Oleh Jodhi Yudono
Siang kian membentang di Medan. Kami mengakhiri pertemuan di meja makan restoran Hotel Danau Toba dengan suapan terakhir pepaya yang manis. Saya dan Indri bersepakat, malam nanti bakal ketemu lagi.
Sambil berjalan menuju kamar hotel di lantai sembilan, saya membayangkan kehebatan Opung Pardede. Pikir saya, bagaimana mungkin seorang diri Pardede mampu mengumpulkan harta sebanyak ini yang tersebar di Medan dan beberapa wilayah di negeri ini, termasuk di tanah Jakarta.
Sesampainya di kamar, saya pun masih terkenang dengan ujar-ujar Pak Katua yang ditirukan oleh Indri. “Bila ada serumpun padi yang menjulang, cepat kau tebas dan ratakan dengan yang lain. Tetapi bila ada serumpun padi yang menggeleng sendiri, cepatlah berikan air dan pupuk agar sama dengan yang lain.”
Begitulah cara Pak Katua menjalankan roda organisasi perusahaannya. Dia tahu apa yang harus dikerjakan dengan bawahannya, termasuk kalimat bijak di bawah ini, “Danau Toba dapat kau timbun, tetapi mulut karyawan kecil tak akan sanggup kau penuhi.”
Hmmm... benar kata Indri, Opung Pardede bukan manusia biasa. Dia adalah pribadi luar biasa yang memiliki kebijaksanaan-lebijaksanaan hidup yang dia cari dan kemudian disimpulkan melalui kalimat-kalimat sakti. Simaklah juga yang ini, “Perusahaan akan roboh bila tak ada ikatan batin antara pengusaha dan karyawannya.”
Atau hikmati juga kalimat ini, “Bila ada satu rumah yang akan rubuh, cepatlah ganti tiang penyangganya meski tak sekokoh yang pertama.”
Tapi menurut saya, di antara kata-kata bijak itu, kalimat di bawah ini adalah pelengkap sempurna yang membuat perjalanan usaha Opung Pardede berjalan sehat sentausa. “Jangan pernah terima saudaraku, saudara istriku, atau saudara dari anak-anakku. Mereka akan menjadi bisul yang kalau dibiarkan atau dipijat akan sama sakitnya.”
Sebuah kalimat bijak yang mencerminkan profesionalitas dalam bisnis Pak Katua. Di mana dirinya sanggup memilahkan antara kepentingan pribadi dan kepentingan perusahaan.
Sambil sesekali memandangi jalanan di seberang hotel yang padat lalu-lintasnya, saya buka beberapa catatan mengenai Opung Pardede. Disebtkan di dalam salah satu catatan itu, saat Pardede kecil, dirinya telah merasai iklim pendidikan yang baik. Ia kenyam sekaligus pendidikan sekular sekaligus pendidikan agama.
Suasana pendidikan yang sudah menjelang maju serta hampir merata di Daerah Batak saat itu, turut serta membentuk sifat pribadi dan wataknya, yang merupakan modal baginya menempuh perjalan hidup. Pada diri T.D. Pardede, tumbuh keterbukaan pikiran dan rasa percaya dirinya sehingga ia selalu optimistis dan tidak ragu-ragu.
Menyangkut kepada keterbukaan pikiran tadi itu, juga memberi pengetahuan serta kesimpulan bagi Pardede bahwa manusia sebagai mahluk pada dasarnya adalah sama, tidak berbeda di hadapan Tuhan yang menjadikannya. Dus manusia, apakah ia berkuli putih, berkulit kuning coklat adalah yang sama dan sederajat, tidak ada yang lebih satu dengan yang lain.
Namun kenyataan sehari-hari yang dilihat Pardede adalah lain. Orang kulit putih atau Belanda yang sekali-kali dilihatnya di Balige atau Tarutung, benar-benar diistimewakan. Kelas mereka lebih tinggi dari pribumi dalam segala hal. Demikian di kantor-kantor pemerintah, begitu juga di tempat keramaian.
Begitu pula di toko-toko yang bermunculan di kota-kota Balige, Tarutung, Sibolga dan Pematangsiantar, yang dilihat Pardede menjadi tauke (juragan) adalah orang Cina. Malah di bidang sarana angkutan, orang-orang China berperan besar, demikian pula dalam dunia pasar, peranan orang China menonjol. Pokonya orang China di dalam dunia perdagangan sebagai pihak penentu, sebab mereka memegang urat nadi perekonomian. Mereka menguasai sarana angkutan, menentukan harga barang yang diperdagangkan di pasar. Memang bermunculan juga pedagang-padagang pribumi, tapi hanya tingkat kecil saja, sedang yang memegang posisi kunci
tetap pedagang China.
Para tauke China tenang-tenang saja tinggal di tokonya, sedang yang berkeliaran melaksanakan operasi dagangnya sebagai calo-calonya terdiri dari pribumi. Walaupun ada pribumi menjadi pedagang besar dapat dihitung dengan jari, mereka tinggal di kota-kota saja, jarang beroperasi ke pelosok-pelosok desa.
Tumpal Dorianus Pardede yang sudah meningkat remaja dan mulai berkecimpung di dunia pasar Balige dan daerah sekitarnya secara kecil-kecilan, berfikir dan bertanya kepada dirinya, apa sebabnya orang China menjadi penentu dalam dunia dagang di sini? Apakah anak negeri tidak sanggup atau kah Belanda memberi fasilitas luar biasa kepada orang-orang China, sedangkan
kepada anak negeri tidak diberi kesempatan serupa?
Pertanyaan itu berlangsung dalam tempo lama dan belum dapat diambilnya kesimpulan jawaban. Setelah bertahun berpraktik sebagai pedagang kecil di pasar dan keluar masuk ke desa-desa sekitar Balige sebagai pedagang keliling, dan pada waktu tertentu merenungkan pertanyaan yg selalu terselip dalam kalbunya itu serta serangkaian dengan praktik dagang yang dilakukan oleh anak negeri, baik sebagai pedagang sendiri maupun sebagai tangan pendagang besar China, menumbuhkan keyakinan kepada Pardede muda usia itu, bahwa anak negeri pun sebenarnya tidaklah kalah pintarnya dari orang China dan pasti mampu berfungsi sebagai pedagang menengah dan besar.
Malah kata hatinya, anak negeri bila mana ada modal kemauan, kesungguhan, keterampilan dan di antara pedagang-pedagang kecil itu dapat terbina saling pengertian, saling membantu dan mengadakan hubungan harmonis dengan produsen barang-barang; demikian juga dengan para konsumen pasti bisa maju dan berkembang seperti juga orang China.
Berlandaskan keyakinannya, anak negeri mampu berdagang dan berbuat seperti orang/pedagang China (yang kemudian diketahuinya mendapat fasilitas tertentu dari pemerintah kolonial Belanda), malah akan sanggup menyaingi dan mengatasinya. T.D Pardede secara sungguh-sungguh bekerja keras serta seefisien mungkin mempraktikkan dagangnya di pasar Balige serta keluar masuk
pasar-pasar lain di sekitar kota itu.
Dalam berdagang, Pardede yang masih muda belia itu menerapkan prinsip-prinsip ilmu ekonomi, disertai tekadnya untuk mengembangkan diri, di mana syarat-syarat untuk mencapainya harus memenuhi syarat-syarat seperti ini: hemat, efisien, disiplin, tahan menderita, tidak mudah putus asa, berinisiatif serta penuh dedikasi.
Walaupun berusia belasan tahun, namun ternyata dirinya telah digodog di dalam kawah Candradimuka, di mana dirinya mendapat pelajaran dari lima jurusan sekaligus. Pertama di bangku sekolah, kedua di gereja/sekolah minggu, ketiga di pasar/dunia usaha, keempat di rumah mendapat bimbingan ibunda tersayang dan kelima adalah di lingkungan tempat tinggalnya di mana ia tidak pernah mengasingkan diri tapi selalu bermasyarakat.
Kelima faktor didikan itulah yang akhirnya menumbuhkan kesimpulan bagi Pardede, bahwa dalam perjalanan hidup ia hanya cocok sebagai seorang pedagang atau berwiraswasta yang berdiri sendiri dan bukan menjadi pegawai atau aparat dari pemerintah kolonial Belanda.
Ya, dunia yang cocok bagi dirinya adalah dunia usaha, Pardede muda pun berketetapan hati melangkah ke depan dengan siap menembus semua rintangan dalam mencapai cita-citanya.....(bersambung)


