Sabtu, 20 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 20 September 2014 | 22:59 WIB
Nama "Indonesia" Dikenal sejak 1890
Penulis: | Jumat, 30 September 2011 | 22:39 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
Gustaaf Kusno Koran San Francisco 13 Juni 1910.

KOMPAS.com — Penyebutan nama "Indonesia" di media cetak internasional ternyata muncul lebih lama dari perkiraan sebelumnya, bukan sejak Sumpah Pemuda 1928. Nama "Indonesia" ternyata bahkan sudah disebut di koran internasional sejak tahun 1890. Demikian hasil penelusuran terkini yang dilakukan seorang Kompasianer bernama Gustaaf Kusno yang rajin mengamati bahasa.

Ia mengatakan, dari penelusuran koran lama yang didigitalisasikan (digitalized newspaper), penyebutan nama Indonesia ada pada harian Sacramento Daily edisi 27 September 1890. "Yang berarti 121 tahun yang silam! Ini benar-benar a big surprise untuk saya," tulisnya.

Pada edisi tahun 1890 itu dikupas mengenai tradisi mengayau atau memenggal kepala oleh suku Dayak di Kalimantan. Secara singkatnya disebutkan bahwa tradisi mengayau ini merupakan kehidupan religius suku tersebut mulai dari saat pemuda akan melamar gadis pilihannya, istrinya mengandung, hingga akan melahirkan. Saat anak muda diakui sebagai laki-laki yang berhak memanggul mandau, semuanya dipersyaratkan melakukannya. Dengan penyebaran agama Islam, suku Dayak di wilayah jajahan Inggris dan Belanda sedikit demi sedikit meninggalkan tradisi pertumpahan darah ini.

Nama Indonesia juga dimuat di sebuah artikel mengenai penemuan suku cebol di kawasan Papua pada harian San Francisco tertanggal 13 Juni 1910. Artikel tersebut menceritakan penemuan suku kerdil pada tebing gunung bersalju yang kemungkinan merupakan penduduk asli dari Indonesia.

Ada satu lagi artikel mengenai Indonesia yang termuat pada koran The Sun edisi Minggu, 22 Agustus 1909, tentang tanya jawab soal pepatah dalam bahasa Inggris bahwa anak gadis yang suka bersiul dan ayam betina yang suka berkokok akan mengalami nasib sial. Saat itu dikatakan bahwa di kawasan Pasifik dan Indonesia semua perbuatan bersiul adalah tabu baik untuk laki-laki maupun perempuan karena siulan adalah suara dari iblis.

Lebih lengkap baca artikelnya di Kompasiana.

Sumber :
Editor :
Tri Wahono