dan mangkuk untuk merayakan Cap Go Meh di Pecinan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (6/12/2012).

Tradisi Cap Go Meh yang dirayakan 15 hari setelah Imlek dilakukan dengan makan bersama, seperti ratusan anak-anak dari sekolah gratis Kuncup Melati.          

Puluhan anak-anak SD Kuncup Melati ini dengan sabar antre menunggu kuah santan berwarna kuning dituangkan ke piring berisi lontong dan suwiran ayam. Tradisi Cap Go Meh yang telah dilakukan secara turun temurun selama ratusan tahun ini menciptakan akulturasi budaya berupa kuliner.            

Melalui lontong Cap Go Meh ini tradisi masyarakat dari negeri China beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Warga Tionghoa akan menghidangkan makanan khas berupa lontong dengan kuah opor ayam, telur, serta sayur labu atau terung. Lontong Cap Go Meh juga ditaburi bubuk ketan.            

Sekertaris Yayasan Ci Lam Tjay Widiani, yang mengundang anak-anak SD Kuncup Melati untuk merayakan Cap Go Meh, mengatakan, tradisi ini hampir seluruhnya telah mengadopsi budaya Indonesia. ”Lontong Cap Go Meh ini merupakan kombinasi kuliner Indonesia dan China,” kata Widiani.            

Lontong Cap Go Meh juga merupakan kuliner khas Semarang yang telah disajikan secara rutin dalam menu rumah makan. Seperti Restoran Semarang milik Yongki Tio, seorang pengamat sejarah dan budaya yang mengangkat kuliner unik dan khas.