Rabu, 16 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Rabu, 16 Mei 2012 | 20:11 WIB
Puisi-puisi Lailatul Kiptiyah
| Jodhi Yudono | Rabu, 18 Januari 2012 | 22:21 WIB
|
Share:

Burung Layang-layang Api (Hirudo rustica)

Episode
di sudut kotamu
hujan jatuh membasahi musim
entah kenapa kita menjadi asing

kuteruskan perjalanan
membawa apa yang bisa kubawa
mungkin aroma hujan
dan wangi pandan
juga namamu

di lembar kenangan

Jakarta, Oktober 2010

Pada Penjahit
1/
sebelum petang mencapai kitaran
langkahmu lebih dulu sampai di pancuran
lalu kau udarkan aku dan benangku dari keliman
bersama butiran tasbih dan potongan siwakan

biarkan aku turut pengembaraan
menuju padang gembala dimana sorbanmu
kau jahit menjadi atap para penjaga
hingga aku dan benangku sekali lagi berkelindan
menelisik kesabaran
di tepian kidungmu
penutup luka yang merajahi kening dan
kelenjar hening dadamu

2/
lantaran malam tak henti menyayat matamu
yang selalu basah
lewat sebilah kukunya yang tajam terasah batu tebing
tempat kilat-petir terbaring menggemuruhkan singir munajat-zikir
sebelum membelah
akar lembah
menghamburkan jeritan petir di padang getir
dan resah

maka kau petik tujuh kuntum kamboja dari ranting musim
yang takzim menggugurkan senja
lalu kau masukkan kedalam kantung bajumu
yang berdesir menyuwir kulitmu
yang teramat dekat dengan bunyi nadi pada tulang lekat lehermu
tempat keramat kau menjahit ayat
membaiat rakaat
di sebalik pintu

dengan aku dan benangku yang kau ambil
dari air mata penggembala yang terkucil
di padang getir dan resah itu

Jakarta,  2011

Kanal

seekor burung dara hinggap
di tiang pancang sebuah kanal yang senyap
enceng, pegagan, teratai dan kiambang lainnya
merambahi permukaan air kanal
yang sekeruh harihari para pendatang gelap

pendatang gelap dengan langkahlangkah tergagap
yang meninggalkan kampung halaman mereka
dengan buntalan mimpi dan cemas
yang saling muncul-mengendap:
setelah harus rela melepas apa yang telah mereka garap

lalu mimpi dan cemas yang menakutkan itu menjelma hantuhantu
seperti dalam kisah kanakkanak dulu
sosok mereka
tangis mereka
bergentayangan-berlinangan
di emperemper waktu
mamantulmantul begitu beku di permukaan air kanal itu
melengkingkan jerit paling ngilu

jika hari pagi
mereka kencang berlari
menuju garis matahari
hingga keringatkeringat dari ujung mata mereka
membulir-mengalir
membentuk bendungan air
yang kemudian pecah:

membanjiri setiap celah
mencari jalan menuju rumah

Jakarta, November 2011

Amsal Burung
barangkali aku lah mimpi
yang terbang paling tinggi
tergulung hitam mendung
kuusung kelam kidung

di hari pagi
aku dan matahari saling berbagi
ia hangati mata dedaun dari dingin embun
agar kuncup-kuncup pohon membuka
agar kupu-kupu mengabarkan rahasia
:wangi yang ia serbukkan pada putik-putiknya, ia curi dari kelopak kembang surga

setelah itu ia akan merambahi rumahku
dahan dan ranting pohon yang kujalin jadi sarang waktu
sebelum bulan menua, ia ranumkan bakal-bakal buah
ia padatkan serat-serat berkah
agar tubuhku yang mudah melayang ini betah kembali ke sana
menetaskan  telur-telur cahaya

cahaya yang kemudian hinggap di semesta raya
meramaikan  taman-taman warna

kusetiakan kepakanku mengitarinya
melampaui atap-atap cuaca
juga musim-musim yang tak lagi membunga

agar ia tahu
betapa waktu tak lantas membuatku menjadi purba
melupakan berkah hangatnya
hingga wajahnya yang semburat itu
menyatu
menjadi senja yang
lantas memanggilku

maka kubawa serentak kaumku
mengangkasa
memenuhi panggilannya
mendedahkan kembali tubuhku
untuk memulang  muda
menjelmakan  telur-telur cahaya
begitu seterusnya

hingga ketika malam tiba
rasanya seperti telah sempurna:

kukembarai  padang  sabda
kurambahi  puncak semesta
dalam ribuan tahun kelana

Jakarta, 2011

Senandung dari Balik Pintu

dari sebalik pintu
kudapati sebuah derit perlahan
bagai rintih senandung ibuku
melepas sebuah jerit kelahiran

pada sebentang lantai yang tak berubin
helai demi helai rambutnya terjatuh
membentuk seutas rindu berjalin
ke rantauku yang semakin jauh

kukenang dari sebuah pintu:
ia lepas bebulir rindu, mengalir menuju mataku
ketika itu jejakku semakin samar
tersaput debu-debu yang terketap di latar

oh, senandung lagu itu aku tahu- selalu kembali
menuju pintu tempatnya sedari dulu menanti
hingga aku seperti hafal
satu demi satu
air matanya yang tanggal
terbasuh ricik hujan penghujung musim
bagai mengekalkan irama sepi
di keheningan malam paling takzim

keheningan malam  yang kuyakin- mengekalkan cinta di tempat ibuku bermukim

___gang pendidikan, 22 Desember 2011


Biodata:

Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar-Jawa Timur. Saat ini bekerja di Jakarta. Beberapa puisinya tergabung kedalam antologi bersama; Kemala, Dampak Meditasi 70 (2011), Bunga Rampai Cerpen dan Puisi Temu Sastrawan IV  Ternate (2011.) Seratus Puisi Tema Ibu “Karena Aku Tak lahir dari Batu”(Moch Satrio Welang Publishing, 2012).