A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: file_get_contents(http://xml.kompas.com/data/banner_on_keyword/on_keyword.php) [function.file-get-contents]: failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found

Filename: controllers/read.php

Line Number: 346

Pendidikan Multikultural Solusi Konflik - KOMPAS.com
Kamis, 24 April 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 April 2014 | 16:43 WIB
Pendidikan Multikultural Solusi Konflik
Penulis: | Jumat, 9 September 2011 | 03:29 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
shutterstock Ilustrasi

PALU, KOMPAS.com--Pakar pendidikan Universitas Tadulako Palu, Sulawesi Tengah, Prof Dr Asep Mahfudz MSi, mengatakan pendidikan multikultural di dunia pendidikan merupakan solusi nyata bagi konflik dan diskriminasi di tengah masyarakat.

"Tetapi ini jangka panjang. Pendidikan multikultural hari ini baru bisa diketahui hasilnya sepuluh atau lima belas tahun mendatang," kata Asep Mahfudz dalam seminar hasil kajian ilmiah dan analisa situasi terhadap dampak pendidikan harmoni di Sulawesi Tengah, di Palu, Kamis.

Seminar yang dilaksanakan Wahana Visi Indonesia, Dinas Pendidikan Provinsi, Muhammadiyah, Universitas Tadulako dan Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) tersebut bertujuan mendapatkan hasil riset oleh konsultan tentang pendidikan harmoni selanjutnya menjadi bahan masukan untuk rencana aksi pendidikan harmoni selanjutnya di Sulawesi Tengah.

Seminar itu dihadiri perwakilan sejumlah lembaga seperti Dinas Pendidikan Provinsi, Kota Palu dan Poso, Bappeda, DPRD, Kementerian Agama, perguruan tinggi, dewan pendidikan, organisasi kemasyarakatan dan keagamaan (Muhammadiyah, Gereja Kristen Sulawesi Tengah, Yayasan Khatolik, Bala Keselamatan), Wahana Visi Indonesia, serta perwakilan wartawan.

Menurut Asep, pendidikan multikultural adalah modal sosial untuk pendidikan harmoni. Hanya saja kata Asep, pendidikan multikultural itu masih dipahami beragam di tengah masyarakat.

Asep menawarkan pengembangan program pendidikan multikultural sebagai program alternatif mencakup ide dan kesadaran akan pentingnya keragaman budaya, perlunya gerakan pembaharuan pendidikan, serta pendidikan multikultural sebagai pendekatan demokrasi. "Pendidikan multikultural adalah proses yang dilakukan secara terus menerus," kata Asep.

Dia mengatakan, model pendidikan ini akan menciptakan karakter yang kuat terhadap siswa. Untuk menguatkan pendidikan karakter kepada siswa butuh proses panjang dan terus dibiasakan dan dilatih secara terus menerus terhadap siswa.

"Pendidikan karakter itu bukan untuk diceramahkan, tetapi dilatih dan dibiasakan secara terus menerus. Saya optimistis ini bisa berhasil," katanya.

Konsep pendidikan harmoni di Sulawesi Tengah awalnya muncul dari workshop pendidikan damai di Palu tahun 2009 lalu. Hanya saja dalam perkembangannya diubah menjadi pendidikan harmoni karena lebih luas dibanding pendidikan damai.

"Pendidikan damai hanya mencakup hubungan antarsesama manusia, sementara pendidikan harmoni lebih luas, makanya kita tidak menggunakan nama pendidikan damai," kata Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tengah, Syamsuddin H Chalid.

Konsep pendidikan harmoni adalah pengintegrasian nilai-nilai harmoni terdiri dari tiga aspek yakni harmoni diri, harmoni sesama, dan harmoni alam ke dalam proses pembelajaran.

Menurut Syamsuddin, harmoni diri lebih pada aspek hubungan individu dengan Tuhannya. Harmoni sesama, hubungan manusia dengan manusia, dan harmoni alam, hubungan manusia dengan alam. Pendidikan ini kata Syamsuddin sebagai upaya menciptakan karakter yang kuat.

Syamsuddin mencontohkan, Tuhan menciptakan alam untuk manusia, tapi kalau alam tidak dipelihara dia akan memberi dampak negatif. Sebaliknya alam akan dinikmati jika diperlakukan dengan baik. "Inilah salah satu karakter yang ingin dibangun," katanya.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono