Sabtu, 1 November 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 1 November 2014 | 00:43 WIB
40 Persen Tari Tradisional Jambi Punah
Selasa, 11 Oktober 2011 | 20:51 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

chezumar.multiply.com
ilustrasi

JAMBI, KOMPAS.com — Budayawan Jambi yang juga koreografer dan dan kurator tari tradisional, Tom Ibnur, mengungkapkan dari hasil penelitian yang dilakukannya bahwa 40 persen tarian tradisional Jambi sudah punah.

"Dari penelitian yang saya lakukan, ada kesimpulan yang sangat memiriskan hati, yaitu punahnya 40 persen khasanah tarian tradisional Jambi, artinya, dari 100 tari yang pernah ada, 40 di antaranya kini sudah punah," katanya di Jambi, Selasa.

Ada sejumlah tarian yang kini sudah tidak ditemukan lagi keberadaannya di tengah masyarakat meskipun kelompok masyarakat mengakui dulu memiliki jenis tarian tersebut.

Selain 40 persen telah punah, 20 persen selebihnya dalam kondisi kritis atau nyaris punah, 20 persen lagi mulai terlihat gejala sakit, dan hanya sekitar 20 persen saja yang benar-benar masih eksis atau bertahan dan terus bisa berkembang.

Tom menegaskan, rangkuman kesimpulan tersebut hasil penelitian yang dilakukannya pada 1995 hingga 1998 lalu, saat ini tentu saja angka kepunahan itu sudah bertambah hingga lebih dari 40 persen.

"Angka 40 persen itu hasil penelitian tahun 1995, Mungkin saat ini angkanya sudah 50-60 persen, apalagi di tengah derasnya akulturasi dan ekspansi budaya barat di era globalisasi ini pasti sangat mempengaruhi keberadaan kebudayaan tradsional masyarakat moderen saat ini," kata Tom yang juga dosen IKJ dan berbagai perguruan tinggi seni dalam dan luar negeri ini.

Tom mengaku dirinya bersama Langkan Budaya Taratak yang dipimpinnya telah bertahun-tahun berupaya merevitalisasi dan merekonstruksi kembali berbagai jenis tarian tradisional yang telah punah tersebut.

Namun perkembangan dan kontinyuitasnya tetap saja sulit dipertahankan keberadaannya di tengah masyarakat.

Sanggar-sanggar yang didirikan supaya dapat menjadi penopang bertahannya tarian khas kelompok masyarakat tersebut, akhirnya kembali hilang dan tenggelam.

Sebab para pelaku yang menjadi anggota dan pengurus sanggarnya merasa sia-sia menari karena tidak pernah ada wahana yang memediasi apalagi memfasilitasi upaya dan karya-karya mereka.

"Wajar mereka merasa sia-sia latihan menari, mati-matian menghidupkan atau mempertahankan tarian khas desanya yang sudah tidak diterima lagi oleh masyarakat moderen saat ini.

Oleh karena itu, saat ini diperlukan upaya keras masyarkat dan pelaku budaya serta dukungan kebijakan yang berpihak dari pemerintah baik dukungan infrastruktur sarana prasarana, bantuan anggaran, program maupun motivasi, sehingga keberadaan tarian tradisional bisa kembali direvitalisasi dan dikembangkan.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono