Oleh Mansyur
"Aku senang bisa sekolah di balai desa," kata puluhan anak-anak dari keluarga miskin di Desa Pasirtanjung Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten.
Mereka belajar tampak serius saat mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang pelajaran Matematika. Guru Matematika itu tanpa memiliki buku pedoman kurikulum standar nasional. Ia memerintahkan satu persatu siswa ke depan menjawab pertanyaan 7x7 dengan menulis di depan bor yang sudah lusuh dan berwarna hitam keputihan.
Namun, anak-anak menjawab pertanyaan dengan benar, "yakni 49 Pak,!".
Pertanyaan itu benar dan kalian banyak-banyak belajar berhitung," kata guru demikian dihadapan murid-muridnya.
Begitulah keseharian anak-anak SMP Rintisan Desa Pasirtanjung, dalam menerima pelajaran Matematika.
Asep Mulyana (15), merasa senang bisa belajar dengan teman-teman lainya, meskipun belajar seadanya, tanpa prasarana yang memadai.
Setiap hari, ia belajar ditempat kursi plastik milik desa dan meja sudah ’reot’ dengan semangat mengikuti pelajaran.
Ia yang sehari-hari bekerja di kebun dan menggembala kerbau keinginan kuat untuk belajar, terlebih sekolah gratis. Kalau orangtua tak mampu membiaya pendidikan, apalagi orangtua laki-laki sudah meninggal dunia. "Kami setiap hari tidak ada alfa, karena ingin belajar," ujar Asep yang kini duduk dibangku kelas I di sekolah itu.
Asep yang semestinya sudah kelas III, tak minder pada teman-temanya, walaupun pakaian seragam putih biru sudah bolong-bolong dan kusam.
Dengan pendidikan SMP Rintisan Desa Pasirtanjung, ia merasa senang bisa belajar untuk menerima pelajaran. "Kami ingin menjadi orang pandai dan harus belajar," kata Asep yang bercita-cita ingin jadi pemain sepakbola itu.
Hikamawati (14), yang duduk di depan bangku Asep mengaku, ia sangat senang bisa belajar di SMP ini tanpa dipungut biaya sepersen pun.
Sebetulnya, ia sama orangtua disuruh masuk pondok pesantren dan tidak boleh sekolah di sini. Namun, ia nekad ingin belajar di SMP Rintisan Desa setempat. "Kami ingin bersekolah, ingin bercita-cita menjadi dokter," kata Hikmawati yang seharusnya kelas II di tingkat SMP itu.
Selamatkan
Kepala SMPN 2 Kalanganyar Kabupaten Lebak Subhan mengatakan, berdirinya sekolah rintisan ini untuk menyelamatkan anak-anak dari putus sekolah, apalagi dorongan pemerintah setempat cukup tinggi untuk menysukseskan penuntasan wajib belajar sembilan tahun.
Sebab kebanyakan anak-anak di sini hanya tamatan SD saja, lalu mereka bekerja di Jakarta. "Kami mendirikan sekolah, ingin mendorong anak-anak dari keluarga miskin bisa mengenyam pendidikan," katanya.
Ia menyebutkan, saat ini jumlah siswa yang melanjutkan pendidikan di SMP Rintisan Desa Pasirtanjung tercatat 52 orang.
Mereka berasal dari Desa Pasirtanjung Kecamatan Rangkasbitung dan Sangiangtanjung, Kecamatan Kalanganyar. Dari 52 siswa itu, kata dia, mereka berasal dari keluarga miskin yang tinggal di dua desa tersebut.
Bahkan, siswa yang tinggal di Desa Sangiangtanjung yang setiap hari melintasi jembatan gantung cukup banyak. Setiap hari KBM menggunakan Aula Kantor Desa Pasirtanjung, tanpa ruangan kelas.
Selain itu juga sarana meubeleur seadanya dengan kursi dan meja ’reot’ karena belum memiliki gedung sekolah. Begitu pula tenaga pendidik, mereka sukarela dari staf desa, Babinsa Koramil dan masyarakat. "Semua tenaga guru di sini sukarela tanpa meminta gaji bulanan," ujarnya.
Ia berharap SMP Rintisan yang didirikan 2011 lalu kini membutuhkan sarana ruangan kelas, sehingga anak-anak belajar merasa nyaman dan terkosentasi dalam menerima pelajaran.
Saat ini, kata dia, anak-anak belajar di ruangan terbuka jika hujan disertai angin kencang terpaksa diliburkan. "Kami berharap pemerintah bisa membantu pembangunan gedung sekolah yang refresentatif. Warga sudah menghibahkan tanah untuk lokasi pembangunan sekolah itu," ujarnya.
Sekertaris Desa Pasirtanjung, Kecamatan Rangkasbitung, Mutria mengatakan, pihaknya sudah mengusulkan kepada Dinas Pendidikan setempat agar mendapat bantuan pembangunan gedung sekolah.
Pendirian SMP Rintisan ini, lanjut dia, dalam upaya mensukseskan pendidikan dasar, mengingat siswa di sini kebanyakan putus sekolah akibat lilitan kemiskinan juga jarak tempuh ke sekolah reguler cukup berjauhan. "Warga kami kalau mau sekolah ke Rangkasbitung mencapai lima kilometer," katanya.
Anggota DPR RI Dedi Gumelar alias "Miing" mengatakan, pihaknya berjanji akan mendorong SMP Rintisan Desa Pasirtanjung memiliki gedung ruangan belajar dengan layak dan memadai.
Miing anggota DPR Komisi X berasal dari daerah pemilihan Kabupaten Lebak dan Pandeglang merasa prihatin melihat dunia pendidikan di Tanah Air.
Ia berjanji akan membahas SMP Rintisan itu dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar dibantu satu gedung ruangan belajar. "Kami akan berupaya untuk memberikan dorongan kepada pemerintah agar siswa belajar di ruangan yang layak dan memadai," kata Miing saat mengunjungi jembatan gantung "Indiana Jones" di Desa Sangiangtanjung belum lama ini.
Sementara itu, Kepala Bidang SMP dan SMA/SMK Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak Asep Komar mengaku, pihaknya memberikan apresiasi terhadap partisipasi masyarakat yang mendukung terhadap pendidikan.
Karena itu, kata dia, kemungkinan pemerintah akan membantu pembangunan gedung sekolah jika KBM terus berjalan.
Saat ini juga pemerintah sudah memberikan bantuan dana bantuan operasional sekolah (BOS). "Kami minta pengelola SMP Rintisan Desa Pasirtanjung bersabar dan kami akan berupaya untuk mendapat bantuan pembangunan sekolah itu," katanya.
Ia menambahkan, pihaknya akan memverifikasi SMP Rintisan itu agar menjadi SMP Satu Atap, jika sudah terpenuhi sarana belajar dan tenaga pendidik serta jumlah siswa. "Kami berharap SMP Rintisan Desa Pasirtanjung itu bisa berubah status sekolah satu atap," katanya.


