Rabu, 23 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Juli 2014 | 18:54 WIB
Ayu Ting Ting yang Sensual
Sabtu, 8 Oktober 2011 | 00:32 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
KOMPAS.com/IRFAN MAULLANA Pedangdut Ayu Ting Ting

Oleh A.A. Ariwibowo

Ditingkahi goyang geol-geol dengan dipayungi gulita malam, kerap muncul aksi disawer, disenggol, bahkan dicolek oleh tangan-tangan iseng pria kepada pelantun tembang dangdut.

Goyang dangdut senggol sana senggol sini membuat jakun setiap pria turun naik mengiringi bunga-bunga khayal nyrempet-nyrempet segala yang sensual, yang erotis. Sekadar menggenapi tuah Homo eroticus (makhluk erotis).

Ditingkahi goyang geol-geol dengan dipayungi gulita malam, kerap muncul aksi disawer, disenggol, bahkan dicolek oleh tangan-tangan iseng pria kepada pelantun tembang dangdut. Datanglah ke sejumlah perempatan jalan atau sejumlah gang senggol di metropolitan Jakarta. Semudah membalikkan tangan, ada tawaran lantunan tembang dangdut keliling dengan hits "Alamat Palsu".

Duh... dari tukang ojek keliling sampai pedagang asongan, dari penjaja koran pagi hari sampai mucikari, mereka punya asa melepas kepenatan dan kesesakan hidup sehitam embusan jelaga asap knalpot angkutan kota. Sesekali terdengar kata-kata umpatan untuk menggumpalkan hati berbunga-bunga.

Begitu perangkat musik yang diangkut gerobak kayu bertalu-talu, mereka berolah tubuh dengan tangan kanan teracung ke langit. Tariiikk... sampai pagi. Mata mereka membuka dan menutup seiring hentakan nada plus syair tembang dangdut pelipur lara. "Disawer yuk, disawer...," kata seorang dari mereka.

Ada gula-gula sensualitas. Tersengat setrum paras ayu mojang Depok dan terbuai alunan tembang "Alamat Palsu", serta-merta publik terbangun dari lelap duka hidup geol-geol yang punya kata kunci "di mana, di mana". Ya, susunan kata dan runtutan kalimat yang dibalut harmoni nada kerap mengunci duka dan membuka suka.

Publik terbius sosok. Dia Ayu Rosmalina, dengan nama nge-pop Ayu Ting Ting. Tanpa embel-embel mengusung label sensual, dia menyedot pulsa perhatian seiring sinyal kegundahan hidup, dari tarif tol yang bakal mengerek harga barang sampai rencana pemerintah yang bakal menaikkan tarif listrik pada 2012.

Diterima di laga industri musik tanpa neko-neko, sisipan "ting ting" di belakang nama Ayu toh dikait-kaitkan dengan keperawanan. Dia masih perawan ting ting. Tunggu dulu, dara yang satu ini punya testimoni berbeda soal yang sensual. Heemm.

"Dulu saya pertama kali nyanyi di panggung hajatan, saya disawer, kedua tangan dicium. Saya enggak mau nyanyi habis itu. Saya paling kesel kalau disawer," kisahnya. "Kalau manggung, aku enggak mau pakai tari-tarian yang erotis. Ayu ingin jadi diri sendiri yang apa adanya saja," katanya.

Ayu Ting Ting (19) menjamin bahwa ia masih perawan. "Nama asli, Ayu Rosmalina. (Ting Ting) maksudnya, masih perawan ting-ting. Yang menjamin saya masih ting-ting, saya sendiri. Enggak ada jaminan," ujarnya.

Sensualitas terperangkap dalam diri Ayu. Meski terlihat ayu dengan gaya dandanan ala artis Korea, ia mengaku seluruh bagian tubuhnya adalah aset kecantikan yang alami.

Berbeda dengan fans jalanan, ada respons "sekolahan". "Inilah lagu dangdut sebenarnya, mengandalkan suara, bukan menjual tubuhnya, teruslah berkarya dengan suaramu ayu, contohlah seniormu yang benar-benar mengandalkan suara, bukan mengandalkan tubuhnya, seperti Evi Tamala, Itje Trisnawati, Ike Nurjanah," tulis AH sebagai penanggap di laman harian Ibu Kota.

Tidak ketinggalan penyanyi dangdut seperti Julia Perez turut urun rembuk penampilan gaya berbusana Ayu Ting-Ting. "Gaya penampilan Ayu, baguslah, dia belajar dari kesalahan para seniornya. Jadi, dia harus berpegang teguh, enggak berusaha menjadi orang lain. Seseorang menjadi mahal itu karena dia jadi dirinya sendiri," kata Jupe.

Bagaimana membaca teks Ayu Ting Ting yang sensual? Dangdut telah membaptis Ayu dan musik telah mengusung Ayu ke tangga popularitas. Musik tampil sebagai ungkapan rasa keindahan, penghiburan, lamunan, buaian yang membuat tubuh mereguk nyaman. Musik membumi untuk memberi gairah, bahkan menawarkan dramatisasi.

Buktinya, suasana musik dituangkan dalam kode-kode, seperti crescendo (semakin mengeras), decrescendo (semakin melemah), allegro assai (cepat tapi santai), con fuoco (bersemangat, berapi-api), dolce (manis), rubato (merangsek), dan molendo (pelan-pelan melenyap).

Bukankah yang sensual dalam tembang dangdut memuat sisi cepat tapi santai, mengobarkan semangat berapi-api, membawa segala yang manis, bahkan merangsek untuk pelan-pelan melenyap di tengah temaram malam? Apakah Ayu Ting Ting justru melawan arus dasar ini? Bukankah ia ingin menjadi diri sendiri? Contradictio in terminis (pada dirinya mengandung perlawanan).

Gairah dalam tembang dangdut menjiwai segala sesuatu yang manusiawi, betapa pun gairah itu begitu sifatnya sementara. Yang sensual dan yang erotis, bukan hal yang semata dapat dieksploitasi secara tidak senonoh, tapi juga bukan hal yang harus direpresi, bahkan dibuang dari ruang publik karena dinilai berbahaya.

Ayu Ting Ting menghadirkan sensualitas di ruang publik. Bicara sensualitas, filsuf Merleau Ponty mengajukan pertanyaan, aku berpikir apa yang dapat kulakukan lewat tubuhku? Dan perempuan cenderung berusaha melindungi tubuhnya sebagai "beban yang serba rentan", karena itu ia kerap memilih perlindungan dari gangguan orang lain.

Perempuan ditatap, dikuasai bahkan dipandang sebagai obyek semata, itu soalnya. Tatapan (gaze) adalah penguasaan, kata filsuf Jean Paul Sartre.

Dan Ayu Ting Ting menembang, "...kemana kemana kemana ku harus mencari kemana. kekasih tercinta tak tahu rimbanya. lama tak datang ke rumah. di mana dimana dimana tinggalnya sekarang dimana."

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono