KAKEK NENEK BERNOSTALGIA
Nenek mengunyah sirih
telunjuknya merogoh-rogoh gigi yang merah
matanya jauh memandang kedepan
Kakek memegang pundak nenek
sambil berkata mesra,
”Sayangku...,
masih saja awan mengulum senyum...,
tiap hari datang berbeda
tapi tak lupa melambai mesra padamu!”
Pandangan nenek beralih pada kakek
tersenyum ia
”Cintaku...,
duhai bayang-bayang yang hampir punah
aku tau kau mulai menggodaku
sinar menari-nari diujung jariku
nafasmu berat masih saja bernafsu!
apa makna daun kering bagimu?”
Dengan sigap kakek mencekal tangan nenek
”Bidadari...!
tak mau aku mendengar kata seperti itu!
siapakah sampah maksudmu?
bumi tua melahirkan benih,
matahari renta makin panas membara!
Dinda buah hatiku
anak rusa jelitaku,
tak lekang waktu pada masa
di padang perbukitan kita lari bersama
menjelang bayang malam
cium pada bulan purnama?
jangan hina tubuhmu layu!
jangan ucap!
dekat pada bibirku!
adakah hati merambah bunga?
tak lagi, tak ada, tak akan!"
Nenek menaruh telunjuk pada bibirnya
”...sssst..! Jangan ribut penyair sialan!
kau membuat petang tertawa
akupun tau tak usah kau cerita!
bunga kaca tak akan pudar
dipilin oleh jari yang manis...
hanya saja jangan kau banting,
pecah berantakan nanti
taklah pupus dari ingatku,
keindahan pualam terletak dipangkuanku
menguak segala kekuatan
keindahan purnama milik berdua...
hati pujangga berkata ria
dalam dua relung berbeda
meneguk jadi satu?
taklah kuragukan kau pertama
menggayut buih kehidupan...!"
Kakek terkekeh-kekeh
”hahaha...
kini kau pula bersuara keras!
taklah sadar memang kalau mengenang...
tanda sayang
tanda sayang
sampai kapan cinta menerjang?
sinilah kau kupeluk
kudekap erat bagai dulu
badan kita renta
tapi cinta kita tambah dewasa..."
Kakek dan nenek saling berciuman
Lama...
AKU, JUDAS ISKARIOT
Kelam malam basah tak diharapkan dunia
ketika membahana tangis putra pertama
riuh kengerian meliuk di udara saling tarik dan cakar
perbantahan akan anak siapakah dia ini menimbulkan gelak tawa ruangruang bara bawah tanah
Aku lahir dalam erangan yang bernama nista
dan tumbuh pada asuhan guratan yang bernama kelicikan
aku, Judas Iskariot
aku mengutuk hari lahirku
Kata terawang telah menjelma menjadi pedang
yang bernyalanyala di depan wajahku
tiap kali aku melihat wajahMu dengan muaknya
kerongkonganku tercekat
Penuh amarah hatiku meronta
pandangMu adalah sembilu
Bukan aku...!
Bukan aku...!
Mengapa ada kata akan tertetak pipi menandakan Engkaulah Dia
aku terpuruk?
Telah terjelma seorang anak ketika kita pada tahun yang sama
lahir juga di bumi menangis!
Keduanya telah di adu kata
antara Kau dan aku
tanah berdarah.....
tanah berdarah....
lukamu aku yang punya
lukamu Dia yang punya!
hatiku berkabut malam dan bara menyatu entah dari mana
pilu akan cintaMu tidak hanya menampar jangat dan ariku
hatiku bernanah karena tatapanMu
Enyahlah Engkau...!
Aku telah mengikuti ruang yang kuingini
dalam erangan nikmat labirin tak berujung
tanpa pelangi tanpa perigi
aku memilih oleh karena telah dipilih!
ketika telunjuk menunjuk
Ece Homo...
kubawa kemanakah kalbu remuk?
tercecer dimanakah air mata darah?
tidak ada tempat buatku, tidak
bagianku telah terkata beribu tahun sebelum aku ada
tanah tukang periuk
tanah berdarah
pedang diujung
tali membusung
aku menggantung
Aku, Judas Iskariot...
LUKA PENGEMBARA
telah terusir mereka dari padang penggembalaan yang sejuk
beranakpinaklah hai terkutuk!
nafsumu bergelora atas puingpuing yang telah terhembus
tanahmu retak
jiwamu remuk
“dengan pertolongan Tuhan aku telah mendapat seorang anak lelaki
pengembara pilu dalam padang pelariannya
remuk bertalu
bagai lolongan dan auman tiada hentinya
kunamakan dia, KAIN anakku.”
Hawa memandang cekam gejolak tanahtanah
getar kemarahan telah tertanam entah dari siapa milik siapa
bayang terusir membelah ingatan
menusuk pilu awal penderitaan
bergulunglah tanah pada tiap bajakan
sebab Kain ingin memberi persembahan
tunjukkan olahan dari bulirbulirmu yang telah patah dahan!
siapkan tempat wewangian untuk pemberian
namun langit tertutup
lauk tak disambar
pemberian tak diindahkan
luka hati melihat ada yang bersukacita
“Mengapa muram wajahmu, apakah hati panas membuahkan kehidupan?”
“apa maksudMu, apakah aku akan berlaga atas Engkau?”
“Apakah mukamu tidak akan berseri apabila engkau tidak berbuat baik?”
“Engkau telah pilih kasih! Kecurangan bagiku hanya karena dadih!”
“Dosa telah mengintipmu, kuasailah dia!”
kerubkerub Eden menatap dalam
ular menyeringai menang
jantung Efrat mandul
Allah diam
(KAIN)
“hatiku pilu beruntun
kesunyian mencekam terlalu pedih di padang
apakah pernah aku ditimang?
Kini apa yang adapun tak bergayut
Wajahku muram dalam keletihan mencekam
Untuk apa aku hidup,
Siapakah aku?
Mengapa hanya kami?
Adikku menang di langit dan di bumi
Mengapa pedih terus kubawa sendiri?”
“Marilah kita ke padang!”
dingin dan kelu membabat KAIN
mata gelap raga lumpuh
kebencian bersarang bagai kelelawar menuju labirin dini
buruburu, gelap pekat
kekelaman mewarnai terang padang
darah terserak menggincu tanah pekat
jerit bukan dari bibir berucap
tanah teriak hingga surga menatap
“Apa yang telah kau perbuat kepada adikmu?
Aku mendengar darahnya berseruseru memanggil namaKu!”
“apakah aku penjaga adikku?
Jagalah dia sebab dia kekasihMU!”
“Terkutuklah engkau hai KAIN!
Larilah dalam pengembaraanmu sebab tanah telah menolakmu!”
“hukumanku terlalu berat dari yang dapat kutanggung!
aku tersembunyi dari hadapMu
aku akan dibunuh seperti aku telah membunuh adikku!”
hai tanah Nod terimalah KAIN bersama jeritnya
hai sebelah Timur Eden balutlah luka anak manusia
sebab hati pedihnya akan mengalunkan nada
pada pilu bambu dan kecapi ratapan
keras hatinya mengalahkan kepedihan
dituangkan pada tembaga dan besi yang dapat kau kenakan!
pengembara luka melahirkan anakanak manusia
yang terluka
dalam duka
siapapun dia adalah
musafir yang datang dan pergi berjalan
tujuan mencari kepastian.
TIGA HARI KEMATIAN LAZARUS
Mendengar suara perintah dari lorong bergaung yang amat panjang....
"Hai Lazarus, keluarlah....!"
Di dunia manakah itu dan ini...?
telah tersapu bersih ingatan kelamkelam
pohonpohon kurma dan tarbantin
padangpadang penggembalaan
Sesaat seakan dalam perjalanan panjang
kapaskapas dalam ketenangan
mahluk berjubah putih teruntai tangan menjulur
bentang sayap berkepak melangit
"Marilah, kutunjukkan padamu"
"Ke mana?"
"ikut saja, kelak ceritakan pada yang bertelinga"
Terdengar kertak gigi...
wahai api! Tak kutemukan ceritamu di sini...!
"Apa maksudnya? Bukankah neraka adalah api yang menyalanyala?
Mengapa mereka begitu kedinginan?"
"Neraka adalah tempat di mana kehangatanKu tak ada lagi,
tempat di mana kehadiranKu tak bersama mereka lagi,
penderitaan bathin yang berkepanjangan,
kehampaan yang tak terperikan,
damai sejahtera jangan kau cari di sini,
pertolongan yang diabaikan,
kekosongan yang tak terisikan..."
Terdengan jeritan panjang lolongan para arwah kesumat
wahai api! Betapa kau tak mematikan di sini walau jilatan berkobar....!
"Apa maksudnya? Mengapa kobaran api ini tak menghanguskan mereka?"
"Adalah api abadi tengah menanti
bagi mereka yang keras hati
ketika memilih hidup duniawi tak terperi
tanpa melabuhkan hati pada rindu Ilahi,
Ketika ulat tak memakan habis tulang dan daging mereka,
ketika cacing dan binatang menjalar berdiang di atas mereka,
kenikmatan yang tertuang tanpa belas kasih selama hidup,
cinta terhadap diri sendiri menjadi keangkuhan diri"
Menghampiri tempat penuh kidung dan dendang
sukacita damai tak terperi,
para kerubim melayani dan mahlukmahluk membungkuk hormat
"wahai Tuan, bagaimana apabila aku memilih tempat ini?"
"Engkau akan.
Kembalilah, pantunkan pada keturunanmu, syairkan pada bangsamu
Biarlah yang bertelinga mendengar, bahwa
Keselamatan datangnya dari Sion,
tiada jalan yang lain.
Aku akan menjadi batu sandungan bagi banyak orang,
dan kau akan menjadi cibiran bagi mereka,
Siapa memandang Salib dan mengaku percaya,
kepadanya dianugerahkan keselamatan
sampai selamalamanya.
Namun manusia mengeraskan hatinya,
hingga akhir jaman..."
"LAZARUS...! KELUARLAH!"
Aku keluar sebagai orang asing
setelah tidur panjang dari goa pekuburanku
aku berjalan keluar
kafanku dibukakan...
----
