Rabu, 1 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 1 Oktober 2014 | 04:52 WIB
Kemiskinan dan Penjualan Benda Purbakala Sangiran
Penulis: Lusiana Indriasari | Senin, 19 Desember 2011 | 10:53 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Fosil ngengat purba

SOLO, KOMPAS.com — Temuan dari situs purbakala Sangiran masih terus diincar para kolektor. Mereka memanfaatkan kondisi masyarakat sekitar kawasan situs yang miskin untuk mencari temuan langka dan membayarnya dengan harga tinggi.

Situs Sangiran merupakan tempat ditemukannya nenek moyang manusia Pithecanthropus erectus yang hidup sekitar 2 juta tahun lalu hingga 200.000 tahun lalu. Situs ini menjadi titik penting bukti evolusi manusia yang masih terus diteliti para ahli di dunia. Di situs ini pun ditemukan fosil hewan bertulang belakang, fosil tumbuhan, dan alat-alat dari batu.

Situs Sangiran yang berada di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, dengan luas mencapai 56 kilometer persegi, merupakan areal terbuka yang dihuni sekitar 205.000 penduduk. Kawasan situs ini mudah ditembus dari berbagai arah karena dilalui jalan besar yang menghubungkan Kota Solo, Purwodadi, dan Karanganyar.

Selain diperdagangkan di kalangan kolektor, sejumlah fosil dari Sangiran, seperti rahang binatang lengkap dengan giginya dan tulang lain, juga diperdagangkan di sebuah pasar di Solo. ”Selalu saja ada yang membeli,” kata seorang penjual yang menawarkan fosil tulang dan gigi.

Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran Harry Widianto, Minggu (18/12/2011), mengatakan, temuan-temuan yang dimiliki para kolektor jauh lebih bagus daripada yang dimiliki Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran. Kolektor biasanya mendapatkan benda temuan yang relatif utuh dari penduduk karena mereka berani membayarnya dengan harga mahal. Di tangan kolektor, temuan Sangiran bisa dihargai jutaan rupiah.

Harry menambahkan, sejak tiga tahun lalu, Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran mulai melibatkan masyarakat dalam pelestarian situs. Selain menggugah kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya situs Sangiran, ia juga berani membayar benda temuan purbakala itu dengan harga tinggi. ”Temuan tengkorak gajah yang relatif utuh, misalnya, bisa dihargai Rp 10 juta,” kata Harry.

Francois Semah, geolog dari Museum National d’Histoire Naturelle, Paris, Perancis, menyesalkan perdagangan fosil-fosil purbakala tersebut. ”Sangiran merupakan salah satu pusat penelitian kebumian paling penting. Kini, para ahli geologi dunia sedang mempelajari bagaimana pengaruh perubahan iklim terhadap lanskap Pulau Jawa, tempat manusia Homo erectus,” katanya.

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono