Novel Handoko Adinugroho
15. Penjemputan
PANGGILAN ke Polda ternyata hanya berlangsung sekali. Aku merasa bersyukur. Meskipun saat itu – ketika aku hendak pulang – polisi yang memberiku surat panggilan sempat mengatakan jika masih membutuhkan keteranganku, maka aku akan dipanggil kembali, namun ternyata sudah hampir sepekan, surat panggilan yang dimaksud tak lagi kunjung datang. Aku lega. Sebab dengan begitu, tuduhan terhadap suamiku pun kemungkinan besar telah reda.
Kepada ibu yang masih saja mencemaskan putranya, kukatakan bahwa tampaknya kini kehidupan telah kembali normal. Hidup telah berjalan seperti sedia kala. Tuduhan terhadap putranya kemungkinan juga tak dilanjutkan. Kuharap ibu tak lagi terlampau cemas. Yang paling penting sekarang adalah memohon agar Allah melindungi putranya, memberinya jalan terang dan lapang. Upayanya menegakkan agama bisa berlangsung tanpa aral yang melintanginya.
Bagaimanapun, suamiku – putranya – sedang menunaikan kewajiban. Bukan hanya kewajiban terhadap sesama muslim, melainkan juga kewajiban kepada Allah. Bukankah menegakkan agama termasuk ibadah?
Termasuk pula jihad fie sabilillah yang mampu meningkatkan derajat seorang mukmin?
Meskipun semua kupasrahkan kepada Allah, namun sebagai manusia, aku sempat terpukul oleh peristiwa-peristiwa yang sepertinya secara beruntun dikucurkan kepadaku. Betapa tidak, jika tanpa ada sebab, tanpa ada angin, tanpa ada tanda-tada, tiba-tiba aku mendapat surat panggilan dari Polda untuk menghadap dan memberikan keterangan.
Masih diliputi tanda tanya, rasa penasaran dan belum lagi kutunaikan panggilan itu, segerombolan orang menyerang rumah yang kutempati. Jika mendengar suaranya, mereka sepertinya menyerbu secara membabi buta. Sungguh tak pernah kusangka. Jika mereka bermaksud membuatku takut, mereka setengah berhasil. Sebab saat penyerangan terjadi, aku memang tak berani keluar dari kamar. Kendati sesudahnya, ketika kesadaranku sebagai seorang muslimah kembali kuraih, ketakutan itu serta merta sirna. Tak ada yang kutakuti di dunia ini. Ketakutanku hanya kutujukan kepada Allah.
Belum habis rasa penasaranku terhadap penyerangan itu, aku kembali dihadapkan pada masalah baru. Suamiku dituduh sebagai salah satu tokoh di balik peledakan bom di Bali. Sebuah tuduhan yang kuyakini lebih sebagai fitnah belaka dan sama sekali tak kupercaya. Aku justru lebih percaya jika diberi kabar suamiku wafat di saat sedang berdakwah dan mengibarkan bendera Islam. Sebab ia memang telah rela menyerahkan jiwa dan raganya kepada agama Allah ini. Tapi syukurlah, semua itu sudah berlalu. Aku benar-benar lega.
Kini perhatianku bisa kembali kucurahkan kepada Hanifah, putriku yang telah dititipkan dan dipercayakan pengasuhannya oleh Allah kepadaku. Aku bisa melanjutkan tugas suamiku mengajarinya mengaji dan mendidiknya tentang Islam. Aku juga mengajaknya sholat berjamaah di rumah, di salah satu kamar yang sejak tak lagi ditempati ibu yang setiap malam tidur bergabung dengan kami lantas sengaja kukosongkan dan kujadikan ruang khusus untuk sholat. Kendati masih terbata-bata, alhamdulillah, ia sudah mampu mengeja Al-Fatihah dan An-Nas.
Kasak-kusuk di luar tentang Pak Jafar juga sudah tak lagi kudengar. Sebagaimana keyakinanku, tanpa harus kubantah pun kabar itu niscaya akan punah dengan sendirinya, seiring perjalanan waktu. Tanpa bukti yang melandasinya, sebuah tuduhan niscaya tak akan menemukan wujudnya.
Kendati demikian, kekurangsukaan para tetangga terhadapku belum juga berubah. Tak apa. Justru aku merasa bersyukur diperlakukan semacam itu. Dengan demikian aku semakin bisa belajar menguasai diri, menguasai emosi sekaligus mengontrol tindak tandukku sendiri. Mereka memang mencelaku, namun sesungguhnya mereka pun membimbingku. Mengajariku.
Tak lupa, aku pun kian memperpanjang doa. Memohon perlindungan bagi seluruh anggota keluargaku, minta diberi kesabaran dalam mengarungi hidup, mohon keselamatan. Sholat malam tak pernah kulewatkan satu hari pun, kecuali di saat aku memang sedang tak diwajibkan melaksanakannya.
Bagiku apa yang terjadi selama sepekan terakhir kuanggap sebagai teguran terhadapku. Teguran yang kuterima lantaran kealpaanku, kenaifanku dan keserbaterbatasanku sebagai manusia. Aku yakin, di setiap cobaan, di setiap ujian, niscaya ada hikmah di baliknya. Hikmah yang bisa dipetik pun senantiasa sebuah keindahan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Dengan berbagai persoalan yang beruntun menimpaku, aku justru merasa semakin dekat dengan Allah. Aku merasa semakin berada dalam perlindungannya. Aku merasakan cinta kasih Allah yang tak ternilai maknanya. Aku merasa sebagai manusia pilihan. Itu harus kupertanggungjawabkan. Salah satunya dengan kian meningkatkan kualitas ibadahku, kian mempertebal rasa cintaku kepada Sang Pencipta, Sang Mahakasih.

