Oleh Jodhi Yudono
Ketika remaja, saya kerap mendengar nama TD Pardede disebut di koran maupun di televisi dan radio, sebagai seorang pengusaha tekstil yang sukses, sebagai bos klub sepakbola Pardedetex, seorang pendidik, dan juga seorang politisi nasionalis.
Pikir saya, hebat amat ini manusia. Tinggal boleh di daerah (Medan), tapi namanya menasional, sejajar dengan para tokoh setingkat menteri yang tinggal di Jakarta. Tentu dia bukan sekedar kaya, bukan sekedar baik hati dan tak pula sekedar pintar. Maklumlah, untuk ukuran Medan khususnya dan Sumatera Utara umumnya, tentu banyak orang kaya, orang pintar, dan juga orang baik hati. Tapi mengapa cuma Pardede seorang yang muncul?
Oleh beragam kegiatan yang saya jalani, rasa penasaran saya atas manusia bernama Pardede untuk sementara mengendap. Ingatan tentang Pardede beberapa kali muncul, terutama saat beliau wafat di tahun 18 November 1991. Selebihnya, adalah riak-riak yang disebabkan oleh saling salah paham di antara anak keturunan Pardede yang berjumlah sembilan orang.
Ingatan tentang lelaki kelahiran Balige itu muncul kembali, saat seorang kawan bernama Mariska Lubis menyebut nama Pardede dalam sebuah obrolan. "Saya mau menulis tentang Pardede," ujar Mariska mengutarakan rencananya. Rasa penasaran saya atas figur Pardede yang telah almarhum itu pun bangkit kembali. Terlebih, Mariska lalu menawari saya untuk berkunjung ke Medan, karena kebetulan dia akan bertemu dengan beberapa anak Pardede serta mereka yang pernah berhubungan langsung dengan Pardede semasa hidupnya.
Setelah dua jam mengarungi langit Jakarta-Medan dengan pesawat terbang, saya pun sampai di ibukota Sumatera Utara pada Sabtu siang (19/11) yang gersang. Seorang penjemput langsung membawa saya ke Hotel Danau Toba, di Jalan Imam Bonjol No. 17 Medan, sebuah hotel yang menjadi salah satu aset Pardede yang berserakan di Medan dan sekitarnya. Memasuki hotel ini, terasa benar aroma etnik bataknya. Hiasan dinding dan juga ornamen-ornamen lainnya, baik yang terpasang di dinding maupun lantai, serta busana yang dikenakan oleh karyawan hotel ini langsung mencintrakan bahwa kita sedang berada di Tanah Batak.
Usut punya usut, ternyata ornamen dan aksesoris yang serba "batak" itu belum lama terpasang. Semenjak pengelolaan manajemen diserahkan kepada Indriany Pardede, putri bungsu Pardede, semuanya memang nampak berubah lebih teratur. Tak ada tanda-tanda bahwa hotel ini pernah dijadikan ajang sengketa pihak-pihak yang saling bertikai di awal tahun 2011, sehingga Indri harus tidur di sofa serta digigiti nyamuk, untuk sekedar menegakkan kembali salah satu bisnis utama keluarga Pardede yang sempat porak-poranda karena perbedaan pandang di antara anak-anak Pardede.
Mariska menepati janjinya untuk mempertemukan saya dengan Indri, putri bungsu pasangan Pardede dan Hermina. Pertama saya jumpa dengan Indri, saya berkata-kata dalam hati. 'Anaknya saja sedemikian menarik--Indri tak hanya cantik, tapi juga pintar serta enerjik--Apalagi kedua orang tuanya, khususnya sang ayah.
"Kharisma ayah luar biasa. Jangankan para karyawannya, kami anak-anaknya saja segan sekali terhadap beliau," kata Indri menceritakan betapa besar khraisma Pardede.
"Kalian belum makan bukan? Yuk, kita makan dulu, setelah itu kita baru ngobrol," tutur Indri seraya memanggil waitres. Setelah pesanan datang, seusai kami makan siang, selanjutnya, kami pun ngobrol ke berbagai arah, tentu saja seputar Pak Katua, ya T.D. Pardede, Ayah kandung Indri.
Indri pun mengungkap, belakangan betapa banyak ungkapan-ungkapan bijak dari sang ayah yang justru dia dengarkan dari para pegawai sang ayah. Misalnya ini, "Miskin belajar kaya, kaya belajar miskin. Itu artinya, saat miskin, berbagilah kepada sesama dengan yang kau miliki meski hanya sebuah senyuman. Ketika kau miskin, berbahagialah dengan apa yang kau miliki. Jangan kau rusak martabatmu sebagai manusia hanya dengan secuil harta yang bukan milikmu. Ketika kau kaya, tetaplah sederhana, rendah hati, tidak sombong, dan tidak boros. Meskipun telah kaya, teruslah bekerja karena dengan terus bekerja, otakmu tidak akan menjadi tumpul. Saat kau kaya, lebih banyaklah memberi agar kau tidak merasa hidup sendiri," ucap Indri penuh kerinduan pada sosok sang ayah.
"Ah..., pokoknya banyak banget ungkapan-ungkapan bijak dari ayah. Dan itu tidak pernah saya dapatkan di mana pun selain dari ayah. Ada lagi ungkapan ayah seperti ini, 'Sombong itu hanya menjadi minyak rem, sedangkan rendah hati adalah minyak pelumas. Adalah bagus memberi makan sedikit orang sampai kenyang, tetapi lebih bagus lagi memberi makan banyak orang meski tidak sampai kenyang.” Wajah Indri sumringah, matanya berbinar-binar tiap kali menyebut kata-kata 'ayah' dalam ceritanya.
Indri pun memesan pepaya sebagai pencuci mulut. Sambil menunggu waitres datang, perempuan usia kelahiran 23 Desember 1960 itu pun bercerita kembali perihal ayahnya. “Ada juga yang aku ingat kata-kata beliau seperti ini, 'Setiap harap buatku adalah segumpal kebahagiaan bagi karyawan.' Semua yang dikerjakan ayah semata untuk orang lain. Manajemen seperti ini tidak pernah aku dapatkan di bangku kuliah,” tutur Indri.
Serperti pancuran yang mengalir deras, Indri pun bertutur tentang kehebatan ayahnya, terutama tentang kata-kata bijak yang membuat ayahnya menjadi sedemikian istimewa, bukan saja sebagai seorang ayah, tapi juga sebagai manusia. Maka tak heran, jika sang ayah memiliki pesona dan kharisma yang tak dimiliki orang kebanyakan.
Kata-kata bijak itu, menurut Indri, sangat khas Pardede, "Ayah tidak memungut dari mana-mana. Itu adalah hasil permenungan ayah sendiri," ucap Indri.
Sedemikian banyak kalimat bijak yang keluar dari mulut sang ayah yang selama ini sebagian tersimpan rapat di benak para karyawan. Indri pun menyarankan agar saya minta infromasi kepada Mariska yang selama ini telah mendata ungkapan-ungkapan bijak dari Pak Katua, ya TD Pardede, lelaki hebat dari Balige. (bersambung)
