Rabu, 16 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Rabu, 16 Mei 2012 | 20:07 WIB
Aku Bukan Teroris - 95
| Jodhi Yudono | Selasa, 1 November 2011 | 16:41 WIB
|
Share:

istimewa
Ilustrasi

Novel Handoko Adinugroho

Ia lantas bercerita, setelah berhasil memintaku pergi, ia yang masih digayuti kebingungan dan kecemasan, berlari menuju ke pompa bensin. Minta bantuan agar suaminya ditolong. Ketika itu yang ada dalam pikiran Bu Hasanah adalah mencari orang untuk ikut membantu Pak Dul menghadapi tujuh lelaki berbadan tinggi besar itu. Orang-orang di pompa bensin yang mendengar cerita Bu Hasanah buru-buru berhamburan ke rumah Pak Dul. Hanya ada beberapa orang perempuan yang sengaja diminta tetap berada di sana agar pompa bensin itu tetap bisa melayani pembeli.

Sesampai di rumah, ternyata ketujuh orang itu sudah tak ada lagi. Mereka seperti menghilang begitu saja. Mereka meninggalkan Pak Dul yang tergeletak tak berdaya di ruang tamu. Pak Dul memang terluka parah, namun nadinya masih berdenyut. Mereka pun segera membawanya ke rumah sakit. Aku ngilu.

Sangat perih mendengar cerita itu.

Tanpa rasa malu, aku langsung bersimpuh di kaki Bu Hasanah. Meminta maaf lantaran telah melibatkan mereka dalam persoalan yang seharusnya tak menimpa kehidupan mereka. Aku yang bersalah. Jika memang harus teraniaya, maka sesungguhnya akulah yang wajib dianiaya, bukan Pak Dul. Lelaki itu hanya seorang lelaki yang mencoba berbuat baik, berusaha meninggalkan jejak-jejak harum di sisa-sisa waktu hidupnya setelah separuh perjalanan waktunya hanya ditimbuni oleh kebusukan-kebusukan.

Malam itu, aku benar-benar terpuruk.

Merasa menjadi pendosa.

Orang yang benar-benar berlumuran dosa.

Aku merasa diriku tak ubahnya dengan para tetangga di kampung yang kuhuni dulu, yang mengaku dirinya sebagai muslim namun perbuatan mereka kadang tak mencerminkan sebagai seorang muslim. Akulah mahluk paling hina, manusia paling kotor, paling pengecut, paling nista. Di rumah Pak Dul, aku seperti melihat serpihan-serpihan masa depan yang masih tersebar dan berserakan. Aku juga melihat kepingan-kepingan masa lalu yang ketika dirangkai ternyata hanya berisi gambar-gambar abstrak. Gambar yang tak kupahami benar maknanya.

Setelah semalaman hanya terkubur dalam penyesalan dan rasa bersalah, aku merasa harus membuat keputusan. Jika kepingan masa laluku terangkai menjadi lukisan abstrak, maka serpihan masa depan yang masih terserak tak boleh terangkai menjadi wujud yang sama. Aku harus bisa menemukan wujud yang realis. Wujud yang nyata. Jika ada hak yang mesti kudapatkan, maka ada pula kewajiban yang harus kulakukan.

Ya, aku harus memutuskan agar tak lagi ada orang yang harus menanggung kewajiban yang tak seharusnya mereka usung. Aku tak boleh lagi menjadi penyebab penderitaan orang-orang yang justru telah berbuat baik kepadaku. Aku harus berani menghadapi kenyataan. Aku harus berani menerima apa pun yang harus kuterima. Keputusan itu, bulat sudah kubuat.