Sabtu, 20 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 20 September 2014 | 04:51 WIB
Tradisi
Tari Cucuk Lampah Masih Lestari di Grobogan
Penulis: Winarto Herusansono | Rabu, 16 November 2011 | 13:50 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
KOMPAS/WINARTO HERUSANSONO Mas Mardoyo mengajak joget pengiring manten ketika menarikan cucuk lampah di Grobogan, Rabu (16/11/2011).

GROBOGAN, KOMPAS.com- Tradisi tari cucuk lampah sebagai pengiring sepasang pengantin masih lestari di pedesaan Kabupaten Grobogan, Jawa Tengan. Itu seperti nampak pada perhelatan pernikahan Wawan dan Siti, Rabu (16/11/2011) di Desa Tambakan, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan.

Pada  pernikahan sederhana menjelang musim tanam ini, cucuk lampah dilakukan Mardoyo, seorang penari sekaligus pranoto coro (pembaca acara).

Dengan luwes Mardoyo mengajak enam gadis muda pengiring mempelai berjoget dan menari Jawa, setelah sepasang pengantin duduk di pelaminan.

Dalam tradisi tarian cucuk lampah ini, Mardoyo mengakhiri tariannya dengan mengendong salah seorang gadis pengiring untuk dibawa ke depan pelaminan.

Yang terasa baru dari cucuk lampah zaman dulu, tarian sekitar 25 menit itu diiringi beragam jenis musik dari organ tunggal. Ada gending Jawa, tetapi juga ada dangdut, dan campur musik campursari.

Editor :
Marcus Suprihadi