Sabtu, 23 Agustus 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 23 Agustus 2014 | 03:53 WIB
Abdul Djebar Hapip
Pencipta Kamus dan Tata Bahasa Banjar
Rabu, 18 Januari 2012 | 14:09 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

KOMPAS/DEFRI WERDIONO
Abdul Djebar Hapip

OLEH DEFRI WERDIONO

Profesor Abdul Djebar Hapip menjadi yang pertama dan selama lebih kurang 25 tahun sebagai satu-satunya orang yang membuat kamus bahasa Banjar. Semua itu merupakan hasil dari kegiatan Pelatihan Leksikografi di Pusat Bahasa, Jakarta, tahun 1976 yang ia ikuti.

Di ruang kerja sosok yang akrab dipanggil Pak Djebar (77) ini, ratusan buku tertata rapi di dua rak besar. Di ruang ini pula, pada akhir 2010, dua komputer jinjing miliknya raib diambil pencuri yang terjadi siang bolong saat semua penghuni rumah keluar. Peristiwa itu sangat disesalkan karena di dalam laptop tersebut terdapat sejumlah karya yang belum diterbitkan.

Cerita soal karyanya yang hilang mengawali obrolan kami dengan mantan Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), Banjarmasin, itu.

Menurut Pak Djebar, tersimpan setidaknya empat naskah di dalam laptopnya. Ada naskah cerita rakyat Diang Ingsun dan Raden Pangantin, kamus bahasa Indonesia-Banjar, puluhan kata pantangan khazanah masyarakat Banjar, sampai dongeng tentang binatang (fabel).

Diang Ingsun dan Raden Pangantin merupakan mitologi masyarakat Banjar yang kisahnya hampir sama dengan Malin Kundang di Sumatera Barat. Penulisannya sudah mencapai 99 persen, tinggal mencari sponsor untuk diterbitkan. Sementara kamus bahasa Indonesia-Banjar baru tersusun pada abjad A. ”Salahnya, saya belum membuat backup. Padahal, datanya lebih mahal dibandingkan dengan harga laptop,” ujarnya.

Sejauh ini karya Abdul Djebar yang sudah diterbitkan dan terkenal adalah Kamus Banjar-Indonesia. Kamus lokal tersebut telah dibuat hingga edisi keenam. Setiap edisi terbaru berisi penyempurnaan dan penambahan dari edisi-edisi sebelumnya.

Kamus kecil

Masih teringat jelas di benak Pak Djebar, cetakan pertama berupa kamus kecil setebal 40 halaman. Kamus itu merupakan karya dari keikutsertaannya dalam pelatihan teknik penyusunan kamus di Pusat Bahasa. Saat itu dia masih berprofesi sebagai dosen Bahasa Indonesia di Unlam.

Dalam perkembangannya, Pak Djebar terus melakukan riset. Pengumpulan kosakata baru tidak hanya dilakukan di Kalsel, tetapi juga ke daerah lain. Ia sempat mengumpulkan kosakata Banjar hingga ke Tembilahan, Riau. Rupanya kosakata masyarakat Banjar di Tembilahan masih sangat kuat dan terjaga ketimbang di Banjar sendiri.

”Kata-kata yang di Kalsel sudah tidak dipakai ternyata di Tembilahan masih digunakan meski mereka belum pernah bepergian ke Banjar,” ujarnya. Hasil pengumpulan data ke Tembilahan akhirnya dimasukkan ke dalam edisi ketiga.

Upaya bapak tiga anak ini untuk mengembangkan kamus makin terbantu setelah pada 1985-an ada beasiswa dari Toyota Foundation. Saat melakukan penelitian, Pak Djebar juga berhasil mengklasifikasikan bahwa di dalam bahasa Banjar terdapat dua dialek besar. Keduanya adalah dialek Banjar Kuala dan Banjar Hulu. Pembagian dialek itu didasarkan pada ciri struktur pengucapan, terutama sistem vokal.

Dalam dialek Banjar Hulu—yang daerahnya meliputi Martapura ke selatan—dikenal vokal A, I, U, E, dan E’ (pepet). Sementara dalam dialek Banjar Kuala—wilayah Rantau ke utara—hanya dikenal tiga vokal, yakni A, I, dan U.

”Apa yang saya temukan sekarang sering dikutip orang. Sebagian orang malah tidak mencantumkan nama saya saat mengutip,” katanya.

Kedua dialek itu sendiri masih terbagi lagi dalam sub-sub dialek yang warnanya berbeda satu daerah dengan daerah lain.

Rupanya membuat kamus Banjar saja tidak cukup. Salah satu gubernur Kalsel, Gusti Hasan Aman (1995-2000), pernah mengatakan, alangkah baiknya ada referensi lain bagi dunia pendidikan selain kamus. Sebab, saat itu banyak sekolah mengajarkan siswa bahasa daerah dengan cara hanya menghafal isi kamus yang ada.

Kata-kata sang gubernur itu pun mendorong Pak Djebar membuat Tata Bahasa Banjar yang kemudian secara resmi dipakai sebagai buku pegangan pengajaran bahasa di tingkat sekolah dasar dan menengah. Untuk menyusun tata bahasa itu diperlukan waktu sekitar dua tahun sebelum akhirnya diterbitkan.

”Tata bahasa itu diakui dinas sebagai buku pegangan pengajaran bahasa untuk muatan lokal. Sebelum ada kamus, sekolah bahkan tidak mengajarkan bahasa dalam muatan lokal,” tuturnya.

Perhatiannya terhadap budaya juga mendorong Pak Djebar membuat karya lain berupa buku Cerita Anak 1.000 Sungai. Terdapat 42 cerita yang dikemas dalam lima jilid. Isinya berupa karangan yang didasarkan pada pengalaman masa kecil penulis. Ada cerita tentang balumba, yakni bagaimana anak-anak suku Banjar bermain di sungai sampai badannya penuh daki dan mengilat oleh sinar matahari, hingga cerita bagalau tentang mencari ikan saat air sungai surut.

Mengenai perkembangan bahasa Banjar dewasa ini, Pak Djebar berpendapat sewaktu-waktu bisa kalah oleh bahasa Indonesia berdasarkan pengalaman banyak bahasa daerah yang musnah. Ia mencontohkan, di daerah Alalak di pinggiran Banjarmasin dulu terdapat bahasa Berangas (dialek bahasa Bakumpai).

Saat dia masih anak-anak, bahasa Berangas itu masih banyak digunakan orang. Namun, ketika melakukan penelitian tahun 1980-an, ia menemukan hanya ada satu rumah yang bersedia mengakui dirinya orang Berangas. Warga lain malu dan merasa ketinggalan zaman jika menggunakan bahasa Berangas dalam percakapan. Mereka lebih memilih menggunakan bahasa Banjar.

”Kalau tidak dipelihara, suatu ketika bahasa Banjar akan kalah oleh bahasa Indonesia karena bahasa Banjar dekat sekali dengan bahasa Indonesia. Dalam linguistik, mudah sekali interferensi bahasa Indonesia ke dalam bahasa Banjar,” ucapnya.

Suatu ketika, akibat dominasi bahasa Indonesia, kata Pak Djebar lagi, mungkin yang berkembang adalah bahasa Indonesia dengan dialek Banjar. Ini terbukti di Jawa, yang mana banyak orang kota tidak lagi menggunakan bahasa Jawa.

 

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono