A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: file_get_contents(http://xml.kompas.com/data/banner_on_keyword/on_keyword.php) [function.file-get-contents]: failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found

Filename: controllers/read.php

Line Number: 346

Sang Merah Putih dari Mekongga - KOMPAS.com
Jumat, 18 April 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 18 April 2014 | 22:39 WIB
Sang Merah Putih dari Mekongga
Penulis: | Selasa, 20 September 2011 | 14:11 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Shutterstock
Ilustrasi

Oleh Desi Purnamawati

Bendera merah putih adalah bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dikibarkan pada saat proklamator Soekarno dan Muhammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.

Sang Merah Putih sebenarnya sudah ada sejak beberapa abad sebelum kemerdekaan, dikibarkan di kerajaan-kerajaan di Nusantara saat perang untuk memperebutkan kekuasaan.

Seperti di Kerajaan Mekongga, yang terletak di Kolaka Sulawesi Tenggara, salah satu peninggalan Raja Bokeo Ladumaa adalah bendera merah putih atau lebih dikenal dengan Sangia Nibandera yang kemudian dinamakan Bendera Sangia Nibandera.

Usianya diperkirakan telah mencapai 300 tahun, yang berarti lebih tua dari bendera pusaka yang dikibarkan saat memproklamasikan kemerdekaan.

Bendera Sangia Nibandera juga bewarna merah putih dengan makna yang sama yaitu merah berarti berani dan putih suci tapi memiliki ukuran berbeda yaitu panjang 200 cm dan lebar sekitar 63 cm.

Perbedaan lainnya, pada bagian putih terdapat tulisan syahadat dalam bahasa Arab gundul dan gambar cicak maupuan benda-benda pusaka lainnya.

Karena sudah berusia ratusan tahun, kondisi bendera tersebut sudah lapuk dan berlubang dimana-mana sehingga ditambal oleh penerus keturunan kerajaan pada sekitar tahun 1960-an.

Menurut sejarah, bendera tersebut berasal dari Kerajaan Luwu yang diserahkan oleh Datu Luwu Alimuddin Setia Raya kepada Sangia Nibandera karena ia ikut membantu Raja Luwu dalam perang melawan Kerajaan Suppa.

"Karena bantuan tersebut, maka Luwu dapat memenangkan peperangan melawan Suppa," kata Hj Nurzaenab Lowa, yang merupakan keturunan Raja Mekongga dan kini diwasiatkan untuk menjaga bendera.

Dari cerita-cerita orang tua yang didengarnya Zaenab mengisahkan, karena kemenangan tersebut maka Raja Luwu menawarkan berbagai macam hadiah kepada Sangia Nibandera baik harta benda maupun lainnya, namun ditolak.

Sangia Nibandera lebih memilih bendera merah putih tersebut yang merupakan sebuah yang direbut dari pasukan Suppa. Itulah yang melatari Ladumaa lebih dikenal dengan Sangia Nibandera yang berarti, raja yang memiliki bendera.

Bendera tersebut akhirnya menjadi bendera Kerajaan Mekongga sejak abad XVII atau sejak zaman pemerintahan Sangia Nibandera.

Asal Mula Kerajaan Mekongga

Kabupaten Kolaka di Sulawesi Tenggara, adalah bekas wilayah kekuasaan kerajaan Mekongga yang memerintah sejak abad XIII hingga pertengahan abad XX (tahun 1940).

Wundulako merupakan suatu daerah pemukiman yang sejak dahulu dikenal sebagai tempat tinggal suku Tolaki Mekongga (To Mekongga). Wundulako juga dikenal sebagai pusat pemerintahan kerajaan Mekongga. Cerita lain menyebutkan bahwa Wundulako dahulu juga dikenal dengan nama Unenapo.

Sebelum kerajaan Mekongga terbentuk, pada mulanya daerah itu bernama Wonua Sorume yang berarti negeri anggrek, karena banyak tumbuh anggrek yang batangnya berwarna kuning keemasan.

Sebelum orang Tolaki datang ke daerah Mekongga, pada awalnya sudah ada penduduk yang mendiami daerah tersebut yaitu orang Moronene (okia), atau Toaere yang disebut sebagai penduduk asli.

Setelah beberapa puluh tahun kemudian, penduduk yang mendiami Unenapo (kemudian dikenal dengan Mekongga) terjadi pembauran antara penduduk lama dan pendatang dan mereka saling rukun damai dan sejahtera.

Sejarah peradaban Mekongga telah berlangsung 900-1.000 tahun yang lalu, yang telah berkembang dan diwarisi secara turun temurun oleh komunitas adat masyarakat Mekongga.

Banyak warisan budaya yang ditinggalkan yang mempunyai nilai-nilai unik dan menarik selain Bendera Sangia Nibandera.

Seperti Lulu Sangia atau Tarian Dewa adalah upacara ritual penyembuhan seorang Raja Mekongga atau keluarga raja yang sedang sakit yang hanya dilakukan di komunitas Mekongga.

Selain itu, Sungai Tamboraasi yang merupakan sungai terpendek di dunia yang panjangnya sekitar 8-10 meter dengan lebar 10-20 meter.

Sumber air Sungai Tamboraasi muncul dari celah batu di bawah kaki gunung Tamboraasi dengan suhu 12-18 derajat celcius.

Pelestarian Budaya

Potensi kekayaan yang terkandung dalam adat istiadat suku bangsa menjadi pusaka atau warisan yang merupakan identitas suatu suku dan penyelamatan warisan leluhur.

Menurut Hj Nurzaenab Lowa yang juga anggota Asosiasi Kerajaan dan Kesultanan Indonesia itu, masih banyak pusaka-pusaka Kerajaan Mekongga yang disimpan keturunannya.

"Masing-masing keturunan kerajaan menyimpan benda-benda pusaka, seperti saya yang memegang Bendera Sangia Nibandera yang langsung diturunkan oleh raja terdahulu," katanya.

Benda-benda pusaka itu hanya dikeluarkan pada upacara-upacara tertentu misalnya pada upacara adat mosehe wonua.

Mosehe wonua adalah upacara pencucian negeri dari dosa-dosa sosial pada hakikatnya adalah upacara selamatan dalam rangka koreksi total terhadap semua bentuk penyimpangan.

Benda pusaka Mekongga hingga saat ini disimpan dan menjadi warisan penting yang harus dijaga, seperti Bendera Sangia Nibandera, sang merah putih yang terus dimakan usia akan hancur dan hanya tinggal cerita jika tidak dijaga dan dilestarikan.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono