Minggu, 20 April 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 20 April 2014 | 20:40 WIB
Rekam Sejarah Jakarta-Cape Town
Penulis: | Selasa, 23 Agustus 2011 | 20:32 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

KOMPAS/MH SAMSUL HADI
Dari bagian atas dengan atap terbuka bus tur Hop On-Hop Off, para wisatawan dapat menikmati keindahan panorama sepanjang pesisir pantai di Cape Town.

JAKARTA, KOMPAS.com--Tali sejarah Indonesia dan Afrika Selatan yang terekam sejak keberadaan Syekh Yusuf abad 16, terus diperluas dengan mendirikan "Indonesia’ Heritage Corner" di  kampus International College South Africa, sebagai upaya promosi kedua bangsa berlandaskan fakta sejarah.

Konsul Jenderal RI Cape Town Sugie S. Harijadi dalam surat elektroniknya di Jakarta, Senin, mengatakan, Pojok Warisan Budaya Indonesia merupakan upaya mengangkat fakta sejarah tentang eratnya hubungan antara Jakarta dan Cape Town di masa lalu, sebagai dua kota pelabuhan penting dan besar sejak abad ke-16.

Dengan tema "The Ancient Link of Batavia and Cape Town" kegiatan yang berlangsung pada 19 Agustus 2011 itu menampilkan informasi mengenai Indonesia dan Jakarta beserta budaya masyarakat Betawi, sehingga diharapkan komunitas Indonesia di Afrika Selatan yang dikenal sebagai Cape Malay bisa  menelusuri akar nenek moyang mereka dengan jelas.

Sugie Harijadi mengatakan, Pojok Warisan Budaya Indonesia menampilkan informasi mengenai Indonesia dan Jakarta beserta budaya masyarakat Betawi, sehingga diharapkan para pengajar maupun mahasiswa International College South Africa (IPSA) serta komunitas Cape Malay yang bermukim di sekitar kampus bisa mempelajari lebih mendalam tentang Indonesia.

"Dengan demikian, semakin mengenal Indonesia dengan  baik, maka kecintaan kita terhadap Indonesia akan semakin terasa erat," katanya.

Peresmian diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh seorang pengajar IPSA, yang dilanjutkan dengan penandatanganan "Arrangement on the Establishment of the Indonesia’s Heritage Corner at IPSA"  oleh  Konsul Jenderal RI di Cape Town  dan Rektor IPSA, Dr. Salie Abrahams.

Dr. Salie Abrahams mengatakan, sudah lama pihaknya memimpikan ada semacam informasi sejarah yang kuat bagi masyarakat keturunan Indonesia Afrika Selatan dan bisa  melestarikan nilai-nilai luhur budaya nenek moyang masyarakat keturunan Indonesia yang dikenal sebagai  "Cape Malay  Community" di Cape Town.

Salie  menyampaikan harapannya tentang kemungkinan diselenggarakannya program "exchange visit of academics and students" antara IPSA dengan perguruan tinggi di Indonesia guna mempererat hubungan masyarakat Afrika Selatan, khususnya keturunan Indonesia dengan masyarakat Indonesia, yang merupakan asal usul para leluhur mereka sehingga dapat mengenal Indonesia lebih baik lagi.

Sementara itu, salah seorang pengajar IPSA, Dr. Abdul Kareem Toffar menyampaikan harapan kiranya berdirinya IHC merupakan babak baru bagi kerjasama yang lebih baik di masa mendatang antara KJRI di Cape Town sebagai wakil pemerintah Indonesia dengan IPSA.

Usai acara pembukaan, para undangan berkesempatan untuk mengagumi benda-benda dan membaca secara seksama berbagai informasi yang ditampilkan pada layar monitor di Pojok Warisan Budaya Indonesia yang dirancang dalam bentuk  replika rumah adat Betawi.

Informasi tersebut meliputi tentang Indonesia, sejarah antara Batavia dengan Cape of Good Hope, dan informasi mengenai Syekh Yusuf yang merupakan tokoh sentral bagi masyarakat keturunan Indonesia di Afrika Selatan.

Ditampilkan juga patung sepasang pengantin berpakaian tradisional masyarakat Betawi, replika Kapal Phinisi, dan sebuah Al Qur’an dengan terrjemahan dalam bahasa Indonesia.

Sebelum  mendirikan Pojok Warisan B udaya Indonesia di IPSA, KJRI Cape Town telah mendirikan Indones?a Heritage Corner (IHC) yang pertama di  Eastern Cape Muslim Heritage Museum, Port Elizabeth pada 22 April 2011.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono