Rabu, 22 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 22 Mei 2013 | 02:35 WIB
Melacak Jejak Opung Pardede - 4
Cinta Hermina Membuat Pak Katua Perkasa
Kamis, 8 Desember 2011 | 19:46 WIB
|
Share:

kompas.com/jodhi yudono
Indri dan suaminya (Arya) di makam T.D. Pardede dan Hermina Napitupulu.

Oleh Jodhi Yudono

Bertanyalah seorang wartawan kepada T.D. Pardede, "Siapa yang paling istimewa bagi Pak Katua?" Maka Pardede pun menjawab, "Pertanyaanmu aneh. Yang istimewa ya istriku yang sudah almarhumah (Hermina Napitupulu)...

Ah... macam apakah perempuan bernama Hermina Napitupulu itu, sehingga mampu menyihir Pak Katua menjadi lelaki perkasa, lelaki yang sanggup membangun ratusan gedung dan mempekerjakan ribuan karyawan pada perusahaannya yang berserakan di mana-mana.

Tentu Hermina adalah perempuan istimewa, perempuan yang dihormati dan dicintai oleh Pak Katua sepenuh jiwa raga. Sampai-sampai Pak Katua rela membangun sebuah bangunan yang tak jauh dari kubur Hermina, semata agar Pak Katua bisa terus berdampingan dengan Hermina, meski mereka telah dipisahkan oleh maut.

Dan setelah Pak Katua mangkat pun di tahun 1991, sepasang suami-istri yang saling mengasihi itu pun "tidur" berdampingan di halaman gedung RS Hermina, dalam sebuah bangunan asri yang sejuk.

Ya, mereka tetap bersandingan bahkan ketika maut telah menjemput. Tepat pukul 23.30 WIB, Indri dan Arya suaminya, mengajak saya memasuki bangunan berpendingin di halaman RS Hermina, Medan, itu. Di dalam bangunan tersebut, sepasang suami istri yang telah mewarnai kota Medan khususnya dengan karya-karya mereka untuk kehidupan melalui usaha dan bakti sosial mereka.

Hermina Napitulu dilahirkan tanggal 20 Maret 1919 di Balige, Tapanuli Utara dari keluarga sederhana. Hermina sempat menikmati sekolah desa dam aktif mengikuti sekolah minggu di daerah kelahirannya itu. Begitu pulang sekolah ia membantu pekerjaan orang tuanya. Dia juga  selalu menyempatkan diri bermain dan bergaul dengan teman-teman sebayanya. Ia disukai oleh teman-teman sepermainannya, karena tidak mementingkan diri sendiri. Apalagi sifatnya terbuka, suka memberi dan menolong. Karenanya, ia merupakan "ikutan" dari teman-teman sepergaulannya.

Masa remaja dijalani Hermina dengan warna-warni pengalaman dan tantangan. Apalagi mengingat masa remajanya itu zaman serba sulit atau dikenal dengan zaman Malaise (zaman meleset), di mana keadaan ekonomi sulit, masyarakat Indonesia baik di desa maupun kota di bawah garis kemskinan, hidup sebenggol sehari.

Walaupun kehidupan rakyat Indonesia di zaman penjajahan Belanda sangat sulit, namun ada dua faktor yang turut menolong pola kehidupan masyaralat Batak Dari faktor adat yang terpadu dalam "Dalihan Na Tolu" yang merupakan triloginya masyarakat Batak. Dari sana muncul rasa kekeluargaan yang besar, kekerabatan, dan jiwa gotong royong.

Sifat, watak dan cita rasa masyarakat Batak seperti digambarkan di atas, ternyata juga deras mengalir pada diri dua remaja, TD Pardede dan Hermina Napitupulu, yang oleh Tuhan secara kebetulan dilahirkan dan dibesarkan di daerah Balige, tepi Danau Toba, Tapanuli Utara.

Baik Hermina maupun Pardede, bekerja menurut bakatnya masing-masing. Pardede selain bersekolah juga mulai ikut berdagang kecil-kecilan, membantu orang tuanya, bahkan mulai menerapkan pola berdiri di atas kaki sendiri. Sedangkan Hermina, selain bersekolah juga turut bmembantu dan mulai pula ikut aktif sebagai pekerja sosial bersama teman-teman sebayanya.

Kedua orang itu akhrinya oleh Tuhan dipertemukan menjadi suami istri.  Jalan yang ditempuh untuk mencapai jenjang perkawinan tidaklah berbelit-beplit, karena wadah melalui proses yang sudah tersedia dalam bentuk adat dan agama. Maka dalam usianya yang menginjak 21 bagi Pardede dan usia ke-18 bagi Hermina, pada hari Minggu 16 Mei 1937, di sebuah gereja di Balige, pernikahan mereka diberkati oleh seorang pendeta.

Selama menempuh biduk rumah tangga lebih 40 tahun, mereka selalu saling mengerti dan bahu membahu dalam suasana apapun. Badai gelombang yang menerpa mereka, tidak membuat rumahtangga mereka goyah. Mereka dikarunia sembilan putra dan putri. Perpaduan suami-istri itu menumbuhkan semangat luar biasa. Yang satu menjadi pelengkap bagi lainnya.

Hermina dipanggil oleh Tuhan pada tanggal 21 Mei 1982 di Wellington, Selandia Baru. Hermina meninggal dunia usia 63 tahun lebih dua bulan. Pardede menuturkan, "Saya merasa kehilangan pegangan pada mulanya, namun pada akhirnya saya menerima nasib yang telah ditetapkan oleh Tuhan dengan penuh kesabaran dan tawakal."

Beberapa catatan mengenai peran Hewrmina bagi Pardede, Hermina bagi Pardede merupakan 'ibu pengasuh, pendorong moral, pemberi semangat hidup, tempat mengeluarkan istri hati, pemngendali, dan stabilisator bagi Pardede sepanjang 45 tahun mereka hidup berkeluarga.'

Energi Hermina itulah, yang kemudian memberikan spirit luar biasa bagi Pardede, sehingga dia mampu mengumpulkan kekayaan yang berlimpah, jabatan yang banyak, serta puluhan penghargaan seperti di bawah ini.

Jabatan/Pekerjaan: Ketua Boar of Director T.D. Pardede Holding Company
1954: Wakil Ketua Majelis Industri Indonesia
1955: Ketua Gabungan Perajutan Sumatera Utara
1956: Wakil Ketua I Majelis Perniagaan dan Perusahaan
1957: Ketua IV Dewan Ekonomi Indonesia Pusat di Jakarta
1960: Anggota Majelis Pusat HKBP
1962: Ketua Dewan Keuangan Umum HKBP
1962: Ketua Dewan Pimpinan Yayasan Universitas HKBP Nomensen
1963: Anggota Dewan Penyantun Universitas Sumatera Utara
1964: Penasehat Menteri Perindustrian Rakyat
1964: Anggota Badan Pekerja Lengkap Dewan Gereja Indonesia
1965: Menteri diperbantukan kepada MENKO DEPERINDRA urusan berdikaro
1966: Ketua Umum BAMUNAS Pusat
1966 – 1979: Rektor Universitas HKBP Nomensen
1971: Anggota DPR/MPR melalui Pemilu
1972: Ketua Pelaksana Panitia Konferensi Executive Gereja Luther Sedunia
1972: Ketua Umum Konsultasi Pendidikan Theologia Sumatera/Indonesia
1975: Ketua Badan Team Nasional PSSI
1979: Ketua Umum Yayasan Universitas Darma Agung, Medan
1982: Ketua Harian Pengurus sepakbola Galatama/PSSI

Penghargaan atas jasa, karya, dan pemikiran

1958: Satyalencana Peristiwa Perang Kemerdekaan Kesatu dari Menteri Pertahanan
1958: Satyalencana Peristiwa Perang Kemerdekaan Kedua dari Menteri Pertahanan
1958: Tanda jasa Pahlawan dari Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia
1964: Satyalencana Wira Dharma dari Menteri Koordinator Kompartemen Pertahanan/Keamanan Kepala Staf Angkatan Bersenjata
1964: Ahli Tekstil oleh Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia
1965: Bachelor of Science in Textile Management oleh Akademi Tekstil T.D. Pardede Foundation Medan
1965: Ahli Ekonomi oleh Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara
1967: Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Perekonomian oleh Takushoku University, Jepang
1970: Satyalencana Penegak dari Menteri Pertahanan Keamanan
1972: Satyalencana Pembangunan dari Presiden Republik Indonesia 

 

Editor :
Jodhi Yudono