Filasat adalah bidang ilmu yang selalu mencari kebenaran, dan bahkan kebenaran itu (yang mungkin sudah deterima oleh banyak kalangan) masih saja dicari kebenarannya lagi. Daya berpikir tingkat tinggi selalu menjadi patokan utama dalam filsafat, inilah manusia dengan entitas ekstrim dalam berpikir. Maka pandangan masyarakat umum tentang filsafat selalu rumit, sulit, dan bahkan menakutkan.
Sebagian orang yang antipati terhadap filasafat selalu menganggap pemikir dalam filsafat adalah orang-orang yang selalu berpikir rumit, mereka tidak mau yang sederhana, karena semuanya dianggap realatif dalam hukum realtifisme filasafatnya. Berpikir yang tidak pernah terpikirkan lingkungan sekitarnya, sehingga hasilnya selalu bersebarangan dengan kemapanan dilingkungann tersebut.
Tapi meski demikian filasafat selalu menjadi pembicaraan yang kunjung selesai. Pemikir besar dalam ilmu filsafat selalu lahir dari generasi sebelumnya. Tema-tema besar dalam filsafat selalu menarik untuk dikaji. Tapi yang selalu menjadi batu sandung dalam memahami filsafat, filosofis klasik selalu merumuskan bahasa filsafat kedalam bahasa yang “kacau” dan membingungkan.
Hingga akhirnya Ludwig Wittgenstein menyadari bahwa persoalan-persoalan dalam memahami ilmu filsafat yang dibawa turun temurun supaya (lagi) tidak menjadi beban bagi pemula yang mau mempelajari/memperdalam filsafat. Oleh karena itu, para filsuf seharusnya sadar bahwa tugas mereka sebenarnya adalah mengurai kemacetan-kemacetan linguistik, merumuskan kembali kerangka teoritis dalam filsafat agar dapat dipahami tidak oleh sebagian orang saja (hal, 132).
Pernyataan Ludwig Wittgenstein ini merupakan tuntutan bagi pemikir-pemikir filsafat era modern dalam membawakan filsafat mudah dicerna oleh semua kalangann dan mempoles filsafat sedemikian rupa agar tak (lagi) menakutkan. Seperti buku filsafat dengan dikonsep lelucon, gelitikan, dan pemikiran filsafat Plato ini.
Filsafat dalam buku ini disajikan dalam bentuk cerita yang menghibur, meski kadang tidak terkesan membaca buku filasafat, tapi ketika dicermati ulang isi cerita yang ada di dalam buku ini begitu banyak terkandung makna filsafat. Sejumlah anekdot-anekdot kocak tentang filsafat terangkum secara padat dan rapi.
Buku Plato Ngafé Bareng Singa Laut ini mematahkan aturan-aturan bahasa filsafat yang amat sulit menurut sebagian orang selama ini, sekaligus jawaban bagi mereka yang kesulitan atau bahkan benci dengan filsafat. Membaca buku ini seperti mengikuti kursus kilat filsafat dengan cara yang lucu namun mencerahkan.
Nuansa humor dalam buku ini merubah stigma filsafat yang menakutkan (perlahan-lahan) menjadi penghibur yang menyenangkan. Thomas Cathcart dan Daniel M. Klein, penulis buku ini memang lebih mengedepankan bobot isi dari perkataan Plato ketimbang merangkum dalam bahasa filsafat yang rumit, yakni meramu filsafat kedalam humor —maka mitos “filsafat yang rumit” pun runtuh.
Kholil Aziz
Peneliti di Universitas Pelita Harapan Surabaya
Data Buku
Judul : Plato Ngafé Bareng Singa Laut: Berfilsafat dengan Anekdot
Penulis : Thomas Cathcart, Daniel M. Klein
Harga : Rp. 36.000,-
Tebal : 220 halaman
Terbit : 05-03-2011
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
ISBN : 978-979-21-2712-6


