Jumat, 25 April 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 April 2014 | 15:01 WIB
Puisi Raksasa di Tugu Khatulistiwa
Penulis: | Jumat, 23 September 2011 | 06:59 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Damardono, Haryo
Tugu khatulistiwa

PONTIANAK, KOMPAS.com--Wali Kota Pontianak Sutarmidji menyatakan kegembiraannya seiring ditunjuknya kota itu sebagai tuan rumah penulisan puisi raksasa atau "the giant poem" dari empat kota di Indonesia.

"Kota Pontianak malah kota pertama penulisan giant poem di Indonesia yang dirangkai dengan peringatan peristiwa kulminasi matahari di Tugu Khatulistiwa Pontianak," kata Sutarmidji di Pontianak, Kamis.

Ia berharap, semoga dengan diselenggarakannya penulisan puisi sepanjang 100 meter itu bisa menjadi daya tarik tersendiri dalam memancing minat wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke Tugu Khatulistiwa Pontianak.

Kegiatan penulisan puisi "raksasa" awalnya dilaksanakan di Mexico City lima tahun lalu yang bersifat kolektif dan simultan dengan panjang sekitar 120 meter.

Hingga saat ini cara serupa sudah dilaksanakan di 35 kota di 18 negara yang didukung oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dan UNICEF (The United Nations Children’s Fund), kementerian dan universitas di sejumlah negara, dan telah diikuti sekitar 90 ribu orang dari 39 bahasa.

Puisi itu telah ditulis sepanjang 4,5 kilometer dan telah diliput sekitar 200 media. Kota Pontianak merupakan kota ke-36 dan merupakan kota pertama yang dilintasi garis khatulistiwa.

Di Indonesia, Kota Pontianak yang pertama, kemudian disusul Bali (24 September), Borobudur (26 September), dan Jakarta (28 September).

Penulisan puisi tersebut tidak boleh mengandung unsur politik atau kritik terhadap siapapun, lebih memilik tema perdamaian, persahabatan antarsesama, penyatuan antarpenduduk yang berada di belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.

Sementara itu, salah satu utusan dari UNESCO Angel Arenas yang merupakan pemrakarsa penulisan puisi secara massal mengatakan, matahari merupakan sebagai simbol pemersatu antarnegara dan budaya.

"Hanya ada satu matahari di dunia ini dan matahari milik semua orang di dunia ini," ujarnya.

Sehingga peristiwa alam berupa kulminasi matahari di Tugu Khatulistiwa Pontianak merupakan momen spesial untuk diselenggarakannya penulisan puisi secara massal.

"Setiap orang silakan menuliskan perasaannya, seperti tentang keindahan dan mencurahkan perasaannya dalam bentuk puisi," kata Angel.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono