Novel Handoko Adinugroho
Rosyid pun tampaknya sepakat dengan keputusan itu. Sebab di tempat itulah aku bisa berdiam, tak perlu berlari atau sembunyi. Bagaimanapun, terus berlari dan terus bersembunyi, sangat melelahkan. Tak ubahnya menjalani hidup tanpa pernah ada kepastian. Di sana, di kampung suamiku, aku benar-benar bisa pasrah, menyerahkan sepenuhnya apa yang akan terjadi kepada nasib, kepada takdir. Bahkan jika pada akhirnya aku harus menanggung akibat dari sesuatu yang tak pernah kulakukan, aku pun akan dengan rela hati menjalaninya.
Kepada Pak Dul, aku mengucapkan terima kasih yang tak ternilai. Kata-kata tak mampu menampung sepenuhnya ungkapan rasa itu. Aku pun meminta maaf karena telah menyebabkan ia menderita, harus tergolek di rumah sakit selama berhari-hari akibat salah satu tulang rusuknya patah. Pak Dul mengangguk. Bu Hasanah tak mampu membendung perasaannya. Tapi kuyakinkan bahwa insya Allah aku akan baik-baik saja. Aku pun berjanji, kelak, jika nasib baik masih berpihak, aku pasti akan mengunjungi mereka. Bagaimanapun mereka berdua telah kuanggap tak ubahnya sebagai kerabatku sendiri.
Rosyid pun kumintai bantuan. Barang-barang yang saat ini masih ada di rumah Pak Jafar kuminta untuk dijual. Rosyid bersedia, meskipun pada akhirnya aku tahu, barang-barang itu mereka beli sendiri. Mereka tak menjualnya ke siapa-siapa.
Berbekal uang hasil penjualan perabotan dan ditambah sedikit sumbangan dari Rosyid dan kawan-kawannya, aku pulang. Wajah ibu tiba-tiba saja membayang di pelupuk mataku. Ibu tentu akan terkejut melihat kedatanganku. Namun beliau juga tentu akan merasa senang karena bisa bercengkerama lagi dengan satu-satunya cucu. Perpisahan ini sungguh menyedihkan. Namun aku harus melakukannya. Aku harus melanjutkan hidup di jalanku sendiri.
Sepanjang perjalanan, di atas bus yang bergoyang-goyang lantaran jalanan yang meskipun teraspal namun tetap saja tak pernah rata, kurangkai kembali peristiwa demi peristiwa yang kualami. Bermula dari kejadian terakhir yang menimpa Pak Dul, lantas mundur ke peristiwa yang terjadi pada Musidi; tentang ibu yang kusarankan untuk pulang ke kampung lantaran tak tega melihat Pak Dul harus kejam terhadap dirinya sendiri demi bisa menampung keberadaan kami, kedatanganku ke pompa bensin di tengah-tangah perjalanan yang tak bisa kuraba arah tujuannya; tentang selebaran pencarian terhadap suamiku dan terhadap diriku yang kulihat di papan pengumuman di masjid; tentang pengusiran para tetangga yang kurasa sangat kejam dan tak berperikemanusiaan.
Pengembaraan kenanganku terus meluncur makin ke dalam, makin ke belakang, tentang suamiku, tentang orang-orang yang selama ini berhubungan dengan suamiku, tentang anak-anak muda yang belajar di rumah kontrakanku, tentang anak Pak Jafar yang gemar menghujat dan mencaci maki ibu kandungnya sendiri, tentang kasak-kusuk para tetangga. Semua tergambar jelas. Terbentang dalam bingkai yang suram. Jika ada kilauan cahaya yang kutangkap, itu adalah bayangan tentang kedua orangtuaku. Tentang ayah dan ibu yang harus berpulang justru dalam kondisi yang tentu sangat tak mereka inginkan. Mereka adalah korban. Korban sebuah peradaban. Korban sebuah zaman.
Wajah ayah dan ibu semakin lama terlihat semakin jelas. Keduanya tersenyum. Mereka bahkan mengembangkan kedua tangan, seolah-olah ingin memelukku. Mereka ingin aku mendatangi mereka agar bisa mereka dekap, seperti dulu, seperti ketika aku masih kecil, saat aku masih kanak-kanak. Dekapan yang hangat, dekapan yang penuh perlindungan. Dekapan yang sangat tulus dan jernih. Selalu saja aku merasa sangat aman, amat damai, manakala berada di sana, menenggelamkan diri dalam pelukan mereka.
Ayah juga tersenyum melihat Hanifah. Beliau tampak sangat bahagia demi melihat cucu beliau cantik dan lincah. Ayah ingin sekali mengelus rambut Hanifah yang ikal dan sangat lebat. Ingin juga menumpahkan seluruh persediaan cinta yang beliau miliki kepadanya. Namun beliau mengurungkan niat. Ibu pun turut mencegah. Mereka berdua lantas sadar. Mereka harus menjaga jarak. Aku tak boleh mereka seret ke dalam lingkaran yang saat ini mengelilingi mereka. Aku sedih. Namun aku bisa memahami. Lantas sebuah guncangan keras menyadarkanku.
Aku terbangun setelah beberapa saat tanpa kusadari aku terlelap. Rupanya roda bus melintas jalan berlubang sehingga semua penumpang terguncang. Guncangan itu pun seolah memutuskan begitu saja kenangan yang terpahat indah. Tak kutemukan lagi wajah ayah dan ibu. Tak kulihat lagi senyum mereka yang mengembang sempurna. Tak kutemukan lagi cahaya cinta yang mereka pancarkan.
Saat kesadaranku telah benar-benar pulih, saat itulah aku membuat keputusan baru. Aku memang harus pulang. Aku harus menjalani hari-hariku sendiri. Aku tak boleh lagi melibatkan orang lain, kendati itu adalah ibu mertuaku sendiri. Keputusan pulang ke kampung di kaki Gunung Sumbing, kurasa bukan sebuah keputusan yang tepat. Seperti halnya yang terjadi pada Pak Dul, ibu pun niscaya akan dituduh menyembunyikanku. Beliau tentu akan dicecar pertanyaan-pertanyaan oleh para pencariku. Aku pun yakin, ibu pasti akan berkilah dan tak akan mengakui aku ada di situ. Tentu hal itu sangat berbahaya. Ibu sudah terlalu banyak menderita. Ibu sudah tercerabut dari kedamaian, ketenteraman dan ketenangan – yang seharusnya beliau nikmati di hari tua – saat bersamaku selama ini. Aku tak ingin beliau mengalaminya lagi. Maka ketika aku harus pulang, itu bukan ke kampung suamiku, melainkan ke kampung yang selama ini tetap kuanggap sebagai kampung halamanku. Aku akan ke Pidie. Aku harus menjenguk makam kedua orangtuaku.
Aku harus bersimpuh di sana, mendoakan mereka. Itu satu hal yang selama ini seperti terlupa. Aku jadi merasa tak ubahnya seorang anak durhaka, yang melupakan begitu saja jasa dan pengorbanan orangtua. Aku merasa berdosa. Bahkan sangat berdosa.
Maka di sebuah terminal, ketika perjalanan baru separuh, aku turun. Kuputuskan untuk berganti bus. Kucari bus lain yang melintas antarpulau. Bus yang akan membawaku ke sebuah wilayah yang selama ini kurindukan. Ke sebuah kampung yang selama ini telah kutinggalkan. Di sana, akan kurangkai kembali kepingan-kepingan hariku, kueja kembali takdirku. Ya, aku harus kembali. Ke Aceh. Sebagian jiwaku masih kutitipkan di sana.***
Selesai, 21 Mei 2008


