Sabtu, 1 November 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 1 November 2014 | 07:56 WIB
Yockie, Todongan Pistol dan Hengkang dari Godbless
Kamis, 20 Oktober 2011 | 05:16 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
Iwan Setiawan Yockie Suryoprayogo (kiri) dan Garin Nogroho, dalam latihan drama musik Diana.

JAKARTA, KOMPAS.com--Menjelang pukul 3 dini hari pada Kamis (20/10), beberapa kawan musisi Yockie Suryo Prayogo dikejutkan oleh tulisan musisi itu di dinding facebook miliknya.

Melalui tulisan tersebut, selain karena alasan etika bahwa selama ini lagu-lagu karyanya masih kerap dibawakan oleh Godbless tanpa minta izin, Yocky juga menguak alasan hengkangnya dari kelompok rock tertua di Indonesia itu.

Inilah tulisan tersebut:

"Yang saya sebut sebagai masyarakat sakit adalah masyarakat yang iRASIONAL, setia merawat ilusi & halusinasinya ... satu contoh soal Godbless: saya menjadi bagian dari kelompok musik tsb karena produk/karya yg mampu saya hasilkan pada tahun 1988 hingga 2003'an . Motto yg menjadi pedoman bagi hidup saya: seniman hidup dari KARYA bukan dari kenangan yang ada di masa silam

Saya hengkang dari kelompok ...tersebut bukan karena 'perdebatan ego' seperti yang selama ini disebar-luaskan dan di gembar-gemborkan , itu semua hanya untuk membungkus dan menutupi isu yang sebenarnya terjadi. Namun , saya disudutkan pada posisi hingga tidak punya pilihan unt harus mengundurkan diri , demi membela kepentingan / nama baik seorang penyanyi yang menjadi IKON atau merek dagang , nama besar dikelompok musik tersebut.

Clash secara FISIK yang terjadi diantara kami adalah karena si PARNO [alias: paranoid] akibat kecanduan yang saat itu membuat ybs kalap ketika saya KRITISI dan mengeluarkan kata2 KOTOR hingga mata gelap yg diakhiri dengan mengeluarkan juga sepucuk senjata genggam untuk digunakan membidik saya. Berbagai cara untuk memutar balikkan fakta dilakukan untuk menutupi peristiwa AIB tsb , hingga sampai pada titik jenuhnya ketika saya memberikan STATEMENT di Liputan 6 SCTV , ketika semua pihak saat itu tak bisa lagi mengelak ... menyaksikan ybs melenggang digelandang / diborgol polisi.

Masyarakat yang sakit adalah masyarakat yang tidak mau peduli pada KEADILAN dan KEBENARAN sesungguhnya , jika kebenaran dan keadilan itu menghancurkan MIMPI2 seperti mimpi ngelindur dalam memuja bintang2 pujaan serta idola2nya yang absurd. Kini , setelah sekian tahun peristiwa sengketa tersebut berselang ... masih saja mereka tanpa rasa malu menggunakan karya lagu2 ciptaan saya untuk mencari nafkah dan mendulang ketenaran duniawi , tanpa permisi atau tanpa ada sepatah katapun."

[Perilaku "maling kelas teri bandit kelas coro" itu kan tong sampah.]

Menurut Yockie, apa yang dia ungkap bukanlah semata urusan materi dan popularitas "Yang mengganggu sampai detik ini ... namun HATINURANI dan MARTABAT serta harga diri yang menyayat sampai ke ulu hati," tulis Yockie menanggapi komentar seorang kawan.

Seperti diketahui oleh para pemuja Godbless, selain produkstif mencipta, lagu-lagu karya Yockie rata-rata memang populer. Di album "Semut Hitam" misalnya, lagu "Kehidupan" menjadi semacam lagu wajib ketika orang mengenang Godbless, di samping lagu "Semut Hitam" yang dibikin Yockie bersama Donny Fatah. Selain dua lagu tersebut, Yockie juga menulis beberapa lagu lainnya seperti "Damai yang Hilang" bersama Iwan Fals. "Orang dalam Kaca" bersama Iwan Fals, "Suara Kita", Badut-badut Jakarta (bersama Ian dan Dony Fatah).

Semut Hitam adalah album ketiga dari grup musik God Bless yang dirilis pada tahun 1988. Album ini dirilis dengan jarak waktu yang cukup lama dari album terakhir yang berjudul Cermin. Comeback mereka ini menorehkan prestasi yang luar biasa. Album ini meledak di pasaran dan menjadi album terlaris God Bless sepanjang sejarah. Sukses album ini antara lain berkat lagu andalan album ini berjudul Kehidupan yang langsung berhasil menggebrak setelah dirilis. Sukses single ini dilanjutkan oleh hits berikutnya dari album ini yaitu Rumah Kita. Album ini berhasil mengangkat kembali nama God Bless ke puncak popularitas, sekaligus menjadi motivator bagi banyak kelompok rock yang kemudian muncul pasca sukses God Bless saat itu.

Begitu pula pada album "Raksasa", Yockie juga cukup dominan membuat lagu. Sebutlah, "Maret 1989" bersama Dony Fatah, "Menjilat Matahari", "Misteri", "Cendawan Kuning", "2002", "Sang Jagoan" bersama Sawung Jabo, "Anak Kehidupan" bersama Sawung Jabo, "Raksasa" bersama Tedy Sujaya dan Rudy Gagola.

Raksasa adalah album keempat dari God Bless yang dirilis pada tahun 1989 dan menjadi satu-satunya album God Bless yang dirilis dalam waktu dekat setelah album sebelumnya.

Dalam album ini Eet Sjahranie menggantikan Ian Antono sebagai gitaris dengan gaya permainannya yang banyak terpengaruh oleh musik Van Halen dan AC/DC. Pengaruh permainan Eet Syahranie nyata pada album ini. God Bless tampil lebih garang, lebih keras dan sarat dengan trend musik rock pada akhir tahun 1980-an, seperti terlihat pada lagu Maret 1989, Menjilat Matahari, Emosi, Pemburu Ilusi, Sang Jagoan, dan Raksasa.

Demikian juga pada album "Apa Kabar?" yang dirilis pada 1997, karya-karya Yockie masih tetap dominan.  "Apa Kabar?" (lagu : Teddy Sujaya, Jockie Surjoprajogo, Ian Antono ; Lirik : Sawung Jabo), "Anakku" (Lagu : Jockie Surjoprajogo ; Lirik : Jockie Surjoprajogo), "Pengamen Kecil" (Lagu : Jockie Surjoprajogo ; Lirik : Sawung Jabo), "Balada Si Toha" (Lagu : Jockie Surjoprajogo ; Lirik : Jockie Surjoprajogo).

"Apa Kabar?" adalah album kelima dari God Bless. Lagu "Apa Kabar?" dalam album ini menggambarkan suka cita tentang bersatunya kembali personel kelompok God Bless setelah vakum selama 8 tahun. Dalam album ini, God Bless tampil dengan formasi dua gitaris utama, Ian Antono dan Eet Sjahranie.

Editor :
Jodhi Yudono