Novel Handoko Adinugroho
26. Keputusan
KABAR tentang penyerangan terhadap Pak Dul sampai juga ke telinga Rosyid dan kawan-kawan. Mereka mengunjungi Pak Dul di rumah sakit. Bukan hanya sekadar berkunjung, mereka pun bersedia menanggung sebagian biaya rumah sakit yang harus dibayar karena pompa bensin tempat Pak Dul bekerja hanya bisa menanggung separuh saja.
Pak Dul disarankan untuk melapor ke polisi atas penganiayaan itu. Namun Pak Dul menolak. Ia sudah mengikhlaskan apa yang terjadi, merelakan apa yang ia alami. Bagi Pak Dul, itu adalah sebagian dari risiko yang harus ia tanggung ketika bersedia menyembunyikanku. Justru ia khawatir jika mengadukan penganiayaan yang ia alami akan berakibat pada diriku. Polisi akan mengusut keberadaanku. Pak Dul tak menginginkan itu terjadi. Sebab percuma saja pemi sikap Pak Dul.
Bahkan mereka sangat menghargainya. Sekarang semuanya terpulang kepadaku. Semua keputusan ada di tanganku. Apa pun keputusan yang kubuat, mereka akan mendukung sepenuhnya. “Saya rasa sudah saatnya saya harus pergi dari rumah Pak Dul,” kataku pada akhirnya. Semua orang diam. Semua mata tertuju kepadaku. Mereka menunggu apa yang selanjutnya akan kulakukan.
“Dua orang sudah menjadi korban. Pertama Musidi. Anak muda itu sangat jujur. Ia menyampaikan apa yang memang seharusnya disampaikan. Ia tak bersalah. Ia benar jika menunjukkan saya berada di rumah Pak Dul. Sebab nyatanya saya memang berada di sana. Tetapi saya terlalu pengecut untuk mengakuinya. Saya pecundang. Saya tak berani bertanggung jawab. Akibatnya, Musidi yang harus menanggung akibatnya. Ia pasti dianggap berdusta. Dituduh memberikan keterangan palsu dan menyesatkan sehingga harus diciduk.
Korban kedua adalah Pak Dul. Ia pun seharusnya tak boleh mengalami hal seperti ini. Saya yang paling berhak menderita. Sebab, meskipun saya tetap membantah tuduhan mereka, namun sayalah yang menjadi penyebab dari serangkaian peristiwa tragis ini. Saya yang seharusnya bertanggung jawab. Tapi lagi-lagi, ternyata saya hanyalah seorang pengecut. Peristiwa yang terjadi pada Musidi tak saya jadikan pelajaran bahwa masih ada kemungkinan kejadian yang sama dialami oleh orang lain.
Sekarang, saya pastikan, tak akan ada lagi orang yang akan mengalami nasib seperti Musidi dan Pak Dul. Biarlah saya sendiri yang bertanggung jawab jika memang saya diwajibkan untuk bertanggung jawab. Saya sudah sangat berdosa mengorbankan kedua orang yang ironisnya bukan bagian dari kehidupan saya secara langsung. Mereka bukan kerabat saya. Mereka adalah orang-orang baik namun bernasib malang.” Aku diam sejenak. Kupeluk Hanifah makin erat. Aku hanya bisa menunduk.
Pelan-pelan mataku mulai basah. Setumpuk penyesalan telah mencair menjadi genangan airmata yang setetes demi setetes merambat di kelopak mataku. “Bu Abidah mau menyerahkan diri?” tanya Rosyid. “Tidak,” kataku tegas. “Saya tidak akan menyerahkan diri. Saya punya alasan untuk itu. Pertama, tidak ada perintah pencarian secara resmi untuk saya, seperti yang pernah dikatakan Pak Rosyid. Saya tidak merasa buron, karena saya bukan buronan. Alasan kedua, tuduhan mereka tak beralasan. Saya bukan bagian dari jaringan yang mereka tuduh telah membuat keonaran. Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga dengan seorang putri. Saya memang tidak bisa memastikan apakah suami saya benar seperti yang mereka tuduhkan ataukah tidak, tetapi yang pasti, jika memang benar, maka apa pun yang dilakukan suami saya tak ada kaitannya dengan saya. Suami saya tak pernah melibatkan saya. Jadi, dusta jika mereka mengait-kaitkan nama saya dengan kegiatan suami saya.” “Apa yang akan Bu Abidah lakukan?” “Saya mau pulang. Secara terang-terangan saya akan kembali ke rumah ibu mertua saya di kaki Gunung Sumbing. Jika mereka memang masih mengincar saya, maka biarlah saya ditangkap di sana. Saya akan menanggungnya sendiri. Bahkan ibu pun tak akan pernah saya libatkan. Tentu saya akan menghubungi Pak Rosyid kalau memang hal itu terjadi. Saya tetap akan meminta bantuan Pak Rosyid untuk mendampingi saya.” Rosyid mengangguk. Keputusanku sudah bulat. Tak seorang pun boleh menghalanginya.


