Rabu, 23 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Juli 2014 | 02:29 WIB
Di Bawah Lindungan Ka'bah Muncul Lagi
Penulis: | Jumat, 19 Agustus 2011 | 22:12 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

istimewa
Di Bawah Lindungan Kabah

JAKARTA, KOMPAS.com--Masyarakat pencinta film nasional kembali bisa menikmati film "Di Bawah Lindungan Ka’bah" (DBLK) versi terbaru yang mulai ditayangkan Jumat di bioskop-bioskop nasional.

MD Entertaiment membuat Film bernuansa islami itu dengan mengambil latar belakang kota Padang, Sumatra Barat.

Film ini diangkat dari novel terkenal karya Buya Hamka dan pernah diproduksi tahun 1981 dengan sutradara Asrul Sani dengan menampilkan Cok Simbara dan Camelia Malik.

DBLK versi Asrul Sani itu menuai sukses di seluruh bioskop di Indonesia. Versi terbaru film Di Bawah Lindungan Ka’bah versi terbaru itu diproduseri Oleh Dhamoo Punjabi Manoj Punjabi dan disutradarai oleh Hanny R Saputra dengan menampilkan Laudya Cintya Bella (Zainab)  dan Herjunot Ali(Hamid).

Film ini juga didukung oleh pemain legendaris tanah air seperti Didi Petet (Haji Ja?far), Widyawati (Nyonya Jafar), Jenny Rachman (Ibu kandung Hamid).

DBLK menceritakan tentang Kesetiaan dan pengorbanan cinta seorang pemuda bernama Hamid yang lahir dari keluarga tidak mampu dan hanya dibesarkan oleh seorang ibu. Hamid bisa menyelesaikan pendidikannya di perguruan Thawalib, sebuah insitusi pendidikan agama Islam yang terkenal di era awal abad 20-an.

Anak sulung Haji Ja?far Zainab (Laudya Cintya Bella) jatuh hati terhadap Hamid, perasaan yang sama dirasakan oleh Hamid. Namun karena perbedaan ekonomi dan dibayangi utang budi, Ibu Hamid melarang anaknya berharap memiliki Zainab.

Hamid berjuang pergi ke Mekah demi Zainab sementara Zainab berjuang mempertahankan cintanya demi Hamid.

Film yang mengambil latar belakang kota Padang, Sumatra Barat, itu disesuaikan dengan novel aslinya pada tahun 1920 dengan setting rumah dan suasana perkampungan Minang yang ditata apik.

Sutradara Hanny mengaku mengalami kesulitan dalam pembuatan setting suasana tahun 1920. "Untuk mendapatkan nuansa tahun 1920’an banyak hal yang harus dibuat agar kesannya bisa terasa pada masa itu," kata Hanny.

Hanny meminta agar dibuatkan surau yang digunakan untuk shalat dan berkumpul masyarakat kala itu. "Itu kita bangun di lokasi syuting di Daerah Gonjong Seribu, Kabupaten Solok Selatan. Dibuat sangat detil, setelah itu dihibahkan ke penduduk sekitar," kata Hanny.

Dia juga membuat setting perkampungan yang  benar-benar menggambarkan perkampungan di kota Padang waktu itu.

Hanny juga berharap film ini menjadi sajian untuk Masyarakat dan sekaligus Film keluarga menjelang Idul Fitri dan dapat diambil Hikmahnya.

"Film ini adalah film romantis yang juga mengangkat tentang budaya dan agama. Semoga penonton yang menyaksikan film ini, bisa menangkapnya sebagai suatu yang utuh untuk kemudian membawa sesuatu untuk dibawa pulang," kata Hanny.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono