Jumat, 31 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 31 Oktober 2014 | 23:16 WIB
Puluhan Keris Dijamas di TIC Borobudur
Kamis, 1 Desember 2011 | 20:25 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

MAGELANG, KOMPAS.com--Paguyuban pecinta keris Satriyatama melakukan jamasan puluhan keris peninggalan zaman Kerajaan Mataram, Majapahit, Demak, dan Singosari di Gedung Tourist Information Centres (TIC) Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Ketua Umum Paguyuban Satriyatama Magelang, Ahmad Sofyan di Magelang, Kamis, mengatakan, penjamasan benda pusaka itu bertujuan untuk melestarikan keris sebagai warisan budaya adiluhung peninggalan nenek moyang.

Sebanyak 25 keris milik anggota paguyuban Satriyatama se wilayah Kedu dibersihan dan dirawat dalam kegiatan jamasan tersebut.

"Selain melestarikan budaya, dengan jamasan diharapkan kondisi keris tetap bagus dan awet karena kalau tidak dipelihara akan rusak dan punah, besinya akan berkarat," katanya.

Ia mengatakan, jamasan pusaka sudah populer di kalangan masyarakat, dilakukan setiap 1 Sura atau pergantian Tahun Baru Hijriah.

"Namun, ini hanya kebiasaan dan sebenarnya tidak harus di tanggal tersebut. Perawatan keris dapat dilakukan kapan saja jika diperlukan," katanya.

Ia menuturkan, dengan kegiatan ini diharapkan masyarakat menjadi tahu cara perawatan keris yang baik.

Ahmad mengimbau masyarakat tidak salah sikap dengan dengan menyembah keris. Keris hanya sebagai benda seni peninggalan nenek moyang.

"Perawatan keris dengan jamasan agar pamor pusaka tidak luntur. Pemilik keris harus menjaga pamor tersebut," katanya.

Ritual jamasan dilakukan Asrodin yang juga memiliki belasan keris. Selain keris lintas zaman, ada beberapa pusaka lain yang turut dibersihkan, yaitu tombak pusaka prajurit dan keris jenis luk telulas yang biasa dipakai oleh para raja zaman dahulu.

Pada jamasan tersebut seluruh batang keris dimasukkan ke dalam cairan bernama "warangan" selama delapan menit. Setelah dibolak-balik keris kemudian diangkat dan dianginkan sekitar 15 menit. "Cairan tersebut berfungsi mengkilatkan besi hitam dan nikel putih yang ada dalam keris," katanya.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono